PDB Produk Domestik Bruto (GDP: Gross Domestic Product) – Penjelasan, Rumus dan Contoh Soal

7 min read

Pengertian Produk domestik bruto

Produk domestik bruto (PDB) adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.

Atau dalam bahasa Inggris gross domestic product (GDP).

Produk Domestik Bruto diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB berbeda dari produk nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut.

Apa yang dihitung dari Produk Domestik Bruto?

Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan.

PDB Nominal merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil ←(atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan)→ mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga.


Cara menghitung PDP

PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.

Rumus PDP

GDP  =  Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor – Impor)

GDP  = C + I + G + (X – M)

Keterangan :

konsumsi = pengeluaran yang dikeluarkan oleh rumah tangga

investasi  = sektor usaha

pengeluaran pemerintah = pemerintah

ekspor impor = sektor luar negeri

Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:

PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor – impor)
Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri.

Rumus untuk menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi:

PDB = sewa + upah + bunga + laba
Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.

Secara teori, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama. Namun karena dalam praktik menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran.

Rumus pendekatan produksi

GDP = Sewa + Upah + Bunga + Laba

Pendekatan Produksi yaitu salah satu metode menghitung Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang dapat mengukur nilai produksi yang dapat diciptakan oleh berbagai faktor produksi yang ada di suatu negara tanpa membedakan apakah sebuah faktor produksi itu milik orang luar negeri atau warga negara itu sendiri.

Penjelasan rumus

Konsumsi (C)

Yang dimaksud pada formula di atas adalah konsumsi barang dan jasa yang terjadi dalam negara bersangkutan. Tingginya nilai konsumsi dapat mengindikasikan bahwa terdapat hasrat yang tinggi dalam masyarakat untuk membelanjakan uangnya. Sedangkan angka konsumsi yang rendah dapat berarti bahwa sedang terjadi keadaan yang tidak pasti sehingga menahan orang untuk mengkonsumsi barang atau jasa.

Investasi (I)

Dapat berupa investasi domestik atau pengeluaran modal. Dunia usaha mengeluarkan uangnya untuk meningkatkan bisnis seperti dengan berbelanja keperluan kantor, mesin pabrik, dan lain-lain. Dengan adanya peningkatan dalam bisnis tersebut, penyerapan tenaga kerja pun dapat terjadi.

Belanja negara (G) 

Bisa berupa pengadaan peralatan untuk menunjang kegiatan pemerintahan, pembangunan infrastruktur, hingga pembayaran gaji pegawai negeri sipil. Belanja yang dilakukan oleh negara ini juga merupakan komponen yang masuk dalam skor PDB.

Perdagangan internasional juga turut serta dalam menyumbang nilai PDB. Skor NX diperoleh dari total nilai ekspor dikurangi nilai impor. GDP Indonesia sendiri menyentuh angka 1,042 Triliun USD pada tahun 2018. Pada tahun 2017, GDP Indonesia berada pada angka 1,015 triliun USD.


Sejarah Singkat PDB

PDB dibentuk pertama kali sebagai respon terhadap depresi besar yang sempat menghantam perekonomian Amerika Serikat. Setelah melakukan berbagai penelitian, sebuah lembaga riset ekonomi Amerika Serikat akhirnya menemukan sebuah metode untuk mengukur perekonomian negara. Saat itu metode yang diusulkan adalah Produk Nasional Bruto (PNB) atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Gross National Product (GNP). Namun setelah konferensi Bretton Woods pada 1944, diputuskan bahwa metode yang diusulkan sebagai alat ukur internasional adalah PDB.

Uniknya, walau AS mengusulkan PDB sebagai alat ukur pertumbuhan ekonomi internasional, AS sendiri malah memakai PNB sebelum akhirnya diganti menjadi PDB pada tahun 1991.


Manfaat PDB

Sebagai suatu alat ukur perekonomian, PDB memiliki beberapa manfaat. Manfaat-manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  • Mengukur laju pertumbuhan ekonomi nasional. 

Dengan adanya PDB, negara dapat mengetahui sudah sejauh mana perekonomian dalam negerinya tumbuh. Negara pun dapat menganalisis dari data yang ada terkait faktor manakah yang dapat dimaksimalkan dan mana yang masih perlu ditingkatkan.

  • Membandingkan kemajuan ekonomi antar negara.

Setiap negara memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Masalahnya, tanpa ada alat ukur, kelebihan serta kekurangan menjadi sesuatu yang sulit dibuktikan. Melalui angka yang dihasilkan PDB negara-negara di dunia dapat menentukan siapa yang unggul siapa yang masih belum. Keluarannya adalah apa yang kita kini kenal sebagai G7 dan G20 yang terdiri dari negara-negara dengan perekonomian terkuat di dunia.

  • Mengetahui struktur perekonomian suatu negara.

Ini juga penting karena negara bersangkutan dapat menjadikan keluaran PDB-nya sebagai bahan pengkajian terkait sektor-sektor mana saja yang harus ditingkatkan dan perlu perbaikan.

  • Sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah. 

Tanpa adanya data yang bisa diandalkan, kebijakan yang dihasilkan suatu negara akan sulit untuk dipastikan apakah akan berhasil atau tidak. Ya memang sih tetap saja tidak ada yang pasti. Namun, dengan adanya data setidaknya pemerintah dapat memperoleh bantuan dalam merumuskan kebijakan.

PDB seringkali diartikan sebagai indikator dari kesejahteraan suatu negara. Angka PDB yang tinggi diartikan dengan tingginya angka produksi. Tingginya angka produksi dihubungkan kepada daya beli masyarakat yang juga tinggi.

Inilah mengapa ketika angka PDB naik, muncul anggapan bahwa negara tersebut juga semakin sejahtera. Akhirnya muncullah pertanyaan, benarkah demikian adanya? Benarkah peningkatan PDB juga diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan sebuah negara?


Kritik Terhadap PDB

Sepanjang puluhan tahun digunakan, PDB tidak terlepas dari kritik. Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa contohnya. Apakah kenaikan PDB berbanding lurus dengan kenaikan kesejahteraan? Berikut adalah beberapa kritik atas PDB.

  • Tidak mengukur aktivitas perekonomian lain. 

Pengukuran PDB melibatkan investasi, belanja, hingga ekspor dan impor. Persoalannya, semua yang masuk dalam perhitungan hanyalah yang tercatat saja.

Padahal ada aktivitas lain yang boleh jadi tidak tercatat. Coba kalian lihat di sekitar kalian para pedagang kaki lima. Apakah kalian yakin transaksi yang mereka lakukan sudah dicatat oleh negara dan dimasukkan ke dalam PDB? Padahal di Indonesia sendiri ada banyak sekali pedagang kecil-kecilan dan UMKM. Apakah transaksi mereka semua sudah tercatat?

  • Tidak memperhitungkan nilai kesejahteraan. 

Inilah salah satu kritik yang menimpa PDB. Dalam PDB, semakin tinggi transaksi yang terjadi di dalam suatu negara, semakin meningkat pula angka PDB-nya. Pertanyaannya, apakah transaksi yang terjadi benar-benar membawa kesejahteraan bagi penduduk negara tersebut? Inilah pertanyaan yang membayangi kita semua.

Terlepas dari adanya kritik terhadap PDB, PDB tetaplah alat ukur yang paling banyak digunakan oleh banyak negara. Hal ini terjadi salah satunya adalah karena belum ada metode lain yang bisa menghitung sekomprehensif PDB. Karena itulah PDB tetap digunakan oleh dunia internasional hingga hari ini.

  • Terbatas dalam satu wilayah saja.

Di tengah dunia yang semakin borderless, batas negara menjadi hal yang semakin tipis. Perusahaan-perusahaan pun melebarkan sayapnya ke berbagai negara.

PDB tidak memandang apakah semua laba yang dihasilkan oleh perusahaan lari ke negara tempatnya berada ataukah kembali ke negara asalnya. Hal ini dapat mengakibatkan perbedaan yang sangat mencolok ketika angka PDB dikomparasikan dengan angka PNB.


