fbpx

Info Terkini Gunung Sinabung – Sumatra Utara Dan Sejarah Erupsi

Gunung Sinabung di Sumatra Utara: Info Terkini

Senin, 2 Juli 2018 – Gunung Sinabung tingkat aktivitas Level IV (AWAS)

G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013. Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan ketinggian sekitar 500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 1 Juli 2018 tercatat:

  • 19 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tornillo

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Sabtu, 21 April 2018

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatra Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih – kelabu tebal, tekanan lemah hingga sedang setinggi 50-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah timur, tenggara, selatan, dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 21 April 2018 tercatat:

  • 10 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali getaran banjir/lahar hujan dengan amplitudo 120 mm, durasi 4088 detik.
  • Getaran Tremor menerus dengan Amplitudo maksimum 5-75 mm dominan (30 mm).

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Rabu, 20 Desember 2017

PVMBG menginformasikan bahwa, terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 18 Desember 2017 Pukul 13:16 WIB, terkait letusan yang terekam di seismograf selama 303 detik. Kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Kamis, 14 Desember 2017

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatra Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut. Asap kawah teramati setinggi 1000 m. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan, tenggara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tercatat 3 kali erupsi/letusan dan 27 kali gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu teramati setinggi 2000 m. Erupsi disertai guguran lava dan awan panas guguran terekam di seismograf namun secara visual tidak teramati karena tertutup kabut.

Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Selasa, 5 Desember 2017

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi letusan dan 76 gempa guguran.

Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 1000-1500 m  ke lereng selatan dan tenggara. Erupsi tidak disertai oleh awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait letusan selama 231 detik. Puncak tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Jum’at, 1 Desember 2017: (06:00 WITA)

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 3 kali erupsi/letusan dan 93 gempa guguran.

Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut. Teramati guguran lava sejauh 1000-2000 m ke arah timur-tenggara. Erupsi tidak disertai oleh awan panas.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Sabtu, 30 November 2017: (14:18 WIB)

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 November 2017 Pukul 14:18 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati karena kabut dan lama letusan 372 detik.
Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Selasa 28/11/2017 (06:00 WIB): AWAS Siaga IV

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan.

Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Terekam 34 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol. Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Gunung Sinabung Sumatera Utara 24-11-2017 0902 WIB

Gunung api Sinabung kembali meletus pada 24/11/2017 pukul 09:02 WIB. Tinggi kolom abu vulkanik 2.000 m, lama gempa erupsi 559 detik. Angin bertiup lemah ke arah Selatan – Baratdaya. Tidak ada penambahan pengungsi.
Sutopo Purwo Nugroho. Twitter: @Sutopo_BNPB

 

Minggu, 25 November 2017 (06:00 WIB)

Gunung Sinabung: tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu 2000 m diatas puncak. Terekam 58 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-1000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol. Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Rabu, 22 November 2017 (17:26 WIB)

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 November 2017 Pukul 17:26 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut.

Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 4 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Terjadi 1 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2300 m mengarah ke timur dan tenggara. Terekam 53 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 500-2000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol. Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Gunung Sinabung Sumatera Utara

Gunung Sinabung – Sumatra Utara. 18 November 2017. Sutopo Purwo Nugroho. Twitter: @Sutopo_BNPB

 

Selasa, 24 Oktober 2017 (14:45 WIB)

Gunung Sinabung meletus lagi pada 24/10/2017, 14.45 Wib. Awan panas meluncur 3km ke Timur-Tenggara. Tinggi kolom 1km. Lama gempa 300 detik. Sumber bacaan: Sutopo BNPB

 

Gunung Sinabung 24-10-2017 1445 WIB

Gunung Sinabung 24/10/2017 14:45 WIB. Sutopo Purwo Nugroho. Twitter: @Sutopo_BNPB

 

Oktober 2017

Aktivitas gunungapi Sinabung selama Oktober 2017 teramati asap kawah utama dengan tinggi maksimum 1500 meter di atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang, warna putih, intensitas tipis hingga tebal, guguran masih mendominasi arah luncuran ke tenggara-timur sejauh antara 500 – 2500 meter dan ke arah selatan sejauh 500 – 2000 m, sedangkan erupsi teramati sebanyak 47 kejadian, tinggi kolom erupsi berkisar antara 500 – 3600 meter di atas puncak. Teramati 8 kali kejadian Awan Panas Guguran meluncur ke arah timur-tenggara serta selatan sejauh 1000 – 4500 meter.

Kegempaan: Selama Oktober 2017 kegempaan didominasi oleh gempa Guguran dan Low Frequency masing-masing terekam sebanyak 1666 dan 584 kejadian perbulan, untuk gempa erupsi terekam selama Oktober 2017 sebanyak 55 kejadian perbulan, rincian gempa selengkapnya adalah sebagai berikut:

Oktober 2 (011117)

 

Tingkat Aktivitas : Berdasarkan data visual dan kegempaan selama Oktober 2017 tingkat aktivitas G. Sinabung Level IV (AWAS). Selama bulan ini tidak tercatat adanya korban harta maupun jiwa.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Letusan 2016

Pada tanggal 21 Mei 2016 pukul 16:48 WIB, Gunung Sinabung kembali meletus dengan mengeluarkan awan panas. Awan panas ini menyelimuti Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Akibatnya 7 orang meninggal dunia, dan 2 lainnya mengalami luka bakar. Para korban diketahui tengah berada di zona merah di kawasan Desa Gamber yang beradius 4 Km dari Gunung Sinabung. Sampai dengan 22 Mei 2016, telah terjadi 4 kali letusan. Menurut petugas pos gunung Sinabung, luncuran awan panas akibat erupsi pertama kali terjadi sekira pukul 14.30 WIB.

 

Letusan 2013-2014

Gunung Sinabung, tanggal 29 Januari 2014

Gunung Sinabung, tanggal 29 Januari 2014.

 

Letusan Gunung Sinabung 23 Oktober 2013 dilihat dari Lau Kawar

Letusan G. Sinabung 23 Oktober 2013 dilihat dari Lau Kawar (rangkaian letusan pukul 16:51 WIB). Sumber foto: PVMBG

 

Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, sampai 18 September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Pada 17 September 2013, terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari. Letusan ini melepaskan awan panas dan abu vulkanik.

Tidak ada tanda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan Berastagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman.

Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke level 3 menjadi Siaga. Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada tanggal 29 September 2013 status diturunkan menjadi level 2, Waspada. Namun demikian, aktivitas tidak berhenti dan kondisinya fluktuatif.

Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas dengan letusan-letusan yang semakin menguat, sehingga pada tanggal 3 November 2013 pukul 03.00 status dinaikkan kembali menjadi Siaga. Pengungsian penduduk di desa-desa sekitar berjarak 5 km dilakukan.

Letusan-letusan terjadi berkali-kali setelah itu, disertai luncuran awan panas sampai 1,5 km. Pada tanggal 20 November 2013 terjadi enam kali letusan sejak dini hari. Erupsi (letusan) terjadi lagi empat kali pada tanggal 23 November 2013 semenjak sore, dilanjutkan pada hari berikutnya, sebanyak lima kali. Terbentuk kolom abu setinggi 8000 m di atas puncak gunung. Akibat rangkaian letusan ini, Kota Medan yang berjarak 80 km di sebelah timur terkena hujan abu vulkanik.

Pada tanggal 24 November 2013 pukul 10.00 status Gunung Sinabung dinaikkan ke level tertinggi, level 4 (Awas).Penduduk dari 21 desa dan 2 dusun harus diungsikan.

Status level 4 (Awas) ini terus bertahan hingga memasuki tahun 2014. Guguran lava pijar dan semburan awan panas masih terus terjadi sampai 3 Januari 2014.Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus-menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa tambahan warga untuk mengungsi, hingga melebihi 20 ribu orang.

Setelah kondisi ini bertahan terus, pada minggu terakhir Januari 2014 kondisi Gunung Sinabung mulai stabil dan direncanakan pengungsi yang berasal dari luar radius bahaya (5 km) dapat dipulangkan. Namun demikian, sehari kemudian 14 orang ditemukan tewas dan 3 orang luka-luka terkena luncuran awan panas ketika sedang mendatangi Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung yang berada dalam zona bahaya I.

Tanggal 19 – 21 Oktober 2013

Cuaca berawan-mendung, hujan gerimis-deras, angin tenang dari arah timur, suhu 15-21 oC, G. sinabung lebih sering tertutup kabut, saat jelas teramati asap dari kawah puncak berwarna putih tebal dengan tinggi kolom asap 100 – 300 m.

Tanggal 22 Oktober 2013

Cuaca berawan-mendung, hujan gerimis-deras, angin tenang-sedang dari Barat, suhu 16-21 oC, G. sinabung lebih sering tertutup kabut, saat jelas teramati asap dari kawah puncak berwarna putih tebal keabu-abuan dengan tinggi kolom asap 250 m. hembusan asap (titik-titk fumarola) yang muncul di lereng sebelah utara puncak G. Sinabung (Lau Kawar) putih tebal dengan ketinggian 50-70 m.

Tanggal 23 Oktober 2013

Cuaca berawan-mendung, hujan gerimis-deras, angin tenang-sedang dari Barat angin tenang-sedang dari Barat, suhu 17-22 oC.

Pemantauan langsung di lapangan saat pemasangan reflektor (Foto 1), yang berlokasi di dekat hembusan asap (titik-titik fumarola) yang muncul di lereng sebelah utara puncak G. Sinabung (Lau Kawar). Terpantau adanya longsor di dua lokasi, yaitu ; di sepanjang titik-titik fumarola dan di sebelah kanan titik reflektor dengan lebar bukaan 40 m mengarah ke Lau Kawar.

Letusan terjadi pukul 16:19 WIB dan 16:51 WIB (Foto 2), teramati kolom asap letusan berasal dari lubang letusan 2010 (kawah puncak)  dan lubang rekahan (hasil erupsi 15 Oktober 2013) yang mengarah ke Lau Kawar. Pada saat letusan terjadi G. Sinabung tertutup kabut, namun saat jelas warna asap letusan abu-abu tebal, tekanan kuat dan letusan ketiga terjadi pada pukul 21:00 WIB.

Letusan dari kawah puncak mengarah ke timur-tenggara, sedangkan letusan dari lubang rekahan mengarah ke Timurlaut-Timur. Hujan abu melanda Desa Bekerah dan Simacem.

Hembusan asap (titik-titk fumarola) yang muncul di lereng sebelah utara puncak G. Sinabung (Lau Kawar) berwarna putih tebal dengan tekanan kuat mengarah ke timurlaut-timur.

Tanggal 24 Oktober 2013 terjadi 2 kali letusan abu di kawah puncak pada pukul 05:50 WIB (Foto 3) dan 06:12 WIB. Pada letusan pertama teramati tinggi kolom asap letusan 3000 meter disertai abu yang jatuh ke arah selatan gunung.

 

Letusan tahun 2010

Pada 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB (28 Agustus 2010, 17.15 UTC), gunung Sinabung mengeluarkan lava.

Status gunung ini dinaikkan menjadi Awas. Dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung.

Bandar Udara Polonia di Kota Medan dilaporkan tidak mengalami gangguan perjalanan udara.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernapasan ketika mengungsi dari rumahnya.

 

Letusan September 2010

27 Agustus – 7 April terjadi beberapa kali letusan yang diantaranya merupakan letusan freatik. Status G. Sinabung berubah dari tipe-B menjadi tipe-A.

Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer. Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini.

Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.

 

Letusan Gunung sinabung Sebelum Tahun 1600 – 1912

Gunungapi Sinabung merupakan gunungapi tipe B. Sejarah kegiatan gunungapi ini, khususnya yang berupa letusan tidak banyak diketahui dan tidak terdapat dalam catatan sejarah dan literatur. Kegiatan vulkanik yang tercatat adalah sebagai berikut:

Sebelum 1600 aktivitas terakhir yang ditimbulkan oleh gunungapi ini berupa muntahan batuan piroklastik serta aliran lahar yang mengalir ke arah selatan.
1912 Aktivitas solfatara terlihat di puncak dan lereng atas.

Sumber bacaan: Badan Geologi – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)


Gunung Sinabung

Gunung Sinabung (bahasa Karo: Deleng Sinabung) adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Indonesia. Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatra Utara dan menjadi puncak tertinggi ke 2 di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.451 meter.

Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.

 

Cara Mencapai Puncak Gunung Sinabung

Cara pencapaian ke lokasi puncak G. Sinabung, dapat ditempuh dari kota Bandung – Medan dengan angkutan udara. Dari kota Medan dapat menggunakan kendaraan bermotor hingga Kabanjahe atau ibukota kecamatan, desa maupun kampung yang terdekat untuk menempuh jalan ke arah puncak (Desa Tiga Pancur Kecamatan Simpang Empat, Kampung Guru Kinayan, atau dari arah timur laut).

Struktur Geologi Gunung Sinabung

Gunungapi Sinabung terbentuk pada tepian Baratlaut patahan cekungan Toba Tua. Garis patahan Strike Slip mengiri sepanjang batas bagian barat Toba, yang bagian atasnya terbentuk Gunungapi Sinabung menerus ke Timurlaut hingga Gunungapi Sibayak merupakan sesar orde kedua.

Struktur Sesar Normal dijumpai di daerah Danau Kawar. Sesar Normal Kawar ini merupakan sesar orde ketiga. Sesar tersebut kehilangan tekanan dan mengalami penurunan di bagian Selatan yang merupakan “hanging wall”- nya. Sesar ini dicirikan oleh morfologi triangular facet yang menjadi salah satu penciri sesar normal.

Selain struktur sesar, struktur lainnya seperti Struktur kelurusan topografi yang pada umumnya menunjukkan orientasi BaratDaya-TimurLaut serta struktur kawah juga di temukan pada bagian puncak Gunungapi dengan orientasi BaratLaut-Tenggara.

Sumber bacaan: Badan Geologi – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)

 

Daftar Lengkap Gunung Berapi Di Indonesia

Di Indonesia memiliki jumlah total 150 gunung berapi. Geografi Indonesia didominasi oleh gunung api yang terbentuk akibat zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Daftar gunung berapi di Indonesia ini melimuti: bawah laut, kaldera, bentuk kerucut, perisai, fumarol stratovulkan dan kompleks.

Klik disini untuk membaca daftar lengkap gunung berapi di Indonesia.

 

Bacaan Lainnya

 

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

 

Sumber bacaan: Magma IndonesiaBadan Geologi – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)

                      

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya


By | 2018-07-04T22:54:29+07:00 November 27th, 2017|Geografi & Sejarah|0 Comments

Leave A Comment