Siddhartha Gautama (563–483 SM) – Filsuf Buddha

2 min read

Siddhartha Gautama filosofi

Siddhartha Gautama (563–483 SM)

Terkenal untuk: dikenal sebagai Buddha yang “terbangun”, Siddhartha Gautama mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang permanen. Tujuannya adalah untuk mengalahkan orang-orang menjelang akhir penderitaan dengan mengikuti jalan mulia beruas delapan, yang mengarah pada kebangkitan.

Bahkan kematian tidak harus ditakuti oleh orang yang hidup dengan kebijaksanaan.

Beliau adalah seorang filsuf India kuno dan pemimpin spiritual yang lahir di Lumbini (sekarang Nepal) pada abad ke-6 SM. Setelah menjadi “orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna” saat duduk di bawah pohon Bodhi, Buddha menyadari bahwa penderitaan manusia disebabkan oleh keinginan untuk tetap di dunia di mana segala sesuatu tidak kekal dan terus berubah.


Siddhartha Gautama filosofi budha
Siddhartha Gautama filosofi Budha. Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada 5 pertapa di Taman Rusa. Sumber foto: Wikimedia Commons

Penyebaran ajaran Buddha

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Sakyamuni, Tathagata (‘Ia Yang Telah Datang’, Ia Yang Telah Pergi’), Sugata (‘Yang Maha Tahu’), Bhagava (‘Yang Agung’) dan sebagainya.

Lima pertapa yang mendampingi Dia di hutan Uruvela merupakan murid pertama Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana Sutta, di mana Dia menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan “Empat Kebenaran Mulia“.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.

Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara 2 pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).


Sifat Agung Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia.

Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu:

  1. Berusaha menolong semua makhluk.

  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.

  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.

  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.


Buddha Gautama

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.

  • Ucapan (vaci): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.

  • Pikiran (mano): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai “Pencerahan Sempurna”.

Sebagai Buddha, Dia telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara. Dia telah berusaha untuk meringankan penderitaan banyak makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakikat dunia, Ia menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Dalam mengajar umat manusia yang mendambakan lenyapnya Dukkha, Dia menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah di dalam berbagai kesempatan yang pada hakikatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakikat yang hakiki dari seorang Buddha.

Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya.

Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.


Ketahuilah Filsuf Lainnya yang Terkenal bersama Filosofinya

Filosofi, yang secara harfiah berarti “cinta kebijaksanaan,” adalah salah satu disiplin tertua dalam sejarah. Ada banyak gagasan tentang para filsuf dan apa yang mereka lakukan.

Beberapa bahkan menganggap bidang itu sebagai ilmu yang berhubungan dengan logika dan alasan. Banyak filsuf terkenal telah membuat kontribusi mereka diketahui dunia melalui tulisan-tulisan mereka dan siswa mereka. Klik disini untuk mengetahui daftar filsuf terkenal.


Bacaan Lainnya

Sumber bacaan: Borobudur Virtual, History

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *