fbpx

Gunung Ibu Halmahera Berita Terkini Dan Sejarah Erupsi

Gunung Ibu di Halmahera – Pulau Maluku Utara: Berita Terkini

Sabtu, 21 April 2018 tercatat

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 100 kali Gempa Letusan
  • 76 kali Gempa Hembusan
  • 24 kali Gempa Guguran

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 April 2018 pukul 08:23 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Minggu, 15 April 2018 pukul 15:03 WITA

Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi.

Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis dengan ketinggian 300 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat dan baratdaya. Rekaman seismograf tanggal 21 April 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 22 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Rabu, 20 Desember 2017

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi asap kelabu teramati setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah selatan dan. Melalui rekaman seismograf pada tanggal 19 Desember 2017 tercatat:- 105 kali gempa letusan- 97 kali gempa Hembusan- 35 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Kamis, 7 Desember 2017: Waspada Level 2

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tampak tertutup kabut. Asap kelabu tebal tekanan sedang tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 07 Desember 2017 tercatat:- 82 kali gempa letusan- 86 kali gempa Hembusan- 33 kali gempa Tremor Harmonik.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 7 Desember 2017 tercatat:

  • 82 kali Gempa Letusan
  • 86 kali Gempa Hembusan
  • 33 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Kamis, 19 Oktober 2017: Waspada Level 2

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan teramati dengan ketinggian berkisar 200-400 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah Utara dan Timur. Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2017 tercatat:

-54 kali Erupsi/letusan
-50 kali Hembusan
-12 kali Guguran Lava
-2 kali Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Sejarah Letusan Gunung Ibu

Pertama kali Gunung Ibu diketahui meletus terjadi pada Agustus hingga September 1911. Tidak ada penjelasan jenis dan dampak letusan tersebut. Letusan berikutnya berlangsung 87 tahun kemudian, yaitu Desember 1998 yang menghasilkan sumbat lava. Berikut ini kronologi Letusan 1998-1999;

Desember 1998

18 penduduk Kampung Duono dan Going (5-6 km dari puncak) mendengar suara dentuman disusul kepulan asap dari puncak G. Ibu, yang selama ini tidak pernah mereka lihat. Dentuman terjadi secara sporadis, tetapi kepulan asap semakin hari semakin besar.
30 beberapa penduduk melaporkan hal tersebut kepada Pengamat Gunungapi di Pos PGA Gamkonora di Kampung Gamsungi, 25 km dari Duono
31 dilakukan pemeriksaan visual dan ternyata benar terjadi letusan. Diberlakukan status Siaga Ibu

Kubah Lava G. Ibu, 8 Desember 2009

Kubah Lava G. Ibu, 8 Desember 2009. Sumber foto: PVMBG

 

Januari 1999

02 Pengamat dari Pos PGA Gamkonora mulai melakukan pengamatan visual secara intensif dari Kampung Duono.
11 Tim terpadu dari Direktorat Vulkanologi tiba dan melakukan pengamatan seismik serta deformasi. Asap letusan semakin besar dan sudah berubah warna menjadi kelabu
16 Penduduk Kampung Going dan Barona, utara puncak, melihat lontaran material pijar dari puncak melampaui lereng utara, awal leleran lava ?

Februari 1999

02 Dilakukan pendakian puncak G. Ibu. Diketahui bahwa titik letusan berada di tempat di sudut utara-timurlaut pada dasar kawah. Dalam Peta Topografi Puncak G. Ibu, titik tersebut digambar sebagai cone. Magma sudah mencapai permukaan dan sudah membentuk sumbat, kemudian dikenal dengan sumbat lava 1999.

2

Sumbat lava 99 masih membara (A. Solihin, 1999)

Letusan berlangsung secara periodik. Satu periodik berlangsung antara 45 – 60 detik dengan selang waktu 5 – 15 menit setiap siklus. Letusan disertai suara gemuruh bagaikan suara mesin jet. Sebaran material letusan berukuran abu dan pasir terbatas di sekitar puncak dan lereng, tidak ada yang mencapai perkampungan.

3

Satu seri letusan yang terjadi pada 2 Februari 1999 (A. Solihin, 1999)

Maret 1999

06 dilakukan pendakian yang kedua kalinya. Frekwensi letusan sudah mulai berkurang. Sumbat Lava 99 tidak bertambah besar, volumenya 500.000 m3
09 status Siaga Ibu diturunkan menjadi Waspada Ibu
31 status kegiatan G. Ibu dinyatakan dalam Aktif-normal

Letusan 1998/1999 G. Ibu diawali dengan letusan freato magmatik yang menghancurkan kubah lama. Kegiatan berlanjut sebagai letusan magmatik yang berakhir dengan munculnya lava di dasar kawah kemudian dikenal sebagai Sumbat Lava 99.

Mei – Oktober 2001

Data satelit menunjukkan adanya aktifitas vulkanik G. Ibu selama Mei – Oktober 2001. Sebuah foto yang diambil pada Mei 2000 memperlihatkan kubah lava menutupi dasar kawah.

Mei – Agustus 2004

Pada periode 31 Mei – 29 Agustus 2004 tercatat asap kawah putih tipis – tebal mencapai ketinggian lebih kurang 50-150 meter di atas puncak. Kubah lava yang tumbuh di dalam kawah diperkirakan terus bertambah besar. Tingkat kegiatan G. Ibu berada pada tingkat Waspada (level II)

April 2008

  • Aktivitas kegempaan G. Ibu meningkat kembali sejak terekamnya gempa letusan dengan amplituda maksimum mencapai 48 mm dan lama gempa 470 detik pada tanggal 4 dan 5 April 2008.
  • Tanggal 6 – 14 April 2008 gempa letusan meningkat hingga 716 kejadian atau rata- rata 80 kejadian perhari.
  • Tanggal 15-18 April 2008 terekam gempa letusan 405 kejadian atau rata- rata 101 kejadian perhari. Gempa hembusan terekam rata-rata 50 kejadian perhari. Sedangkan getaran tremor vulkanik terekam dengan amplituda maksimum berkisar antara 1 – 3 mm.
  • Tanggal 19-20 April 2008 terekam gempa letusan 241 kejadian atau 120 kejadian perhari dan gempa hembusan terekam 143 kali kejadian. Gempa tremor vulkanik masih terekam dengan amplituda maksimum yang meningkat, yaitu berkisar antara 2 – 25 mm.
  • Secara visual aktivitas letusan yang keluar dari puncak G. Ibu teramati secara intensif sejak tanggal 4 April 2008. Asap letusan yang teramati berwarna kelabu dengan ketinggian berkisar antara 300 – 400 meter di atas puncak Ibu.
  • Tanggal 12 – 17 April 2008, ketinggian asap letusan berkisar antara 500-600 meter dari Kawah G. Ibu.
  • Sejak 18 April 2008 hingga saat ini, ketinggian asap letusan berkisar antara 700-800 meter dari Kawah G. Ibu.

Tanggal 21 April 2008 pukul 16.00 WIT Status kegiatan G. Ibu dinaikkan dari status Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).

Sumber bacaan: Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

 

Gunung Ibu

Gunung Ibu adalah gunung stratovolcano yang terletak di barat laut Pulau Halmahera, Indonesia. Puncak gunung merupakan kawah vulkanik. Pusat kawah memiliki lebar 1 km dan kedalaman 400 m, Sementara bagian luar memiliki lebar 1.2 km.

Terdapat banyak kerucut parasit yang terletak di timur laut puncak gunung dan terdapat bagian kecil di bagian barat daya gunung. Terdapat lelehan lava di bagian barat dataran gunung. Selain itu terdapat kawah-kawah kecil akibat letusan gunung di bagian barat dan utara.

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini.

 

Daftar Lengkap Gunung Berapi Di Indonesia

Di Indonesia memiliki jumlah total 150 gunung berapi. Geografi Indonesia didominasi oleh gunung api yang terbentuk akibat zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Daftar gunung berapi di Indonesia ini melimuti: bawah laut, kaldera, bentuk kerucut, perisai, fumarol stratovulkan dan kompleks.

Klik disini untuk membaca daftar lengkap gunung berapi di Indonesia.

Bacaan Lainnya

 

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

                      

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya


By | 2018-04-30T00:07:38+07:00 November 8th, 2017|Sehat & Cantik|0 Comments

Leave A Comment