Akuntansi FIFO dan LIFO – Beserta Contoh Soal dan Jawaban

Akuntansi FIFO dan LIFO

Metode akuntansi FIFO dan LIFO merupakan sarana pengelolaan persediaan dan masalah keuangan perusahaan yang berkaitan dengan persediaan barang yang dihasilkan, suku cadang, bahan baku, komponen atau saham feed.

FIFO singkatan dari First in first out atau dalam bahasa Indonesia, Pertama masuk pertama keluar yang berarti bahwa persediaan yang pertama kali masuk itulah yang pertama kali dicatat sebagai barang yang dijual.

LIFO singkatan dari Last in first out atau dalam bahasa Indonesia, Terakhir masuk pertama keluar yang berarti bahwa persediaan yang terakhir masuk adalah barang yang pertama kali dicatat sebagai barang yang dijual. Sejak sekitar tahun 1970-an, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat memilih untuk menggunakan sistem LIFO untuk mengurangi pajak pada saat terjadi inflasi.

Perbedaan antara biaya inventarisasi yang dihitung berdasarkan metode FIFO dan metode LIFO disebut cadangan LIFO. Cadangan ini pada dasarnya adalah jumlah yang kena pajak penghasilan suatu entitas yang telah ditangguhkan dengan menggunakan metode LIFO.


Harga Pokok Penjualan Metode FIFO

Perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS) Metode FIFO

FIFO yang merupakan akronim dari First In First Out, adalah barang dagang yang masuk lebih dulu, itulah yang harus dijual lebih dulu.

Contoh Soal FIFO:

Masih dengan contoh soal yang sama dengan sebelumnya, pada Harga Pokok Penjualan metode rata rata (average method):

UD Maju Jaya yang merupakan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000.

Tampak beberapa transaksi yang terlihat pada buku catatan UD Maju Jaya seperti berikut:

Date Transaksi Qty Unit Price Jumlah
01-Apr Penjualan 40 4.500 180.000
10-Apr Pembelian 30 3.100 93.000
10-Apr Penjualan 65 4.650 302.000
20-Apr Pembelian 25 3.200 80.000
30-Apr Pembelian 40 3.250 130.000
30-Apr Penjualan 25 4.875 121.875

Berikut adalah rangkumannya

Qty Jumlah
Total Pembelian 95 303.000
Total Penjualan 130 604.000

       * Agar lebih mudah total penjualan yang 603.875 kita bulatkan menjadi 604.000

Transaksi pada 1 April:
Karena persediaan barang pada tanggal 1 April 2015 hanya bersaldo awal 100 kg
Maka 40 kg dijual menggunakan unit cost
Saldo Awal = Rp 300.000 / 100
= Rp 3.000
Total COGS 1 April = Rp  3.000 x 40 kg
= Rp 120.000
Persediaan Akhir = Rp 300.000 – 120.000
= Rp 180.000
Transaksi 10 April:
  1. Pembelian barang dagang 30 kg senilai Rp 3.100 per kg, total pembelian : Rp 93.000
  2. Terjual barang dagang 65 kg.
Unit cost yang mana yang digunakan?
Karena pada 01 April telah terjual 40 kg, sisa barang dagang yang sebelumnya menggunakan unit price hanya sisa 60 kg, dan tidak cukup untuk menutupi transaksi penjualan yang sebanyak 65 kg, jadi:
  • 60 kg barang dagang menggunakan unit price Rp 3.000
  • 5 kg barang dagang mempergunakan unit price Rp 3.100
Total COGS 10 April 2015:
60 x Rp 3.000 = Rp180.000
5 x Rp 3.100 = Rp  15.000 (+)
Total COGS Rp195.500

Apabila dibuatkan tabel, maka akan tampak seperti ini:

FIFO METHOD
Date/Acc 01-Apr 10-Apr 10-Apr 20-Apr 30-Apr Total
Opening Balance Qty 100 60 30 25 50
Rp 300.000 180.000 93.000 77.500 157.500
Purchase Qty 30 25 40 95
U/Prx 3.100 3.200 3.250
Rp 93.000 80.000 130.000 303.000
Sold (COGS) Qty 40 60 5 25 130
U/Prx 3.000 3.000 3.100 3.100
Rp 120.000 180.000 15.500 77.500 393.000
Closing Balance Qty 60 30 25 50 65 65
Rp 180.000 93.000 77.500 157.500 210.000 210.000
Summary
Opening Balance 100 300.000
Purchase 95 303.000
Sold (COGS) 130 393.000
Closing Balance 65 210.000
Notes:
Coba perhatikan summary-nya, Bila hendak diuji, silahkan menggunakan rumus COGS.

Akuntansi FIFO dan LIFO


Harga Pokok Penjualan Metode LIFO dan Kajian Perpajakan

Harga Pokok Penjualan Metode LIFO 

LIFO, yang berakronim Last In First Out, adalah barang yang terakhir masuk, akan dijual paling awal (lebih dahulu). Aneh? bisa dibilang iya, karena dengan metode ini akan membuat HPP akan menjadi tidak realistis. Coba dipikirkan, biaya yang dibebankan mempergunakan cost dari pembelian yang terakhir dan tidak memperhitungkan bahwa ada kemungkinan barang dagang yang dijual bercampur antara persediaan barang yang menggunakan harga yang lama dengan persediaan barang baru dengan harga yang berbeda (harga baru). di Amerika, metode LIFO ini tidak dianjurkan untuk diimplementasikan dan dianggap sebuah praktek yang ilegal, pun bila ada yang menggunakan metode LIFO akan diawasi dengan sangat ketat oleh pemerintah disana.

Mari kita coba untuk menghitung Harga Pokok Penjualan atau HPP dengan metode LIFO ini.

UD Maju Jaya yang merupakan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000. tampak beberapa transaksi yang terlihad pada buku catatan UD Maju Jaya seperti berikut:
Date Transaksi Kuantitas Unit Price Jumlah
01-Apr
Penjualan
40 4.500 180.000
10-Apr
pembelian
30 3.100 93.000
10-Apr
Penjualan
66 4.650 302.000
20-Apr
pembelian
25 3.200 80.000
30-Apr
pembelian
40 3.250 130.000
30-Apr
Penjualan
25 4.875 121.875

Berikut adalah rangkumannya:

Rangkuman
Total Pembelian 95 303.000
Total Penjualan 130 604.000
Transaksi pada 1 April:
Kita bisa mengetahui hasilkan akan sama dengan metode metode sebelumnya, jadi kita lewati sajaTransaksi per 10 April 2015:
Opening Balance (saldo awal) 60 kg dengan unit cost Rp 3.000
Purchase (pembelian) 30 kg dengan harga Rp 3.100 per kg, jadi total pembelian sebesar Rp 93.000
yang berhasil dijual sebanyak 65 kg, unit cost mana yang digunakan?

dengan konsep LIFO, maka :
30 kg x Rp 3.100 = Rp   93.000
35 kg x Rp 3.000 = Rp 105.000
                               ————— (+)
       Total COGS =  Rp 198.000
dan bila dibuatkan tabel, akan nampak seperti dibawah ini:
LIFO METHOD
Date/Acc 01-Apr 10-Apr 10-Apr 20-Apr 30-Apr Total
Opening Balance Qty 100 60 60 25 50 50
Rp 300.000 180.000 180.000 77.500 155.000 155.000
Purchase Qty 30 25 40 95
U/Prx 3.100 3.200 3.250
Rp 93.000 80.000 130.000 303.000
Sold (COGS) Qty 40 30 35 25 130
U/Prx 3.000 3.100 3.000 3.200
Rp 120.000 93.000 105.000 80.000 398.000
Closing Balance Qty 60 60 50 50 65 65
Rp 180.000 180.000 155.000 157.500 205.000 205.000
Summary :
Opening Balance 100 300.000
Purchase 95 303.000
Sold (COGS) 130 398.000
Closing Balance 65 205.000

Notes: Jangan Lupa perhatikan summary-nya juga.


Kesimpulan Akuntansi FIFO dan LIFO

Dengan mempergunakan tiap masing masing metode, baik metode rata-rata, metode FIFO, metode LIFO pada postingan sebelumnya, dengan soal yang sama, hasilnya:
Summary-nya seperti berikut, mari kita coba perhatikan pada summary-nya masing masing:
Summary Average Method FIFO Method LIFO Method
Qty Value Qty Value Qty Value
Opening Balance 100 300.000 100 300.000 100 300.000
Purchase 96 303.000 96 303.000 96 303.000
Sold (COGS) 130 396.565 130 393.000 130 398.000
Closing Balance 65 206.435 65 210.000 65 205.000
Opening Balance (Saldo Awal) tetap sama:
Qty = 100 kg – Rp 300.000
Purchase (Pembelian) tetap sama:
Qty = 95 kg – Rp 303.000
Kuantitas HPP sama yakni 135 kg, tetapi value (nilainya) berbeda:
Average : 396.565
FIFO : 393.000
LIFO : 398.000
Closing Balance (Saldo Akhir) Qty sama, yakni 65 kg namun nilainya berbeda-beda:
Average : 206.435
FIFO : 210.000
LIFO : 205.000

Kajian Perpajakan

Akuntansi Perpajakan bisa memainkan HPP, Harga Pokok Penjualan (COGS) bersifat sangat vital pengaruhnya dalam besaran perhitungan pajak. nilai besar kecilnya PPh yang akan di tanggung nantinya sangat dipengaruhii oleh besaran HPP.

Dengan angka penjualan yang sama, makin besar harga HPP nya, maka laba yang diperoleh semakin kecil, dan sudah barang tentu pajak yang harus ditanggung akan makin kecil juga.

Berikut beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan:

  • Freight, elemen pembentuk HPP, pengakuan biaya ini harus sesuai
  • Discount dan Retur Pembelian:

Discount atau potongan harga haruslah dihitung dengan semestinya, apabila lupa dalam menghitung potongan harga, maka akibatnya pembebanan HPP akan jadi lebih tinggi dari yang semestinya. HPP yang lebih tinggi akan mengakibatkan pajak yang dibayarkan tentu lebih rendah, dan apabila ditjend pajak tidak mengetahui hal ini, ya bersukurlah, namun apabila ketahuan,makan hal ini menjadi koreksi ketika pemeriksaan.

Metode dalam Penentuan Harga Pokok Penjualan dan Penilaian Persediaan

Apabila diperhatikan dari kesimpulan tadi, bisa dilihat dengan jelas bahwa metode LIFO adalah metode yang menghasilkan HPP yang paling tinggi, ini karena harga pembelian trendnya kan akan terus meningkat. perlu diingat, dalam konsep LIFO, biaya unit yang digunakan sebagai dasar perhitungan HPP merupakan harga pembelian yang palint terkini (most recent).

Kita semua juga tahu, dinegara ini tingkat inflasi terus cenderung menigkat dari waktu ke waktu. jarang sekali ada kejadian sebuah harga mengalami penurunan. dengan demikian, metode LIFO adalah metode yang akan memghasilkan PPh yang paling kecil!

HPP yang paling tinggi berikutnya ialah Metode Rata Rata (Average Method), hampir mendekati metode LIFO, hanya saja, nilai yang diambil adalah nilai tengahnya.


Contoh Soal Metode FIFO

Pada hakikatnya metode FIFO ( Firs In First Out) ini maksudnya ialah persediaan barang masuk pertama makan akan keluar pertama, sehingga untuk persediaan akhir dinilai dengan perolehan yang terakhir dibeli (masuk).

Sebenarnya metode ini dianggap memiliki dampak terhadap nilai aktiva yang dibeli oleh perusahaan dan cenderung menghasilkan persediaan yang tinggi nilainya.

Metode Penilaian Persediaan Fifo

Sebagai contoh ilustrasi tentang metode penilaian persediaan FIFO dalam sistem persediaan periode, disini akan diberikan contoh ayat jurnal persediaan awal dan pembelian barang dagang pada bulan Januari 2018 seperti berikut :

Januari 1 Persediaan 100 Unit Biaya Rp 20.000 Per Unit Rp 2.000.000
10 Persediaan 80 Unit Biaya Rp 21.000 Per Unit Rp 1.680.000
30 Persediaan 100 Unit Biaya Rp 22.000 Per Unit Rp 2.200.000
Tersedia untuk dijual 280 Rp 5.880.000

Perhitungan fisik yang dilakukan pada tanggal 31 Januari 2018 ternyata ada sisa persediaan sebanyak 150 unit.

Dengan cara memakai metode FIFO, biaya sisa dari persediaan akhir pada akhir periode bersumber dari biaya perolehan yang paling akhir.

Biaya 150 unit dalam persediaan per 31 Januari 2018 senilai Rp 3.250.000 dari biaya barang tersedia untuk dijual senilai Rp 5.880.000 sehingga diperoleh harga pokok penjualan senilai Rp 2.630.000

Biaya Paling akhir, pembelian 30 Januari 2018 100 Rp 22.000 Rp 2.200.000
Biaya paling akhir selanjutnya, pembelian 10/1/2018 50 Rp 21.000 Rp 1.050.000
Persediaan 31 Januari 2018 150 Rp 3.250.000

Setelah itu dengan mengurangkan biaya persediaan per 31 Januari 2018 senilai Rp 3.250.000 atas biaya barang yang tersedia untuk dijual senilai Rp 5.880.000 sehingga hasil yang diperoleh sebesar Rp 2.630.000.

Sehingga akan diperlihatkan seperti tabel dibawah ini:

Persediaan awal, 1 Januari 2018Pembelian (Rp 1.680.000 + Rp 2.200.000)

Biaya Barang tersedia untuk dijual

Persediaan akhir 31 Januari 2018

Harga Pokok Penjualan (HPP)

Rp 2.000.000Rp 3.880.000
Rp 5.880.000Rp 3.250.000
Rp 2.630.000

Persediaan akhir 31 Januari 2018 senilai Rp 3.250.000 asalnya dari biaya perolehan paling akhir. HPP senilai Rp 2.630.000 asalnya dari biaya persediaan awal serta biaya paling awal.

Penggunaan Metode Penilaian Persediaan FIFO

Pada saat metode penilaian persediaan FIFO dipakai selama periode inflasi atau terjadi kenaikan harga-harga secara umum, biaya unit yang lebih awal akan lebih rendah apabila dibandingkan dengan biaya unit yang  paling akhir, seperti yang sudah di tunjukkan dalam contoh di atas.

Oleh sebab itu dengan memakai metode FIFO akan menghasilkan laba kotor yang lebih tinggi.

Namun, persediaan harus diganti dengan harga yang lebih tinggi dari pada yang diperlihatkan oleh HPP (Harga Pokok Penjualan).


Contoh Soal Metode Lifo

Pada hakikatnya metode LIFO (Last In First Out) maksudnya bahwa persediaan barang yang diterima terakhir masuk maka akan dijual pertama, sehingga penilaian perolehan persediaan akhir berdasarkan dari nilai perolehan ang pertama (awal) masuk (beli).

Sehingga dalam penggunaanya metode LIFO dianggap berdampak pada nilai aktiva yanng rendah bagi perusahaan dan cenderunng menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah juga.

Ketika sudah mulai meneggunakan metode persediaan LIFO, sisa biaya persediaan pada akhir periode bersumber dari biaya perolehan paling awal.

Sesuai data seperti contoh metode FIFO diatas, biaya 150 unit dalam persediaan akhir per 31 Januari 2018 akan dihitung seperti berikut:

Perseidaan awal, 1 Januari 2018 100 Rp 22.000 Rp 2.000.000
Biaya paling awal selanjutnya, pembelian 10/1/2018 50 Rp 21.000 Rp 1.050.000
Persediaan 31 Januari 2018 150 Rp 3.050.000

Dengan Mengurangkan biaya persediaian per 31 Januari 2018 senilai Rp 3.050.000 berasal dari biaya barang untuk dijual senilai Rp 5.880.000 maka akan diperoleh harga pokok penjualan (HPP) sebesar Rp 2.830.000

Coba anda perhatikan tabel dibawah ini ;

Persediaan awal, 1 Januari 2018Pembelian (Rp 1.680.000 + Rp 2.200.000)

Biaya Barang tersedia untuk dijual

Persediaan akhir 31 Januari 2018

Harga Pokok Penjualan (HPP)

Rp 2.000.000Rp 3.880.000
Rp 5.880.000Rp 3.050.000
Rp 2.830.000

Persediaan akhir per 31 Januari 2018 senilai Rp 3.050.000 sumbernya dari biaya perolehan paling awal.

Jumlah Harga Pokok Penjualan (HPP) senilai Rp 2.830.000 sumbernya dari biaya persediaan paling akhir.

Penggunaan Metode Penilaian Persediaan Lifo

Ketika metode LIFO sudah dipakai selama periode inflasi atau kenaikan harga-harga hasilnya ialah kebalikan dengan dua metode yang lain.

Seperti yang diperlihatkan pada contoh diatas, metode LIFO akan menghasilkan jumlah yang lebih tinggi lagi untuk HPP (Harga Pokok Penjualan)

Kemudian untuk jumlah yang lebih rendah untuk laba kotor serta jumlah yang lebih rendah lagi untuk persediaan akhir, jika dibandingkan dengan metode lainya.

Pengaruh ini disebabkan oleh biaya perolehan unit yang paling akhir kurang lebih tidak ada yang berbeda dengan biaya penggantinya.

Pada periode inflasi, biaya unit yang lebih baru akan semakin tinggi jika dibandingkan dengan harga unit lebih awal.

Maka dari itu, bisa dibilang kalau metode LIFO hampir sukses membandingkan biaya saat ini dengan pendapatan sekarang ini.


Contoh Soal Average Methode

Metode average atau yang sering dikenal dengan sebutan metode rata-rata, dimana dalam metode ini dijelaskan bahwa nilai dari persediaan akhir akan menghasilkan antara nilai persediaan dengan metode FIFO.

Dengan memakai metode ini  sehingga akan menimbulkan dampak pada laba kotor dan harga pokok penjualan.

Biaya unti rata-rata tertimbang yang sama dipakai guna menghitung biaya persediaan pada akhir periode.

Pada perusahaan yang mempunyai barang penjualan yang terdiri dari berbagai pembelian unit yang identik, adalam penerapan metode biaya rata-rata hampir sama dengan dengan arus fisik barang.

Untuk bisa menghitung biaya unti rata-rata tertimbang yakni dengan membagi total biaya unti setiap barang yang tersedia untuk dijual selama periode tertentu dengan jumlah unit barang terkait.

Dengan memakai data biaya yang sama dengan contoh padaa metode LIFO dan juga FIFO, maka biaya rata-rata 280 unit senilai Rp 21.000, dan untuk biaya unit dalam persediaan akhir, dihitung seperti dibawah ini:

Biaya unit rata-rata : Rp 5.880.000 / 280 unit = Rp 21.000

Persediaan 31 Januari 2018, 150 unit dengan biaya Rp 21.000 per unit = Rp 3.150.000

Mrngurangi biaya persediaan per 31 Januari 2018 senilai Rp 3.150.000 dari biaya barang tersedia untuk dijual sebesar Rp 5.880.000 akan memperoleh harga pokok penjualan (HPP) sebesar Rp 2.730.000, seperti tabel dibawah ini:

Persediaan awal, 1 Januari 2018Pembelian (Rp 1.680.000 + Rp 2.200.000)

Biaya Barang tersedia untuk dijual

Persediaan akhir 31 Januari 2018

Harga Pokok Penjualan (HPP)

Rp 2.000.000Rp 3.880.000
Rp 5.880.000Rp 3.150.000
Rp 2.830.000

Penggunaan Metode Penilaian Persediaan Biaya Rata-rata

Metode ini pada dasaranya merupakan hasil kompromi antara metode LIFO serta metode FIFO. Pengaruh kecenderungan harga di dapat dari rata-rata dalam menghitung HPP serta persediaan akhir.

Contoh ilustrasi, urutan biaya unit yang secara keseluruhanya dibalik dengan biaya unit seperti yang disajikan dalam contoh di atas, tentu tidak akan bisa memgpengaruhi harga pokok penjualan, laba kotor maupun persediaaan akhir yang dilaporkan.

Perhatikan Contoh Soal Dibawah ini :

Contoh Soal: Unit satuan barang yang sudah tersedia guna dijual selama tahun berjalan yakni seperti berikut:

Januari 1 Persediaan 6 Unit Biaya Rp 50.000 Per Unit Rp 300.000
Maret 20 Persediaan 14 Unit Biaya Rp 55.000 Per Unit Rp 770.000
Oktbr 30 Persediaan 20 Unit Biaya Rp 62.000 Per Unit Rp 1.240.000
Tersedia untuk dijual 40 Rp 2.310.000

Ada 16 unit barang dalam perhitungan fisik persediaan per 31 Desember. Memakai sistem periodik untuk bisa menentukan persediaan.

Selanjutnya hirunglah biaya persediaan tersebut memakai : 1) Metode FIFO, 2) Metode LIFo, 3) Metode biaya rata-rata.

Jawab Soal :

(1) Metode FIFO

= 16 Unit x Rp 62.000 = Ro 992.000

(2) Metode LIFO

= (6 Unit x Rp 50.000) + (10 unit x Rp 55.000) = Rp 850.000

(3) Metode Rata-rata

= Rp 2.310.000 / 40 = Rp 57.750

= 16 unit x Rp 57.750 = Rp 924.000

Kesimpulan :

Pada pembahasan dari ketiga metode tadi arus biaya yang berbeda diasumsikan untuk masing-masing dari tiga metode alternatif biaya persediaan.

Coba anda perhatikan kalau biaya unitnya masih tetap stabil, semua metode akan memperoleh hasil yang sama.

Namun dikarenakan harga kebutuhan yang tidak stabil dan terus berubah-rubah, tiga metode diatas biasanya akan mendapatkan jumlah yang berbeda untuk :

  • Haarga Pokok Penjualan (HPP) untuk periode berjalan
  • Laba bersih dan laba kotor untuk periode tersebut
  • Persediaan akhir

Contoh Soal Akuntansi FIFO dan LIFO – METODE PERHITUNGAN PERSEDIAAN FIFO, LIFO, AVERAGE DENGAN SISTEM PERPETUAL (SOAL & JAWABAN)

PT ABCD mencatat persediaan menggunakan sistem perpetual, berikut adalah data persediaan selama bulan Januari 2019 :

Tanggal Keterangan Unit Harga / Unit Total
Januari 1 Awal 20 2.500 50.000
5 Beli 10 2.300 23.000
7 Jual 15 2.600 39.000
12 Jual 9 2.400 21.600
15 Beli 7 2.700 18.900
17 Beli 5 2.550 12.750
20 Jual 13 2.800 36.400
23 Beli 10 2.750 27.500
25 Jual 3 2.850 8.550
31 Beli 4 2.900 11.600

DIMINTA :

1. Hitunglah saldo persediaan akhir, harga pokok penjualan, laba/rugi kotor dengan metode FIFO.
2. Hitunglah saldo persediaan akhir, harga pokok penjualan, laba/rugi kotor dengan metode LIFO.
3. Hitunglah saldo persediaan akhir, harga pokok penjualan, laba/rugi kotor dengan metode AVERAGE.

JAWABAN

1. Menggunakan Metode FIFO

Tanggal IN OUT SALDO
Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total
01-Jan-08 20 2.500 50.000
05-Jan-08 10 2.300 23.000 20 2.500 50.000
10 2.300 23.000
07-Jan-08 15 2.500 37.500 5 2.500 12.500
10 2.300 23.000
12-Jan-08 5 2.500 12.500 6 2.300 13.800
4 2.300 9.200
15-Jan-08 7 2.700 18.900 6 2.300 13.800
7 2.700 18.900
17-Jan-08 5 2.550 12.750 6 2.300 13.800
7 2.700 18.900
5 2.550 12.750
20-Jan-08 6 2.300 13.800 5 2.550 12.750
7 2.700 18.900
23-Jan-08 10 2.750 27.500 5 2.550 12.750
10 2.750 27.500
25-Jan-08 3 2.550 7.650 2 2.550 5.100
10 2.750 27.500
31-Jan-08 4 2.900 11.600 2 2.550 5.100
10 2.750 27.500
4 2.900 11.600
Saldo persediaan akhir = 5.100 + 27.500 + 11.600
= 44.200
Harga pokok penjualan = 37.500 + 12.500 + 9.200 + 13.800 + 18.900 + 7.650
= 99.550
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan = 105.550 (39.000 + 21.600 + 36.400 + 8.550)
HPP (99.550)
Laba Kotor =    6.000

2. Menggunakan Metode LIFO

Tanggal IN OUT SALDO
Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total
1-Jan-08 20 2.500 50.000
5-Jan-08 10 2.300 23.000 20 2.500 50.000
10 2.300 23.000
7-Jan-08 10 2.300 23.000 15 2.500 37.500
5 2.500 12.500
12-Jan-08 9 2.500 22.500 6 2.500 15.000
15-Jan-08 7 2.700 18.900 6 2.500 15.000
7 2.700 18.900
17-Jan-08 5 2.550 12.750 6 2.500 15.000
7 2.700 18.900
5 2.550 12.750
20-Jan-08 5 2.550 12.750 5 2.500 12.500
7 2.700 18.900
1 2.500 2.500
23-Jan-08 10 2.750 27.500 5 2.500 12.500
10 2.750 27.500
25-Jan-08 3 2.750 8.250 5 2.500 12.500
7 2.750 19.250
31-Jan-08 4 2.900 11.600 5 2.500 12.500
7 2.750 19.250
4 2.900 11.600
Saldo persediaan akhir = 12.500 + 19.250 + 11.600
= 43.350
Harga pokok penjualan = 23.000 + 12.500 + 22.500 + 12.750 + 18.900 + 2.500 + 8.250
= 100.400
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan =  105.550 (39.000 + 21.600 + 36.400 + 8.550)
HPP (100.400)
Laba Kotor =     5.150

3. Menggunakan Metode AVERAGE

Tanggal IN OUT SALDO
Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total
1-Jan-08 20 2.500 50.000
5-Jan-08 10 2.300 23.000 30 2.433 73.000
7-Jan-08 15 2.433 36.495 15 2.433 36.495
12-Jan-08 9 2.433 21.897 6 2.433 14.598
15-Jan-08 7 2.700 18.900 13 2.576 33.498
17-Jan-08 5 2.550 12.750 18 2.569 46.248
20-Jan-08 13 2.569 33.397 5 2.569 12.845
23-Jan-08 10 2.750 27.500 15 2.689 40.345
25-Jan-08 3 2.689 8.067 12 2.689 32.268
31-Jan-08 4 2.900 11.600 16 2.742 43.868
Saldo persediaan akhir = 43.868
Harga pokok penjualan = 36.495 + 21.897 + 33.397 + 8.067
= 99.856
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan = 105.550 (39.000 + 21.600 + 36.400 + 8.550)
HPP (99.856)
Laba Kotor =   5.694

Contoh Soal sistem periodik FIFO dan sistem perpertual LIFO

Soal: Berikut adalah transaksi PT. ABC selama Bulan Juli 2018


Tanggal Keterangan Kuantitas Harga
1 Juli Persediaan awal 100 unit Rp.10.000
5 Juli Pembelian 500 unit Rp.12.000
12 Juli Pembelian 100 unit Rp.15.000
22 Juli Penjualan 300 unit Rp.25.000
27 Juli Pembelian 100 unit Rp 20.000
30 Juli Penjualan 50 unit Rp.30.000

Diminta:

Tentukan nilai persediaan akhir, harga pokok penjualan (HPP) dan laba kotor, jika diasumsikan perusahaan memakai sistem periodik FIFO dan sistem perpertual LIFO

Jawab :

1. Sistem Periodik FIFO

Tanggal Keterangan Kuantitas Harga (Rp.)
1 Juli Persediaan awal 100 unit @ Rp.10.000 1.000.000
5 Juli Pembelian 500 unit @ Rp.12.000 6.000.000
12 Juli Pembelian 100 unit @ Rp.15.000 1.500.000
27 Juli Pembelian 100 unit @ Rp 20.000 2.000.000
800 unit 10.500.000

Persediaan yang siap untuk dijual (harga) ialah Rp 10.500.000

Unit persediaan akhir yakni:

= Persediaan (unit) yang siap untuk dijual – Unit terjual

= 800 unit – 350 unit = 450 unit

Nilai unit akhir :

= 100 unit @ Rp. 20.000 = Rp. 2.000.000
= 100 unit @ Rp. 15.000 = Rp. 1.500.000
250 unit @ Rp. 12.000 = Rp. 3.000.000
450 unit = Rp. 6.500.000

Harga Pokok Penjualan :

= Nilai persediaan (harga) yang tersedia untuk dijual – nilai persediaan (harga) unit akhir

= Rp 10.500.000 – Rp 6.500.000 = Rp 4.000.000  

Laba Kotor :

= Hasil penjualan – Harga pokok penjualan

= 9.000.000 – Rp 4.000.000 = Rp 5.000.000

2. Sistem Perpetual LIFO

Melalui metode perpetual LIFO kita bisa mengetahui hal-hal sebagai berikut:

Nilai persediaan akhir Rp. 5.600.000
Harga Pokok penjualan Rp. 4.900.000
Laba kotor = Rp. 9.000.000 – Rp. 4.900.000
Rp. 4.100.000

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

By | 2020-10-06T15:50:28+07:00 Februari 18th, 2018|Akuntansi|0 Comments

Leave A Comment