Sejarah Kerajaan Mataram (1588–1681) di Jogja

3 min read

kerajaan mataram

Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram adalah kerajaan Jawa Hindu-Budha yang berkembang antara abad ke-8 dan ke-10. Terletak di Jawa Tengah dan kemudian di Jawa Timur. Didirikan oleh Raja Sanjaya, kerajaan itu diperintah oleh dinasti Syailendra. Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim.

Pada awal abad ke-19, ditemukannya banyak sekali reruntuhan-reruntuhan besar seperti Candi Borobudur, Candi Sewu dan Candi Prambanan. Yang mendominasi lanskap Kedu dan Dataran Kewu di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Hal ini telah menarik perhatian beberapa sejarawan dan sarjana di kolonial Hindia Belanda. Ini telah mendorong studi arkeologi untuk mengungkap sejarah peradaban kuno ini.

Batu Yoni Peninggalan Mataram Kuno di Indramayu id
Batu Yoni (tinggalan arkeologis yang berbentuk kubus batu dengan cerat di salah satu sisinya) peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di Indramayu (Jawa Barat). Cirebon.Tribunnews, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Tidak ada catatan tertulis yang lengkap yang dimana menuliskan kerajaan Mataram bertahan di Jawa kecuali di beberapa prasasti yang ditulis di atas batu atau pelat tembaga. Prasasti ini paling sering dituliskan akta politik dan agama dari para penguasa-penguasa jaman dulu.

Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC pada masa-masa akhir menjelang keruntuhannya.

Peta Kerajaan Mataram (Mataram Kuna)

Mataram id
Peta Kerajaan Mataram (juga dikenal sebagai “Mataram Kuna”), kerajaan Hindu-Buddha kuna di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar abad ke-8 hingga ke-11 Masehi. Peta ini menampilkan dua periode Kerajaan Mataram: Periode Jawa Tengah dan Periode Jawa Timur. Gunawan Kartapranata, Syzyszune, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons

Pembentukan Sima

Tema yang paling umum yang disebutkan dalam prasasti adalah pembentukan Sima (tanah budidaya padi pajak diakui melalui dekrit kerajaan) dan kadang-kadang beberapa bagian atau seluruh pajak yang dikumpulkan dari tanah Sima ini ditunjuk untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan bangunan keagamaan.

  • Kerajaan Mataram (Jogja) abad 16 Masehi (Kerajaan Islam).
  • Raja pertama: Suto Wijoyo (Panemabahan Senopati).
  • Raja terkenal: Sultan Agung.

Kebangkitan Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram bangkit pada abad ke-16 di Jawa dan bertahan selama periode kolonial awal hingga abad ke-18. Pertama, perdagangan Portugis dan kemudian Belanda mendominasi selama periode ini. Perusahaan Hindia Timur Belanda melemah dan pada akhirnya mengambil alih Kerajaan Mataram dengan membaginya menjadi negara-negara bawahan sekitar tahun 1750. Kemudian di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda.

MUS Koin emas Kerajaan Mataram-Syailendra 850; 3
Koin emas Kerajaan Mataram-Syailendra pada tahun 850. Museum Uang Sumatera, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Di Kerajaan Mataram, petani diperintah oleh bangsawan atau bangsawan darat yang setia kepada raja. Raja membagikan tanah kepada beberapa anggota keluarga. Kota-kota pelabuhan diperintah oleh para pangeran meskipun perdagangan di sana didominasi orang-orang Cina, Melayu, dan India. Pola ini bertahan melalui periode kolonial.

Selain kaum tani ada dua klausul utama: priyayi, keturunan bangsawan administrasi pra-kolonial, yang bertugas sebagai birokrat; dan kelas bangsawan yang bisa melacak leluhur mereka untuk penguasa Kerajaan Mataram.

Terpecahnya Kerajaan Mataram

Kurang stabilnya pemerintahan Amangkurat I

Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Plered (1647), tidak jauh dari Karta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhunan” atau “Yang Dipertuan”). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan.

Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi.

Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura(1680), sekitar 5 km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.

Mataram memiliki 2 raja

Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja.

Akibatnya Mataram memiliki 2 raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi “king in exile” hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon (Sri Lanka).

Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III

Setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755.

Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.


Sejarah Kerajaan Majapahit (1293-1500) – Dari Awal Sampai Jatuhnya


Bacaan Lainnya

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Sumber: Global BritanicaFacts and Details

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

2 Replies to “Sejarah Kerajaan Mataram (1588–1681) di Jogja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.