Jenis-Jenis Produk Domestik Bruto (GDP: Gross Domestic Product)

Menurut McEachern (200:146), ada dua jenis Produk Domestik Bruto (PDB), diantaranya adalah :

  • PDB Riil/Harga Tetap, yaitu total nilai harga barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu (umumnya satu tahun) dan dinilai berdasarkan harga yang berlaku dalam kurun waktu tertentu.
  • PDB Nominal/Harga Berlaku, yaitu total nilai harga barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam kurun waktu tertentu dan dinilai menurut harga yang berlaku pada saat dilakukan penilaian.

4 Komponen Produk Domestik Bruto (GDP: Gross Domestic Product)

1. Konsumsi Privat (Private Consumption)
Menghitung konsumsi dari individu atau rumah tangga untuk beberapa jenis barang seperti;Durable Goods (Barang awet tidak cepat habis)
Non-Durable Goods (Barang cepat habis atau sekali konsumsi)

2. Service (Jasa)
Investasi (Investment)
Menghitung suatu pengeluaran untuk barang modal. Contoh: pembelian rumah, membangun pabrik baru, program baru dan berbagai jenis investasi lainnya.

3. Pengeluaran Pemerintah (Government Spending)
Menghitung semua pengeluaran yang pemerintah lakukan. Contoh: membayar gaji PNS atau pegawai pemerintah, membeli peralatan militer, membangun jalan dan lain-lain.

4. Ekspor Bersih (Net Export)
Menghitung selisih didapat dari Total Ekspor yang dikurangi Total Impor.


Contoh Soal dan Jawaban PDB (Produk Domestik Bruto)

Carilah PDB (Produk Domestik Bruto) dari contoh pendapatan nasional negara ini:
Konsumsi masyarakat: Rp 90 000 000
Pendapatan laba usaha: Rp 40 000 000
Pengeluaran negara: Rp 300 000 000
Pendapatan sewa: Rp 25 000 000
Pengeluaran investasi: Rp 75 000 000
Ekspor: Rp 50 000 000
Impor: Rp 35 000 000

Jawaban:

GDP = C + I + G + (X – M)
GDP = 90.000.000 + 75.000.000 + 300.000.000 + (50.000.000 – 35.000.000)
GDP  = 465.000.000 + 15.000.000
GDP  = 480.000.000

Maka diketahui besarnya GDP atau PDB negara tersebut adalah Rp.480.000.000,-.

Mengapa PDP (GDP) itu penting?

Jawaban:

PDB penting karena memberikan informasi tentang ukuran ekonomi dan bagaimana kinerja ekonomi. Tingkat pertumbuhan PDB riil sering digunakan sebagai indikator kesehatan umum ekonomi.

Untuk apa Produk Domestik Bruto (GDP) digunakan?

Produk Domestik Bruto adalah salah satu ukuran yang paling banyak digunakan dari output atau produksi ekonomi. Ini didefinisikan sebagai total nilai barang dan jasa yang diproduksi di dalam perbatasan suatu negara dalam periode waktu tertentu – bulanan, triwulanan, atau tahunan. PDB adalah indikasi akurat dari ukuran ekonomi.

Diketahui negara Timor Leste mempunyai data tahun 2012 sebagai berikut:
Jumlah produksi perusahaan asing dan lokal $159.600
Jumlah pendapatan warga negara di Timor Leste $ 45.750
Jumlah pendapatan warga negara Timor Leste di Indonesia $20.000
Penyusutan $ 10.000
Pajak tidak langsung $ 26.500
Laba di tahan $ 1.300
Pajak perusahaan $ 6.580
Pajak langsung = $14.400
Transfer Payment $ 10.500
Iuran Pensiun $ 3.200
Hitung lah GDP, GNP, NNP, NNI, PI, DI, dan pendapatan perkapitanya jika jumlah penduduk sebanyak 1000 jiwa!

