Tari Legong Bali, merupakan tarian yang berlatar belakang kisah cinta

4 min read

tari legong bali

Tarian Legong Bali

Tari legong Bali, merupakan tarian yang berlatar belakang kisah cinta Raja dari Lasem (rembang, pada zaman kerajaan Majapahit). Ditarikan secara dinamis dan memikat hati.

Tari Legong dahulu dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang sedang sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.

Beberapa usulan bahwa, menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel ( wilayah Sukawati ), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.


Arti Kata Legong

Kata Legong berasal dari kata “Leg” yang artinya elastis atau luwes yang kemudian diartikan sebagai gerakan tari yang gemulai.

Selanjutnya kata tersebut di atas dikombinasikan dengan kata “gong” yang artinya gamelan, sehingga menjadi “Legong” yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Sebutan Legong Kraton adalah merupakan perkembangannya kemudian.

Baca juga: Aksara Bali (Hanacaraka Bali) – 5 Warga: Kanthya, Talawya, Murdhanya, Dantya dan Osthya dan Contoh


Aliran Tari Legong

Legong adalah sekuler (balih-balihan) bergenre tari Bali. Meskipun awalnya terkait dengan istana, legong telah lama dilakukan di desa-desa, terutama pada upacara-upacara di pura, serta di festival-festival seni Bali.

Sejak tahun 1920-an, versi singkat dari tarian legong telah ditampilkan dalam konser yang diselenggarakan untuk wisatawan dan wisata luar negeri dengan orkestra Bali. Memang, tarian telah menjadi lambang budaya, dan citra yang digunakan untuk mengiklankan Bali kepada dunia internasional.

Secara tradisional, para penari 3 gadis-gadis muda; hamba (condong) sebagai penari “pendahuluan atau pembukaan” dan 2 legong. Semua memakai kostum yang rumit berlapis kain bewarna emas dengan aksesoris kipas (kecuali penari condong), beserta hiasan kepala dengan bunga kamboja.

Baca juga: GWK – Tempat Wisata Garuda Wisnu Kencana di Bali


Garis Waktu, Sejarah Tarian Legong

  • 1775: I Dewa Made Karna lahir.
  • 1811: penciptaan topeng Sang Hyang di Ketewel, dekat Sukawati, di Kerajaan Gianyar – biasanya diidentifikasi sebagai tanggal terlahirnya legong.
  • 1825: Karna meninggal.
  • 1847: saya terakhir Dewa Manggis berhasil takhta dari Gianyar.
  • 1850?: penciptaan Andir oleh I Gusti Ngurah Jelantik dari Blahbatuh.
  • 1889: penciptaan legong oleh Anak Agung Rai Perit dan I Dewa Ketut Belacing (dan I Dewa Made Duaja) dalam menanggapi permintaan dari Dewa Manggis Gianyar untuk versi Andir untuk gadis-gadis muda.
  • 1890: Perit dan Belacing mengajar di Peliatan.
  • 1891: akhir kekuasaan Dewa Manggis dari Gianyar – kekalahan Gianyar oleh Klungkung.
  • 1892: I Nyoman Kaler lahir – kemudian diajarkan oleh Perit dan Belacing – meninggal 1980?
  • 1893-?: Perit dan Belacing mengajar di Badung berikut pengasingan mereka ke Nusa Penida.
  • 1895: I Gusti Jelantik dari Saba lahir – kemudian diajarkan oleh Perit dan Belacing – meninggal 1945.
  • 1898: I Wayan Lotring lahir – kemudian diajarkan oleh Perit dan Belacing – meninggal 1982.
  • 1910: Condong ditambahkan ke legong di Sukawati.
  • 1916: I Wayan Rindi lahir – kemudian diajarkan oleh Perit dan Belacing – meninggal 1975.
  • 1916: Condong ditambahkan ke legong di Peliatan.
  • 1925: I Wayan Rindi diajarkan oleh terbaring di tempat tidur Perit dan Belacing di Sukawati
  • 1925: kematian Perit dan Belacing.
  • 1927 Condong ditambahkan ke legong di Keramas.
  • 1930 Condong ditambahkan ke legong di Saba.
  • 1932 Condong ditambahkan ke legong di Badung.

Baca juga: Hari Raya Kuningan – Hari Raya umat agama Hindu Dharma di Bali


Beberapa jenis dan macam-macam Tari Legong

Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta), Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista). Berikut beberapa Tari Legong:

1. Legong Lasem (Kraton)

Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata. Tarian ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton.

Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya.

Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut.

Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.

2. Legong Legod Bawa

Tari ini mengambil kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tatkala mencari rahasia lingga Dewa Syiwa.

3. Legong Jobog

Tarian ini, seperti biasa, dimainkan sepasang legong. Kisah yang diambil adalah dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

Karena ajimat itu dibuang ke danau ajaib, keduanya bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi kera., dan pertempuran tidak ada hasilnya.

4. Legong Smaradahana

Gubahan Bulantrisna Djelantik,  drama tari ini  mengisahkan kedukaan di kahyangan, ketika Dewa Siwa terpaksa dibangunkan dari tapa karena dibutuhkan para dewa untuk mengusir kekuatan jahat yang menyusup masuk. Dalam kemurkaan, ia tak sengaja membakar putranya sendiri, Dewa Semara, yang telah diutus untuk membangunkannya.

Istri Dewa Semara, yaitu Dewi Ratih yang diam-diam mengikuti suaminya, pun turut terbakar. Abu kedua sejoli itu kemudian turun ke bumi, mengisi hati manusia dengan rasa cinta kasih untuk kelangsungan kehidupan.

5. Legong Kuntul

Legong ini menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang asyik bercengkerama. Menggambarkan sekawanan burung kuntul, yaitu sejenis burung bangau ramping berbulu putih khas Bali, yang sedang bercengkarama sembari melepas dahaga di tepian sungai.

6. Legong Sudarsana

Mengambil cerita semacam Calonarang. yang mengisahkan kesetiaan seorang patih atau abdi kerajaan yang bernama Patih Sudarsana.

Calonarang sendiri dikenal makhluk jadi-jadian yang sangat menyeramkan, menguasai ilmu leak tingkat tinggi sehingga sangat ditakuti. Sejumlah kelompok drama tari di Bali memang spesial menyuguhkan pementasan ini. Pementasan drama tari tradisional Calonarang ini biasanya mengambil tempat di pura Dalem atau tempat yang berdekatan dengan kuburan dan ditengah malam, seni drama tari tradisional Bali ini dipentaskan sebagai tarian wali yang berbau horor bertujuan untuk membersihkan secara niskala wewidangan (wilayah) desa tersebut, digelar setelah rangkaian upacara yadnya (piodalan) di pura Dalem. Anak-anak di bawah umur tidak disarankan untuk menonton pertunjukan ini, karena memang bukan tontonan anak-anak dan khawatirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa daerah mempunyai legong yang khas. Di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang dinamakan Andir (Nandir). Di pura Payogan Agung (Ketewel) terdapat juga tari legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang ratu dedari atau Topeng ratu dedari.


Evolusi Tarian Legong

Tari-tari legong yang ada di Bali pada awalnya diiringi oleh gamelan yang disebut Gamelan Pelegongan.

Perangkat gamelan ini terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, gentorang. Sebagai tambahan, terdapat seorang juru tandak untuk mempertegas karakter maupun sebagai narrator cerita melalui tembang.

Namun, seiring perkembangan zaman dan populernya gamelan gong kebyar di Bali, akhirnya tari-tari palegongan ini pun bisa diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, karena tingkat fleksibilitasnya.

Baca juga ? Destinasi Tempat Wisata Bali Yang Harus Dikunjungi | Alam, Pantai, Oleh-Oleh Khas Bali


Bacaan Lainnya

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Sumber bacaan: Books and Journals, Bali Tourism Board

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *