Jawaban singkat: sistem perwakilan proporsional membagikan kursi lembaga legislatif agar mendekati persentase suara yang diterima partai atau daftar calon. Namun, hasil akhirnya juga dipengaruhi jumlah kursi di daerah pemilihan, ambang batas, jenis daftar, dan rumus pembagian seperti D’Hondt, Sainte-Laguë, atau metode sisa terbesar.
Karena kursi tidak dapat dibagi menjadi pecahan, persentase suara hampir tidak pernah berubah menjadi kursi secara sempurna. Aturan pemilu menentukan bagaimana pembulatan dilakukan. Dua negara dengan perolehan suara yang sama dapat menghasilkan susunan kursi berbeda jika memakai rumus atau ukuran daerah pemilihan yang berbeda.
Sistem perwakilan proporsional dalam satu tabel
| Unsur | Pertanyaan yang dijawab | Dampak umum |
|---|---|---|
| Besaran daerah pemilihan | Berapa kursi diperebutkan di satu wilayah? | Lebih banyak kursi biasanya memberi ruang bagi partai kecil |
| Ambang batas | Berapa suara minimum agar ikut pembagian? | Ambang lebih tinggi mengurangi fragmentasi tetapi membuang lebih banyak suara |
| Rumus alokasi | Bagaimana pecahan kursi dibulatkan? | Rumus berbeda dapat memberi kursi terakhir kepada partai berbeda |
| Jenis daftar | Siapa menentukan calon terpilih? | Daftar terbuka memberi pemilih pengaruh lebih besar terhadap calon |
| Tingkat penghitungan | Suara dihitung per daerah atau nasional? | Kompensasi nasional dapat memperbaiki ketidakproporsionalan daerah |
Mengapa suara harus “diterjemahkan” menjadi kursi?
Pemilih memberikan suara dalam bilangan bulat, sedangkan lembaga legislatif hanya menyediakan kursi dalam jumlah terbatas. Jika sebuah partai mendapat 27,4% suara dalam pemilihan 10 kursi, bagian idealnya adalah 2,74 kursi. Tidak ada cara memberikan 0,74 kursi. Sistem harus memilih apakah partai itu menerima dua atau tiga kursi sambil memastikan jumlah seluruh kursi tetap tepat sepuluh.
Perwakilan proporsional berbeda dari sistem pluralitas satu kursi, tempat calon dengan suara terbanyak menang di setiap wilayah. Keduanya dapat demokratis, tetapi menerjemahkan pilihan pemilih dengan logika berbeda. Pembahasan jenis demokrasi memberi konteks lebih luas, sedangkan artikel sistem politik menjelaskan hubungan pemilu dengan lembaga negara.
Keluarga utama rumus pembagian kursi
1. Metode pembagi atau highest averages
Setiap partai menghasilkan deret hasil bagi. Kursi diberikan satu per satu kepada hasil bagi terbesar sampai semua kursi habis. D’Hondt memakai pembagi 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Sainte-Laguë standar memakai 1, 3, 5, 7, dan seterusnya.
D’Hondt cenderung sedikit menguntungkan partai besar dibandingkan Sainte-Laguë dalam konteks yang sama. Kata “cenderung” penting: jumlah partai, distribusi suara, jumlah kursi, dan ambang batas dapat mengubah hasil nyata.
2. Metode kuota dan sisa terbesar
Sistem ini menghitung kuota suara untuk satu kursi. Dengan kuota Hare, total suara sah dibagi jumlah kursi. Partai menerima kursi awal sebanyak kuota penuh yang dimilikinya. Kursi tersisa diberikan kepada sisa suara terbesar.
Kedua keluarga bertujuan mengalokasikan jumlah kursi yang bulat, tetapi jalur pembulatannya berbeda. Karena itu, tidak cukup berkata “pemilu ini proporsional”; pembaca perlu menanyakan formula yang dipakai.
Contoh hitung D’Hondt dan Sainte-Laguë
Bayangkan empat partai memperebutkan tujuh kursi. Partai A memperoleh 42.000 suara, B 31.000, C 18.000, dan D 9.000. Tidak ada ambang batas dalam contoh ini.
| Partai | Suara | D’Hondt: kursi | Sainte-Laguë: kursi |
|---|---|---|---|
| A | 42.000 | 4 | 3 |
| B | 31.000 | 2 | 2 |
| C | 18.000 | 1 | 1 |
| D | 9.000 | 0 | 1 |
Dalam D’Hondt, tujuh hasil bagi tertinggi berasal dari A/1, B/1, A/2, C/1, B/2, A/3, dan A/4. Hasilnya A mendapat empat kursi. Pada Sainte-Laguë, pembagi ganjil membuat hasil bagi pertama partai D tetap cukup tinggi untuk merebut kursi ketujuh. Contoh ini tidak membuktikan satu rumus selalu lebih baik; ia menunjukkan bahwa aturan pembulatan membawa pilihan nilai.
Ambang batas: menyaring atau menghilangkan suara?
Ambang batas menetapkan persentase minimum agar partai masuk ke pembagian kursi. Tujuannya sering untuk membatasi fragmentasi dan membantu pembentukan pemerintahan yang lebih stabil. Namun, suara untuk partai di bawah ambang tidak menghasilkan kursi. Persentase kursi kemudian dihitung dari kelompok suara yang memenuhi syarat, sehingga partai yang lolos dapat menerima bagian kursi lebih besar daripada bagian mereka dari seluruh suara.
Ambang formal bukan satu-satunya penghalang. Daerah dengan hanya tiga kursi memiliki ambang efektif yang tinggi karena partai membutuhkan porsi suara besar untuk memperoleh satu kursi. Sebaliknya, daerah dengan 20 kursi memungkinkan bagian suara yang lebih kecil menghasilkan kursi.
Besaran daerah pemilihan sering lebih penting daripada nama rumus
Besaran daerah pemilihan berarti jumlah kursi yang dipilih di satu wilayah, bukan jumlah penduduknya. Daerah satu kursi tidak dapat menghasilkan proporsionalitas antarkelompok dalam wilayah tersebut. Ketika jumlah kursi bertambah, pembagian lebih halus menjadi mungkin.
Namun, daerah sangat besar dapat melemahkan hubungan geografis antara pemilih dan wakil. Desain pemilu menyeimbangkan proporsionalitas, keterwakilan lokal, kesederhanaan, akuntabilitas, dan kemungkinan membentuk pemerintahan. International IDEA menekankan bahwa sistem tidak boleh dinilai hanya dari satu formula.
Daftar tertutup, terbuka, dan semi-terbuka
- Dalam daftar tertutup, pemilih memilih partai; urutan calon terutama ditentukan partai.
- Pada daftar terbuka, pemilih dapat memengaruhi calon mana dari daftar yang memperoleh kursi.
- Sistem semi-terbuka memakai urutan partai, tetapi suara preferensi dapat mengubahnya jika syarat tertentu terpenuhi.
Rumus menjawab berapa kursi untuk setiap partai. Aturan daftar menjawab siapa yang mengisi kursi itu. Artikel jenis pemilu dan penjelasan lembaga legislatif membantu membedakan kedua pertanyaan tersebut.
Cara menilai apakah hasil cukup proporsional
Mulailah dengan membandingkan persentase suara dan kursi. Selisih kecil menunjukkan hasil dekat dengan proporsi suara. Namun, satu angka nasional dapat menyembunyikan ketimpangan antardaerah, suara yang terbuang, atau kursi tambahan dalam sistem campuran.
- Periksa suara sah setiap partai.
- Catat partai yang tidak lolos ambang.
- Identifikasi jumlah kursi per daerah.
- Ulangi rumus alokasi secara transparan.
- Bandingkan persentase suara dengan persentase kursi.
- Uji apakah perubahan kecil suara mengubah kursi secara ekstrem.
Perhitungan ini menggunakan gagasan dasar dari statistika matematika: persentase, pembagian, peringkat, dan pemeriksaan sensitivitas.
Kesalahan umum saat membaca hasil pemilu
- Menganggap 30% suara pasti berarti 30% kursi. Kursi bulat, ambang, dan daerah pemilihan mencegah kecocokan sempurna.
- Membandingkan rumus tanpa jumlah kursi yang sama. Besaran daerah dapat mengubah efek formula.
- Mengabaikan suara yang tidak lolos. Kursi dibagi di antara peserta yang memenuhi aturan.
- Menyebut semua sistem daftar sama. Daftar terbuka dan tertutup memberi kendali berbeda kepada pemilih.
- Menilai hanya partai pemenang. Keadilan representasi terlihat dari keseluruhan distribusi.
- Mengira rumus netral tanpa pilihan nilai. Setiap desain menyeimbangkan proporsionalitas, stabilitas, keterwakilan lokal, dan kesederhanaan.
Kuis singkat
- Apa tujuan dasar sistem perwakilan proporsional?
Jawaban: Mendekatkan bagian kursi suatu partai dengan bagian suaranya. - Mengapa hasil tidak pernah benar-benar sempurna?
Jawaban: Kursi harus berupa bilangan bulat dan jumlahnya terbatas. - Pembagi apa yang dipakai D’Hondt?
Jawaban: 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. - Pembagi apa yang dipakai Sainte-Laguë standar?
Jawaban: 1, 3, 5, 7, dan seterusnya. - Apa fungsi ambang batas?
Jawaban: Menentukan dukungan minimum agar partai ikut pembagian kursi. - Apa arti besaran daerah pemilihan?
Jawaban: Jumlah kursi yang diperebutkan dalam satu daerah. - Apa perbedaan rumus dan jenis daftar?
Jawaban: Rumus menentukan jumlah kursi partai; daftar menentukan calon yang mengisinya. - Mengapa hasil bagi harus diperingkat?
Jawaban: Kursi diberikan secara berurutan kepada nilai tertinggi sampai habis.
Sumber tepercaya
- International IDEA: Electoral System Design Handbook
- European Parliament: Understanding the D’Hondt Method
- Elections New Zealand: How MPs Are Elected
Latihan audit yang lebih teliti
Untuk menguji hasil, ubah satu unsur pada satu waktu. Pertahankan jumlah suara, lalu bandingkan D’Hondt dan Sainte-Laguë. Setelah itu, pertahankan rumus tetapi naikkan jumlah kursi. Cara ini menunjukkan apakah perubahan muncul dari formula, besaran daerah, atau ambang batas. Catat pula kursi terakhir yang berpindah karena di situlah perbedaan aturan paling mudah terlihat.
Kesimpulan
Sistem perwakilan proporsional bukan satu rumus tunggal. Ia adalah rangkaian keputusan tentang daerah pemilihan, ambang, formula, dan daftar calon. Pembaca yang memahami pembagi, kuota, dan pembulatan dapat memeriksa hasil sendiri serta membedakan ketidakproporsionalan matematis dari pilihan desain yang disengaja.
Artikel pendamping berbahasa Inggris akan ditautkan setelah diterbitkan.
