Dimanakah Tempat Ini? Tips: Tongkonan, Rumah Sekaligus Penyimpan Mayat

Terima Kasih Fans Pinter Pandai Anda Sudah Lebih Dari 440 000

Pinter Pandai sangat bangga memiliki Fans seperti Anda. Tanpa dukungan Anda, FaceBook kami tidak bisa mencapai lebih dari 400 000 Fans. Dimanakah Tempat Ini? Tips: Tongkonan, Rumah Sekaligus Penyimpan Mayat (Tana Toraja). Baca cara untuk pergi ke Tana Toraja.

Jangan lupa untuk mengunjungi website kita dan natikan konten-konten yang menarik dan seru.

Terima kasih juga kepada Fans yang telah memberi support dengan cara mengirim artikel-artikel mereka yang sangat bagus dan secara otomatis melalui website kita.

Salam,

Team Pinter Pandai
“Bersama-Sama Berbagi Ilmu”

 

Rumah Adat - Tongkonan - Tana Toraja


Suku Toraja

Suku ini yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Perkiraan populasinya sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut agama Islam dan kepercayaan Animisme (mempercayai bahwa setiap benda di Bumi; seperti di kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar, mempunyai jiwa yang harus dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka) yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Kata Toraja berasal dari bahasa Bugis, To Riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat. [1]


Obyek Wisata Tana Toraja

Dari pusat Kota Makassar menuju Tana Toraja, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 350 km atau perjalanan darat selama 7 jam. Jika tidak mau berlama-lama di perjalanan, wisatawan bisa menggunakan jasa pesawat domestik. Bandara Sultan Hasanuddin sudah membuka penerbangan domestik menuju Tana Toraja. Dengan menggunakan jalur udara, perjalanan hanya menempuh waktu tidak lebih dari 1 jam.

Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu objek wisata di Sulawesi Selatan.

Buntu Kalando

Tongkonan/rumah tempat Puang Sangalla’ (Raja Sangalla’) berdiam. Sebagai tempat peristirahatan Puang Sangala’ dan juga merupakan Istana tempat mengelola pemerintahan kerajaan Sangalla’ pada waktu itu, Tongkonan Buntu Kalando bergelar “tando tananan langi’ lantangna Kaero tongkonan layuk”. saat ini Tongkonan Buntu Kalando dijadikan Museum Tempat meyimpan benda-benda prasejarah dan peninggalan kerajaan Sangalla’.

Kambira

Kuburan bayi yang belum tumbuh giginya (umur 6 bulan kebawah) yang diletakkan di dalam pohon hidup yang dilubangi.

Pallawa

Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao. Total ada 11 rumah dan 15 lumbung.

Lemo

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kita dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma’ Nene. Lemo juga merupakan situs pemakaman tebing dengan galeri arca leluhur. Biaya masuk Rp 20.000 (Okt 2015).

Patung Yesus Memberkati

Bertempat di Bukit Burake, Tana Toraja. Diklaim sebagai patung Yesus tertinggi  ke-dua di dunia. [2]

 

Bori Parinding

Situs Bori Parinding adalah kombinasi dari tanah upacara dan penguburan. Tanah upacara adalah ruang terbuka yang digunakan untuk upacara tradisional, termasuk ritual untuk orang mati dan ucapan syukur.

Kande Api

Situs Kande Api terdiri dari komplek rumah dan lumbung, tanah upacara dan tempat pemakaman.

Nanggala

Situs Nanggala pada dasarnya adalah gabungan dari 2 rumah (tongkonan) dan 16 lumbung (alang), diatur dalam barisan dan disejajarkan dengan timur-barat.

Buntu Pune

Sebelumnya, situs Buntu Pune dan Rante Karassik milik satu pemukiman terpadu.

Rante Karassik

Situs Rante Karassik adalah tempat upacara di bukit yang miring.

Ke’te Kesu’

Di antara situs-situs yang dinominasikan, Ke’te’ Kesu ‘adalah pemukiman paling lengkap. Situs ini terdiri dari komplek rumah dan lumbung, tempat pemakaman, tanah upacara, sawah dan padang rumput kerbau.

Pala ‘Toke’ – Situs Pala Toke pada dasarnya adalah tempat pemakaman yang terletak di bukit batu kapur yang menjulang tinggi, dari mana sawah meluas ke utara, timur dan barat.

Londa

Londa adalah situs kuburan di mana dua metode penguburan adalah adat. Biaya masuk Rp 20 000 (Okt 2015).

Tumakke

Situs Tumakke menampilkan rumah tradisional yang khas yang dibangun di atas teras yang ditinggikan.

Kembira

Situs pohon pemakaman untuk bayi. Biaya masuk 20,000Rp (Oktober 2015) untuk kunjungan 1 menit. Jangan pergi ke sana, itu adalah turis.

Lanjutan obyek wisata ada dibawah.


Tongkonan, Rumah Adat Tana Toraja Sekaligus Penyimpan Mayat

Tongkonan adalah nama rumah adat Sulawesi Selatan. Bentuknya unik, menyerupai kerajaan Cina zaman dulu. Bagi orang Toraja, mustahil untuk memiliki rumah Tongkonan secara pribadi. Sebab, rumah adat ini adalah warisan nenek moyang. Rumah Tongkonan pada umumnya dihiasi dengan tanduk kerbau. Hiasan itu berfungsi sebagai lambang dari kemewahan atau kemampuan ekonomi setiap keluarga.

Bagian dalam rumah sendiri dibagi menjadi 3 bagian:

  • Selatan untuk kepala keluarga.
  • Tengah untuk pertemuan keluarga, dapur, tempat makan dan tempat meletakkan orang mati.
  • Utara untuk ruang tamu, tempat meletakkan sesaji dan juga tempat tidur anak-anak. Filosofi pembagian ruang ini tidak boleh dilanggar, karena dipercaya menyebabkan petaka.


Ritual adat Rambu Solo (Upacara Kedukaan / Pemakaman)

Sebuah tradisi pemakaman yang sangat unik di Tana Toraja. Masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, sirih, rokok atau beragam sesajian lainnya.

Upacara pemakaman Rambu Solo adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.

 

Ritual Rambu Solo - Tana Toraja

 

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Pada saat itu penduduk Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ritual dan adat Tana Toraja. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju ke nirwana.

Bagi kalangan bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu di antaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan. Kerbau pun langsung terkapar beberapa saat kemudian. [3]


Tradisi Menyimpan Mayat Di Londa Dan Lemo

Londa merupakan sebuah kawasan pemakaman kubur batu atau tempat menyimpan mayat yang diperuntukkan khusus bagi leluhur Toraja dan keturunannya. Konon jauh sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, di Tana Toraja sudah terdapat kepercayaan warisan nenek moyang yang disebut Aluk Todolo atau Alukta. Kepercayaan inilah yang kemudian menjadi landasan berbagai ritual adat dan tradisi masyarakat Toraja.

Alukta pada dasarnya tidak mengharuskan penyimpanan mayat, namun lebih kepada kewajiban segera melaksanakan upacara pemakaman sebagai pelaksanaan aluk to mate (memperlakukan orang yang telah mati). Karena semakin cepat jenazah dimakamkan, akan semakin banyak kesempatan untuk melaksanakan upacara pemberkatan lainnya.

Namun banyak alasan dan latar belakang mengapa jenazah-jenazah tersebut harus disimpan terlebih dahulu ke dalam goa dan liang-liang bukit. Alasan-alasan tersebut antara lain seperti menunggu kedatangan kerabat yang sedang merantau, untuk memberi kesempatan bagi keluarganya menunjukkan kasih sayang kepada jenazah, atau untuk menunggu biaya dan hewan korban yang banyak terlebih dahulu agar bisa melaksanakan upacara Rambu Solok (mengantarkan jenazah ke alam yang disebut puya), dan berbagai alasan lain. Hingga akhirnya menyimpan mayat menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat adat Tana Toraja.

 

Londa dan Lemo Tradisi Menyimpan Mayat di Tana Toraja

 

Londa Lemo - Tradisi Menyimpan-Mayat-Tana Toraja

 

Londa dan Lemo - Tradisi Menyimpan-Mayat -TanaToraja

 

Dahulukala masyarakat dengan beradat Toraja menyimpan jenazah di dalam rumah tongkonan, lamanya waktu menyimpan jenazah paling lama 36 malam untuk keluarga bangsawan. Sementara dari golongan lainnya kurang dari itu, atau bahkan tidak disimpan sama sekali karena upacaranya sangat singkat. Seiring berjalannya waktu, kemudian masyarakat adat Toraja memberi sebutan dan anggapan yang berbeda-beda tentang jenazah yang disimpan. Ada yang menganggap To Makula, bahwa jenazah yang disimpan dianggap hanya sebagai orang yang sakit, dan To Mate, jenazah sedang dalam rangkaian upacara aluk to mate.

Tidak jauh dari situs pemakaman Londa terdapat satu lagi situs kubur batu yang bernama Lemo. Sama halnya dengan Londa, ketika memasuki situs kubur batu ini pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp10.000 (harga dapat berubah). Berbeda dengan Londa, memasuki kawasan Lemo pengunjung akan disambut terlebih dahulu para penjual pernak-pernik khas Toraja. Masuk lebih ke dalam barulah pengunjung akan menyaksikan tebing karts yang berongga-rongga, rongga-rongga tersebut berisi peti jenazah, di sekitarnya terdapat patung-patung manusia yang dibuat sebagai simbol orang yang jenazahnya disemayamkan di tebing tersebut.


Jenis Kerbau (Tedong) Di Tana Toraja

Kerbau atau tedong dalam bahasa Toraja, pada upacara adat Rambu Solo atau pesta kematian, bagi masyarakat Toraja sering dikaitkan dengan status sosial. Ini adalah jenis-jenis kerbau yang biasanya digunakan untuk acara adat pemakan di Tana Toraja:

1. Tedong Saleko

Kerbau yang satu ini merupakan jenis kerbau yang paling mahal dari semua jenis kerbau yang ada di Toraja. Harga seekornya bisa mencapai Rp 1 miliar.

Ciri khusus tedong ini adalah warna kulitnya, perpaduan antara warna dasar putih serta belang hitam, dengan tanduk kuning gading serta bola mata berwarna putih.

 

Tedong Saleko - Kerbau Putih - Tana Toraja

 

2. Tedong Bonga

Tedong Bonga menduduki peringkat kedua setelah Tedong Saleko, dan memiliki nilai jual yang hampir sama dengan Tedong Saleko.

Ciri fisik Tedong Bonga juga tidak jauh berbada dengan Tedong Saleko. Perbedaan yang mendasar terletak hanya pada warna dasar kerbau, Tedong Bonga berwarna dasar hitam dengan belang putih.

 

3. Lotong Boko

Meski jenis kerbau ini terletak di urutan ketiga namun karena jenis kerbau yang satu ini sangat langka maka untuk urusan harga kadang kala harganya hanya selisih tipis dari Tedong Bonga dan Tedong Saleko.

Ciri kerbau ini terletak pada corak/belang hitam yang menutupi punggungnya dengan tubuh berwarna dasar putih.

 

4. Tedong Ballian

Jika dilihat secara sepintas jenis kerbau yang satu ini adalah yang juara, hal ini di karenakan ciri utama dari kerbau ini terletak pada tanduk yang rentang panjangnya bisa mencapai 2 meter, dengan badan gempal, serta corak warna hitam ke abu-abuan.

Kebanyakan kerbau ini dikebiri. Kerbau jenis ini sudah langka sehingga kisaran harganya juga mahal, biasanya diatas Rp 100 juta.

 

5. Tedong Pudu’

Tedong Pudu’ adalah jenis kerbau yang umum kita lihat dengan ciri khas bentuk tubuh yang kekar serta kulit yang dominasi warna hitam. Salah satu variannya adalah Pudu’ Gara’, yakni Tedong Pudu’ yang bola matanya berwarna putih.

Selain sebagai kerbau sembelihan, karena bentuk tubuhnya yang kekar tersebut jenis kerbau ini biasanya dijadikan sebagai kerbau petarung.

Seringkali kemampuan bertarung Tedong Pudu’ digunakan dalam acara Ma’palisaga Tedong (adu kerbau) yang merupakan salah satu rangkaian upacara Rambu Solo’. Acara Ma’palisaga Tedong dalam Rambu Solo’ menjadi heboh dan dipadati warga yang hendak menyaksikan tontonan unik ini. Biasanya kerbau yang menang memiliki prioritas tersendiri yang mendongkrak harga jualnya.

Namun, semahal-mahalnya seekor Tedong Pudu’ belum cukup untuk menyaingi harga Tedong Bonga. Harganya berkisar antara puluhan sampai Rp 100 juta, untuk harga kerbau petarung lebih mahal lagi sampai ratusan juta rupiah.

 

6. Tedong Todi’

Tedong Todi’ adalah jenis kerbau yang didominasi warna hitam seperti halnya Tedong Pudu’ namun memiliki corak/belang putih di kepala atau tepatnya di dahi, diantara kedua tanduknya.

Tedong Todi’ memiliki dua varian yakni Todi’ dan Todi’ Gara’, letak perbedaannya hanya pada bola mata yang berwarna putih di sebut Todi’ Gara’. Harga Tedong Todi’ hampir sama Tedong Pudu’ berkisar antara puluhan sampai RP 100 juta.

 

7. Tedong Tekken Langi’

Tedong Tekken Langi’ memiliki keunikan tersendiri diantara jenis kerbau lainnya yakni bentuk tanduk yang tidak simetris/sejajar, dengan ciri khusus tanduk sebelah kiri menjulang keatas, sementara tanduk sebelah kanan ke bawah atau sebaliknya.

Karena keunikannya membuat kerbau ini sangat jarang dijumpai, biasanya hanya ditampilkan dalam upacara Rambu Solo’ dengan tingkatan tertentu seperti upacara Sapu Randanan (upacara adat Rambu Solo’ yang tertinggi dan lengkap).

Karena kerbau ini merupakan kerbau yang langka maka harganya juga mahal berkisar diatas Rp 100 juta.

 

8. Tedong Sokko

Keunikan lain dari kerbau yang ada di Toraja adalah Tedong Sokko, kerbau jenis ini memiliki tanduk yang arahnya terbalik dengan kerbau umumnya yaitu arah tanduk yang menghadap ke bawah dan hampir bertemu dibawah leher.

Bila berpadu dengan corak/belang tertentu contohnya Bonga Sokko (kerbau belang dengan tanduk menghadap kebawah) nilainya menjadi sangat mahal.

 

9. Tedong Bulan

Tedong Bulan, yaitu jenis kerbau yang memiliki warna putih cerah agak kemerah-merahan disekujur tubuhnya. Jangan terkecoh dengan bentuk badan yang besar, tanduk kuning gading dan kulit putih mulus. Akan tetapi jenis kerbau yang satu ini adalah kerbau yang jika diurut berdasarkan tingkatan/kasta, maka Tedong Bulan adalah kerbau dengan kasta terendah di mata masyarakat Toraja.

 

10. Tedong Sambao’

Tedong Sambao’ tidak jauh berbeda dengan bulan yang menempati tingkatan/kasta yang sama. Ciri yang membedakan antara Tedong Sambao’ dan Tedong bulan terletak pada warna Tedong Sambao’ yang berwarna berwarna abu-abu atau putih kelabu seperti kebo bule di Solo.

 

Cara pergi ke Tana Toraja

Musim pemakaman perdana adalah setelah panen pada bulan Juli hingga Oktober.

  • Dengan pesawat

Bandara Pongtiku, Toraja.
Dari Bandara Hasanuddin di Makassar, Anda dapat terbang ke Tana Toraja atau sebaliknya. Susi Air terbang dari dan ke Makassar Tana Toraja 3 kali per minggu pada hari Senin, Rabu dan Satirdays. Harganya Rp 775 000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).

  • Dengan bus

Tana Toraja adalah 300 km  dari Makassar (8-10 jam perjalanan). Ada beberapa perusahaan bus yang melakukan perjalanan dari Makassar ke Rantepao dan Makale. Biayanya adalah RP. 70 000 untuk bus tanpa AC sepanjang jalan hingga Rp 150 000 untuk bus ber-AC.