Penyelesaian dan jawaban:
Faktor luar negeri = $20.000 – $45.750 = – $25.750
GDP = $ 159.600 – $25.750 = $25.750 = $133.850
NNP = GNP –Penyusutan
= $133.850 – $10.000
= $ 123.850
NNI = NNP- Pajak tidak langsung
= $123.850 – $26.500
= $97.350
PI = NNI + Transfer payment – (Iuran pensiun + Pajak perusahaan + Laba ditahan)
= $97.350 + $ 10.500 – ($ 3.200 + $ 6.580 +  $ 1.300)
= $ 96.770
DI = PI – Pajak Langsung
=$ 96.770 – $14.400
=$ 82.730
Pendapatan perkapita = GNP / jumlah penduduk
= $133.850 / 1000
= $133,85

Dik : (Satuan dalam milyaran rupiah)
PDB Indonesia                      130.100,6
Pendapatan neto LN 4955,7
Pajak Tidak Langsung         8945,6
Penyusutan                6577,8
Iuran Asuransi                      2
Lab ditahan               5,4
Transfer payment     13
Pajak Langsung                    12
Konsumsi                              100000
Hitunglah GNP, NNP, NNI, PI, DI, dan Tabungan

Penyelesaian :
GNP = GDP  +  Produk Neto terhadap Luar Negeri
= 130.100,6 M + 4.955,7 M
= 135.056,3 M
NNP = GNP – Penyusutan
=135.056,3 M – 6.557,8 M
= 128.498,5 M
NNI   = NNP – Pajak tidak langsung
=128.498,5 M – 8.945,6 M
= 119.552,9 M
PI = ( NNI – Transfer Payment) – (iuran Jaminan Sosial+iuran Asuransi+Laba Ditahan+Pajak Perseorangan)
= (119.552,9 –  13 M) – (2 M + 5,4 M)
= 119.539,9 M  – 7,4 M
= 119.532,5 M
DI = PI – Pajak Langsung
= 119.532,5  M – 12 M
= 119.520,5 M
Tabungan = DI- Konsumsi
= 119.520,5 M – 100.000 M
= 19.520,5 M.

Jika diketahui Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2004 adalah Rp 131.101,6 Miliar. Pendapatan/Produk neto terhadap Luar Negeri Rp 4.955,7 Miliar, Pajak tidak Langsung Rp 8.945,6 Miliar, Penyusutan Rp 6.557,8 Miliar, Iuran Asuransi Rp 2,0 Miliar, Laba ditahan Rp 5,4 Miliar, Transfer Payment Rp 6,2 Miliar dan Pajak Langsung Rp 12,0 Miliar. Hitunglah :
a). GNP
b). NNP
c). NI
d). PI
e). DI

Jawab:
a). GNP  = GDP + Produk Neto terhadap Luar Negeri
= Rp 131.101,6 Miliar + Rp 4.955,7 Miliar
= Rp 136.057,3 Miliar
b). NNP  =  GNP – Penyusutan
=  Rp 136.057,3 Miliar – Rp 6.557,8 Miliar
= Rp 129.499,5 Miliar
c). NI = NNP – Pajak tidak Langsung
= Rp 129.499,5 Miliar – Rp 8.945,6 Miliar
= Rp 120.553,9 Miliar
d). PI = (NI + Transfer Payment) – (iuran asuransi + iuran jaminan sosial + Laba di tahan + Pajak Perseorangan)
= (Rp 120.553,9 Miliar + Rp 6,2 Miliar) – (Rp 2,0 Miliar + Rp 5,4 Miliar)
= Rp 120.560,1 Miliar – Rp 7,4Miliar
= Rp 120.552,7 Miliar
e). DI = PI – Pajak Langsung
= Rp 120.552,7 Miliar – Rp 12,0 Miliar
= Rp 120.540,7 Miliar


Bacaan Lainnya

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “ohh begitu ya…” akan sering terdengar jika Anda memasang applikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Sumber: The Balance, International Monetary Fund (IMF)

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *