Senyawa Biner – Asam, Kovalen dan Ionik – Contoh Soal dan Jawaban

7 min read

Senyawa biner

Senyawa Biner

Sebuah senyawa biner adalah senyawa kimia yang mengandung 2 unsur yang berbeda.

Contohnya: air (H2O), amonia (NH3) dan metana (CH4). Ketiga senyawa tersebut hanya tersusun atas dua jenis unsur yaitu hidrogen dan oksigen pada senyawa air, nitrogen dan hidrogen pada amonia serta karbon dan hidrogen pada metana. Berdasarkan jenis ikatannya, senyawa biner dibedakan menjadi dua jenis yaitu senyawa biner ionik dan senyawa biner kovalen.
 

Asam biner

Dalam kelompok senyawa biner hidrogen, sebuah asam biner meliputi sebuah atom hidrogen yang terikat pada atom lain yang biasanya berada pada golongan 7 tabel periodik. Termasuk di dalamnya adalah klorin, fluorin, brominiodin, dan astatin. Termasuk pula unsur lain seperti belerangteluriumpolonium, selenium, dan arsenik.

Konvensi penamaannya (dalam Bahasa Inggris) adalah:

“Hydro-” + Nonlogam + “-ic” + “acid”

Contohnya adalah HCl: hydrochloric acid atau yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan asam klorida.

Jika asamnya berada dalam bentuk gas atau anhidrat, akhiran “-ic” diganti dengan “-ide” dan kata-kata “acid” dihilangkan.
 

Senyawa biner
Struktur kristal NaCl dengan koordinasi polihedra. Artikel: Senyawa Biner – Asam, Kovalen dan Ionik – Contoh Soal dan Jawaban. Sumber foto: Wikimedia Commons

 

Senyawa kovalen biner

Bahasa Inggris: Nonmetal X + Nonmetal Y + “-ide.” Bahasa Indonesia: Nonlogam X + Nonlogam Y + “-ida.”

Tambahkan awalan Latin yang sesuai pada masing-masing nama unsur untuk menyatakan jumlah atom masing-masing unsur yang terdapat dalam molekul senyawa tersebut.

Metode ini umumnya tidak digunakan untuk senyawa ionik (lihat di bawah). Misalnya, K2O biasanya tidak disebut sebagai dikalium monoksida (dipotassium monoxide); tetapi cukup disebut kalium oksida (potassium oxide). Alasan disebut kalium oksida adalah bahwa kalium oksida merupakan senyawa ionik biner, sehingga mengikuti aturan untuk senyawa ionik biner. Namun, P4O6 disebut tetrafosfor heksosida (tetraphosphorus hexoxide). Beberapa unsur yang dimulai dengan vokal (Oksigen, misalnya) menggantikan vokal di akhir awalannya; mono- + oksida = monoksida, O4 = tetroksida, O5 = pentoksida, dan seterusnya.

1. Penulisan Rumus Senyawa Nonlogam-Nonlogam

A) Unsur yang nilai elektronegativitas lebih kecil (bilangan oksidasi positif) ditulis di depan. Sedangkan unsur yang elektronegativitasnya lebih besar (bilangan oksidasi negatif) ditulis dibelakang.
Contoh: senyawa air ditulis H2O bukan OH2 karena elektronegativitas H (2,1) < O (3,5) sehingga unsur H diletakkan di depan. Contoh lainnya adalah CO, CO2 dan CCl4.
B) Khusus untuk senyawa yang tersusun antara C dan H, penulisan C di depan dan H di belakang meskipun elektronegativitas H (2,1) < C (2,5). Contoh: metana ditulis CH4 bukan H4C. untuk senyawa yang terdiri dari N dan H, penulisan N di depan sedangkan H di belakang, meskipun elektronegativitas H (2,1) < N (3,0). Contoh: amonia ditulis NH3 bukan H3N.
Agar lebih jelas, unsur-unsur yang terdapat lebih dahulu dalam urutan berikut ini, ditulis di depan.
tata nama senyawa biner: urutan penulisan rumus senyawa kovalen (nonlogam dan nonlogam)

2. Nama Senyawa Nonlogam-Nonlogam

A) Senyawa biner nonlogam dan nonlogam diberi dengan aturan: nama unsur pertama disebutkan, diikuti nama unsur kedua dengan akhiran ida.
B)Jumlah unsur disebutkan dalam bahasa Yunani:
1
=
Mono
6
=
Heksa
2
=
Di
7
=
Hepta
3
=
Tri
8
=
Okta
4
=
Tetra
9
=
Nona
5
=
Penta
10
=
Deka
C) Unsur pertama tidak perlu disebutkan mono bila unsurnya hanya satu.
Contoh:
N2O
:
Dinitrogen monoksida
NO
:
Nitrogen monoksida (bukan mononitrogen monoksida)
NO2
:
Nitrogen dioksida (bukan mononitrogen dioksida)
N2O5
:
Dinitrogen pentaoksida
 
D) Untuk senyawa yang terdapat unsur hidrogen (H), jumlah unsur baik unsur pertama dan kedua tidak perlu disebutkan dengan awalan Yunani. Selain itu, nama hidrogen boleh diganti dengan kata “asam”.
Contoh:
HCl
:
Hidrogen klorida atau asam klorida (bukan hidrogen monoklorida)
HF
:
Hidrogen fluorida atau asam fluorida (bukan hidrogen monofluorida)
HBr
:
Hidrogen bromida atau asam bromida (bukan hiroden monobromida)
H2S
:
Hidrogen sulfida atau asam sulfida (bukan dihidrogen monosulfida)
 

3. Senyawa Umum

Senyawa-senyawa yang umum dikenal tidak perlu mengikuti aturan-aturan di atas.
Contoh:
H2O
:
Air (bukan hidrogen oksida)
NH3
:
Amonia (bukan nitrogen trihidrida)
CH4
:
Metana (bukan karbon tetrahidrida)

 

Senyawa ionik biner

Sebuah senyawa ionik biner adalah garam yang mengandung hanya dua unsur yang keduanya berupa ion, sebuah kation (yang memiliki muatan positif) dan sebuah anion (yang mempunyai muatan negatif). Ketika memberi nama senyawa-senyawa ini, komposisinya harus diperhatikan. Senyawa ionik biner tipe 1 adalah senyawa-senyawa yang kationnya hanya memiliki satu bentuk, atau muatan.

Senyawa ionik biner tipe 2 adalah senyawa-senyawa yang kationnya dapat memiliki beberapa bentuk:

  1. Kation (dalam banyak kasus adalah logam) didaftarkan pertama dan anion (yang umumnya nonlogam) didaftarkan kedua.
  2. Kation mengambil nama bentuk unsurnya. Misalnya, Li+ disebut sebagai “Litium”.
  3. Nama anion menggunakan bagian awal nama unsurnya, dan dilanjutkan dengan penambahan akhiran “-ida”. Misalnya, Br akan disebut sebagai “Bromida”. Contoh: LiF (yang tersusun dari kation Li+ dan anion F) = litium fluorida; BaO (yang tersusun dari kation Ba2+ dan anion O2−) = barium oksida.

Jika logam yang digunakan adalah logam transisi kecuali Al3+, Zn2+, Ag+, tahapannya mengikuti pola seperti senyawa ionik biner tipe 1, tetapi, karena kationnya dapat mengalami berbagai tingkat muatan, muatannya harus ditulis di dalam kurung dalam huruf Romawi di belakang nama kationnya. Contohnya: CoO (yang tersusun atas kation Co2+ dan anion O2−) = kobalt(II) oksida; FeN (yang tersusun dari kation Fe3+ dan anion N3−) = besi(III) nitrida.

Perlu dicatat bahwa ada cara lain dalam memberi nama senyawa ionik biner tipe 2 yang tidak umum. Ini melibatkan penggunaan nama Latin untuk kationnya. Kation tipe 2 yang umum meliputi besi, tembaga, kobalt, timah, timbal, dan raksa.

Kation + Anion + “-ida” (untuk anion yang mengandung unsur tunggal, misalnya nitrida).

Jika dimungkinkan terdapat banyak senyawa, tingkat oksidasi kation ditambahkan di belakangnya dalam angka Romawi (tembaga(II) sulfat), atau nama kation (dalam bahasa Latin) diberi akhiran “-o” (untuk tingkat oksidasi yang lebih rendah) atau “-i” (untuk tingkat oksidasi yang lebih tinggi). Sebagai contoh: tembaga(I) sulfida = kupro sulfida, tembaga(II) sulfida = kupri sulfida.

1. Penulisan Rumus Senyawa Logam-Nonlogam

Unsur logam atau unsur yang bertindak sebagai kation ditulis di depan dan unsur nonlogam atau unsur yang bertindah sebagai anion ditulis di belakang. Contoh: besi klorida ditulis FeCl3 bukan Cl3Fe, karena Fe merupakan unsur logam ditulis di depan sedangkan Cl unsur nonlogam ditulis di belakang.
 

2. Nama Senyawa Logam-Nonlogam

A)Nama unsur logam (di depan) disebutkan, diikuti nama unsur nonlogam ditambah akhiran ida. Berbeda dengan senyawa kovalen (nonlogam dan nonlogam), untuk senyawa ion (logam dan nonlogam) jumlah unsur tidak perlu disebutkan dengan awalan Yunani.
Contoh:
KBr
:
Kalium bromida (bukan kalium monobromida)
MgBr2
:
Magnesium bromida (bukan magnesium dibromida
 
B)Logam yang mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu, bilangan oksidasinya ditulis dalam kurung dengan angka romawi.
Contoh:
Cu2O
:
Tembaga (I) oksida
CuO
:
Tembaga (II) oksida
FeCl2
:
Besi (II) klorida
FeCl3
:
Besi (III) klorida
 
Unsur yang mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu di antaranya: Fe, Sn, Hg, Au, Pb dan Cu. Bilangan oksidasi (biloks) adalah nilai muatan (dapat berharga positif atau negatif) dari atom dalam pembentukan suatu molekul atau ion. Adapun aturan penetapan biloks dibahas lebih lanjut dalam materi reaksi redoks (reduksi-oksidasi).

4. Tabel Penamaan Kation dan Anion Beberapa Unsur

Kation
Nama
Anion
Nama
Na+
Natrium
H
Hidrida
K+
Kalium
N3-
Nitrida
Rb+
Litium
O2-
Oksida
Cs+
Sesium
S2-
Sulfida
Mg2+
Magnesium
F
Fluorida
Ca2+
Kalsium
Cl
Klorida
Sr2+
Stronsium
Br
Bromida
Ba2+
Barium
I
Iodida
Al3+
Aluminium
Se2-
Selenida
Zn2+
Seng
P3-
Fosfida
Ag+
perak
As3-
Arsenida

 

Contoh Soal dan Jawaban Senyawa Biner – Asam, Kovalen dan Ionik

1. Berilah nama pada senyawa berikut ini

a)NaBr

b)MgCl2
c)AlCl3
d)Na2S
e)SO2
f)SO3
g)CCl4
h)N2O4
Jawab
a)NaBr merupakan senyawa ionik karena Na logam dan Br nonlogam sehingga nama senyawa ini adalah natrium bromida.
b)MgCl2 merupakan senyawa ionik karena Mg logam dan Cl nonlogam sehingga nama senyawa ini adalah magnesium klorida
c)AlCl3 merupakan senyawa ionik, nama senyawa ini adalah aluminium klorida
d)Na2S merupakan senyawa ionik, nama senyawa ini adalah natrium sulfida
e)SO2 merupakan senyawa kovalen karena S nonlogam dan O juga nonlogam sehingga nama senyawa ini adalah sulfur dioksida atau belerang dioksida
f)SO3 sama seperti senyawa nomor (e) dengan bilangan oksidasi O yang berbeda. Nama senyawa ini adalah belerang trioksida
g)CCl4 merupakan senyawa kovalen karena C nonlogam dan Cl4 juga nonlogam. Nama senyawa ini adalah karbon tetraklorida
h)N2O4 juga merupakan senyawa kovalen sehingga nama senyawa ini yakni dinitrogen tetraoksida
 

2. Tuliskan rumus senyawa dari nama-nama senyawa berikut:

a)Litium sulfida
b)Magnesium oksida
c)Barium iodida
d)Aluminium hidrida
e)Seng klorida
f)Kalium iodida
g)Boron triklorida
h)Belerang heksafluorida
i)Dinitrogen pentaoksida
j)Disulfur diklorida
Jawab: 
a)Litium sulfida tersusun atas unsur Li (logam) dan unsur S (nonlogam) maka senyawa ion. Litium bertindak sebagai kation (Li+) sedangkan Sulfur bertindak sebagai anion (S2-) sehingga Li+ + S2- = Li2S
b)Magnesium oksida merupakan senyawa ion dengan kationnya Mg2+ dan anion O2- sehingga Mg2+ + O2- = MgO
c)Barium iodida merupakan senyawa ionik, Ba2+ + I = BaI2
d)Aluminium hidrida merupakan senyawa ionik, Al3+ + H = AlH3
e)Seng klorida merupakan senyawa ionik, Zn2+ + Cl = ZnCl2
f)Kalium iodida merupakan senyawa ionik, K+ + I = KI
g)Boron triklorida memiliki awalan angka dalam bahasa Yunani, sehingga merupakan senyawa kovalen. Senyawa ini tersusun atas satu atom boron dan tiga atom klor, jadi rumus kimianya adalah BCl3
h)Belerang heksafluorida tersusun atas satu atom S dan enam atom F sehingga rumus kimianya adalah SF6
i)Dinitrogen pentaoksida tersusun atas dua atom N dan 5 atom O sehingga rumus kimianya adalah N2O5
j)Disulfur diklorida memiliki rumus kimia S2Cl2
 

Jenis Senyawa : Asam, Basa, Ionik, Garam, Oksida dan Organik

 

Jenis senyawa kimia
Jenis Senyawa : Asam, Basa, Ionik, Garam, Oksida dan Organik. Ilustrasi dan sumber foto: Pixabay

 
Klik disini untuk mengetahui jenis-jenis senyawa lainnya.

 

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com
Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

 

Cara daftar pasang iklan gratis
3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter

 

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan sering terdengar jika Anda memasang applikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

 
Sumber bacaan: Britannica, Science Direct, LibreTexts, Elementalmatter