Ada bus pagi dan malam. Sering mikrolet / bemo berangkat dari Makassar ke terminal bus dan memakan waktu sekitar 40 menit. Sebagian besar bus dari Makassar ke Tana Torajo bersih dan nyaman. Harap dicatat bahwa jika Anda berniat melanjutkan lebih jauh ke utara, bus umumnya lebih lambat, dalam kondisi yang lebih buruk dan jauh lebih tidak nyaman. Selalu jaga barang-barang Anda saat bepergian, bahkan jika Anda sedang tidur.

  • Dengan taksi atau mobil carteran

Mobil carteran biasanya berharga sekitar Rp 850 000 – 1 200 000 sekali jalan dari Makassar. Jika Anda berencana untuk tinggal selama beberapa hari dan ingin perjalanan kembali juga, mencarter seorang pengemudi dengan mobil dapat dikenakan biaya sekitar Rp 550 000 per hari.

Harap berhati-hati bahwa jika Anda berencana untuk mengendarai mobil Anda sendiri, bentangan jalan dari Makassar, mulai dari daerah Maros hingga kota Pare Pare saat ini sedang menjalani pekerjaan pelebaran jalan. Anda mungkin harus tiba-tiba beralih ke jalur yang berlawanan, karena jalur yang Anda tuju diblokir untuk pekerjaan konstruksi. Berhati-hatilah dan waspada terhadap jenis penghalang jalan ini, karena rambu-rambu jalan yang menunjukkan ini hampir tidak ada. Masalah ini menjadi sangat buruk pada malam hari karena tidak adanya penerangan jalan yang tepat, jadi berhati-hatilah.

Jalan dari kota Enrekang ke Makele (kota sebelum Rantepao) adalah hamparan jalan yang tidak diterangi, kecil, berliku, menanjak, disertai dengan kabut dan gerimis di malam hari. Di sepanjang jalan ini, Anda akan sering menemukan bus-bus besar menurun dari Makele. SPBU (pompa bensin) sangat sedikit dan jauh di antara keduanya, dengan toko-toko lokal yang berselang-seling sepanjang jalan. Sekali lagi, kondisi ini membuat mengemudi di malam hari sebaiknya dihindari.

 

Transportasi di Tana Toraja

  • Angkutan Umum ( Angkot ), Di Tana Toraja untuk jenis angkutan umumnya berupa mobil sejenis kijang, innova, avanza. Dan untuk membedakannya cukup melihat dari plat mobilnya, jika warnanya kuning adalah angkutan umum, bukan mobil pribadi. Angkot ini beroperasi dari Rantepao sampai Terminal di Makale. Untuk tarifnya mulai dari Rp. 10.000 dengan rute Rantepao – Terminal Makale.
  • Ojek, di Tana Toraja banyak ojek yang menawarkan jasa mengantarkan ke tempat tujuan yang tidak terlewati oleh kendaraan umum. Sebelum menggunakan ojek, tanyakan untuk harganya terlebih dahulu.
  • Sewa Mobil, jika Anda yang bepergian dengan keluarga atau rombongan bisa juga menyewa mobil. Tetapi, di Tana Toraja sangat jarang bisa menyewa dengan sistem lepas kunci.

 

 

Objek Wisata Toraja (Lanjutan)

Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yang sangat menarik. Apabila Anda pergi ke Tana Toraja, dibawah ini adalah beberapa obyek wisata yang dapat Anda kunjungi info dari www.infotoraja.com

 


 

 

Tempat Wisata Lainnya Dan Yang Harus Dikunjungi Di Indonesia Dan Luar Negeri

Segala sesuatu yang ada di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut. Panduan ini akan membuat Anda untuk tidak melewatkan tempat penting dan memberikan pengalaman wisata Anda ke tempat-tempat yang hebat!

Klik disini untuk melihat tempat-tempat lainnya, seperti di Bali, Jogja, Paris, Tokyo, Tibet, Bogor dan masih banyak lagi.

 

Bacaan Lainnya

 

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Foto-foto: Pinter PandaiInfo Toraja
Sumber bacaan: Lonely PlanetDiscover Your IndonesiaWonderful IndonesiaTrip AdvisorIndonesia Kaya

 

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya


By | 2018-05-02T09:25:44+07:00 Mei 7th, 2017|Geografi & Sejarah, Lainnya|0 Comments

Leave A Comment