fbpx

Rumus Depresiasi (Penyusutan)- Pengertian dan Contoh Soal dan Jawaban

Pengertian Depresiasi atau Penyusutan dalam Akuntansi

Adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya. Penerapan depresiasi akan memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.

Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.

Metode Garis-lurus:

{\displaystyle {\mbox{Biaya Depresiasi Tahunan}}={{\mbox{Biaya Aktiva Tetap}}-{\mbox{Nilai Sisa}} \over {\mbox{Umur Manfaat Aset}}(tahun)}}

 

 

Rumus Depresiasi

Rumus perhitungan penyusutan metode garis lurus adalah :

Perhitungan dengan menggunakan nilai residu:

= (Harga Perolehan – Nilai Sisa/Residu) : umur ekonomis (hitungan per bulan, karena beban penyusutan dihitung per bulan)

Perhitungan dengan tidak menggunakan nilai residu:

= Harga Perolehan : umur ekonomis (hitungan per bulan, karena beban penyusutan dihitung per bulan)

Rumus metode jumlah angka tahun

Jumlah angka tahun =   n2  + n
2

 

Depresiasi penyusutan

Rumus Depresiasi – Pengertian dan Contoh Soal dan Jawaban

 

Apa yang dimaksud dengan metode garis lurus?

Metode garis lurus adalah suatu metode penyusutan aktiva tetap di mana beban penyusutan aktiva tetap per tahunnya sama hingga akhir umum ekonomis aktiva tetap tersebut. Persentase penyusutan besarnya dua kali persentase atau tarif penyusutan metode garis lurus

 

Perbedaan Depresiasi dengan Deplesi 

Depresiasi merupakan suatu alokasi biaya penyusutan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut.

Deplesi merupakan suatu penyusutan pada bidang sumber daya pertambangan.

Perusahaan menghapus asset tak terwujud melalui amortisasi misalnya goodwil. Sering dilakukan amortisasi terhadap setiap nilai yang dibayar di atas nilai pembelian preferen atau obligasi terhadap setiap nilai yang dibayar di atas nilai pembelian preferen atau obligasi.

Namun dana amortisasi merupakan pengumpulan dana secara berkala untuk membayar beban amortisasi tersebut.

 

Apa yang dimaksud dengan nilai residu?

Nilai Residu adalah scrap value; residual value yaitu nilai sisa suatu barang yang sudah habis umur ekonomisnya; dalam akuntansi nilai tersebut diperhitungkan sebagai pengurang biaya overhead.

 

Apa yang dimaksud dengan akumulasi penyusutan?

Beban penyusutan adalah pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aktiva. Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban penyusutan periodik. Akun beban penyusutan akan tampak dalam laporan laba rugi, sedangkan akun akumulasi penyusutan akan terlihat dalam neraca.

 

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Biaya Penyusutan

Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan. Harga perolehan menjadi dasar penghitungan seberapa besar depresiasi yang harus dialokasikan per periode akuntansi. Harga ini diperoleh dari sejumlah uang yang dikeluarkan dalam memperoleh aktiva tetap hingga siap digunakan.

Nilai Residu (Salvage Value)

Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah baiknya jika aktiva dapat di daur ulang.

Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)

Sebagian besar aktiva memiliki dua jenis umur, yaitu umur fisik dan juga umur fungsional. Umur fisik dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun fungsinya).

Sedangkan umur fungsional biasanya dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman. Kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif seperti furniture, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.

 

Metode Penyusutan Aktiva

Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat keausan aktiva, yang mana untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutan yang paling sesuai. Berikut adalah beberapa metode penyusutan aktiva tetap.

Metode Penyusutan Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode garis lurus adalah suatu metode penyusutan aktiva tetap di mana beban penyusutan aktiva tetap per tahunnya sama hingga akhir umum ekonomis aktiva tetap tersebut. Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk atau jasa yang dihasilkan seperti bangunan dan peralatan kantor.

Metode Penyusutan Saldo Menurun (Double Declining Balance Method)

Metode saldo menurun adalah metode penyusutan aktiva tetap yang ditentukan berdasarkan persentase tertentu dihitung dari harga buku pada tahun yang bersangkutan. Persentase penyusutan besarnya dua kali persentase atau tarif penyusutan metode garis lurus.

Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun (Sum of The Year Digit Method)

Berdasarkan metode jumlah angka tahun, besarnya penyusutan aktiva tetap tiap tahun jumlahnya semakin menurun.

Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja (Service Hours Method)

Menurut metode ini, beban penyusutan aktiva tetap ditetapkan berdasarkan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.

Metode Penyusutan Satuan Hasil Produksi (Productive Output Method)

Menurut metode ini, beban penyusutan aktiva tetap ditetapkan berdasarkan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan. Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan hasil produksi, sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi hasil produksi.

Penyusutan merupakan salah satu risiko atas penggunaan aktiva tetap, di mana aktiva akan mengalami penyusutan, mulai dari penyusutan fungsi hingga nilai. Namun, dengan adanya manajemen aset (aktiva), perusahaan akan lebih mudah melakukan pemonitoran terhadap penyusutan. Bukan hanya itu, dengan manajemen aset, Anda juga dapat menjaga nilai aset hingga menciptakan manajemen resiko.

 

 

Contoh Soal Depresiasi

1. Berikut contoh perhitungan metode penyusutan garis lurus. Kasus : Dibeli sebuah bangunan pada tanggal 6 Agustus 2000 dengan harga beli (nilai perolehan) sebesar 1.2M dengan masa manfaat selama 20 tahun.
Soal: Hitunglah besar penyusutan per bulan dan akumulasi penyusutan sampai dengan bulan Desember 2004

Jawaban :

Perhitungan dengan menggunakan metode perhitungan manual

Pertama, kita hitung dahulu penyusutan per bulannya brp dengan rumus
= Harga Perolehan : Umur Ekonomis (hitungan per bulan, karena beban penyusutan dihitung per bulan)
= 1.200.000.000 : (20×12) (angka 20 = 20 tahun, 1 tahun ada 12 bulan. Jadi 20 x 12 = 240 bulan)
= 1.2000.000.000 : 240 bulan
= 5.000.000 <<== Ini adalah nilai penyusutan per bulannya

Kedua. kita hitung Akumulasi Penyusutannya dari Agustus 2000 sampai Desember 2004
= Nilai penyusutan per bulan x (jumlah bulan dari Agustus 2000 sampai Desember 2004)
= 5.000.000 x 53 bulan
= 265.000.000

 

2. Sebuah kios dibeli seharga Rp 8.000.000 dan diperkirakan dapat digunakan selama sepuluh tahun. Harga residu pada akhir tahun kesepuluh diperkirakan Rp 250.000. Depresiasi tahunan menurut metode garis lurus adalah…

Jewaban:
(Rp 8.000.000- Rp 250.000)  = Rp 775.000
10

 

3. Pada tahun pertama truk milik PT. Jaya Abadi menempuh jarak sejauh 15.000 kilometer.
Rumus penentuan beban depresiasi per satuan hasil dan beban depresiasi untuk setiap tahun selama masa manfaat adalah sebagai berikut:

Biaya Perolehan           :           Total                =          Beban Depresiasi
Depresiasi                         Satuan Hasil                      Per Satuan hasil

Rp 120.000.000            :           100.000 km      =          Rp 1.200

Beban Depresiasi          X         Hasil Produksi  =          Beban Depresiasi
Per Satuan hasil                         Tahun yang                   Tahun yang
Bersangkutan                 Bersangkutan

Rp 1.200                X             15.000          =          Rp 18.000.000

 

4. PT. Jaya Abadi pada tanggal 1 Januari 2011 membeli sebuah truk dengan biaya perolehan sebesar Rp 130.000.000 dengan nilai sisa Rp 10.000.000 jadi, biaya perolehan truk yang akan di depresiasi adalah Rp 120.000.000 yang diperoleh dari Rp 130.000.000 (harga perolehan) – Rp 10.000.000 (nilai sisa), dengan masa manfaat truk adalah 5 tahun dan tarif depresiasi truk per tahun adalah 20 % (100%: 5).

Jika menggunakan metode saldo menurun ganda, maka tariff metode garis lurus di atas yaitu 20% akan dikali 2 sehingga tarifnya menjadi 40% per tahun. Rumus perhitungan depresiasi truk untuk tahun pertama adalah…

Jawaban:

Nilai buku                                Tarif                            Beban
Pada                X           Saldo Menurun        =         Depresiasi
Awal tahun                                                                  Setahun

Rp 130.000.000       X                   40%             =    Rp 52.000.000

 

5. Contoh soal penyusutan metode jumlah angka tahun (JAT). Pada tanggal 2 Januari 2014, PT Grindra membeli sebuah mesin untuk meningkatkan produksinya. Harga perolehan Mesin Sebesar Rp 135.000.000,00 dengan taksiran nilai sisa (salvage value) sebesar Rp 15.000.000,00.
Dan ditaksir, mesin tersebut hanya mampu berproduksi sampai dengan 4 tahun.

Perhitungan:

JAT (Jumlah Angka Tahun) : 1+2+3+4 = 10

Dasar Penyusutan = Rp 135.000.000,00 – Rp 15.000.000,00
= Rp 120.000.000,00
Tahun           Tarif            Dasar Penyusutan                     Penyusutan
  1.                 4/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 48.000.000,00
  2                  3/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 36.000.000,00
  3                  2/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 24.000.000,00
  4                  1/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 12.000.000,00

Pencatatan:
     Jurnalnya sama saja dengan metode garis lurus ataupun saldo menurun.

31 Desember 2014

Debit | Depreciation Rp 48.000.000
Kredit |
Accumulated Depreciation
Rp 48.000.000
Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

31 Desember 2015

Debit | Depreciation Rp 36.000.000
Kredit |
Accumulated Depreciation
Rp 36.000.000
Begitupun dengan jurnal jurnal tahun berikutnya, sama, hanya angka yang berbeda…

Bagaimana jika aset tetap yang diperoleh, tidak pada awal tahun?

Pada contoh di atas tanggal 2 Januari, bagaimana jika seandainya aset tetap diperoleh misalnya,  terjadi pada bulan 12 Agustus ?

Jawaban:
Pada tahun 2014, aset cuma digunakan selama 5 bulan saja.

Perhitungan tarifnya tetap, hanya di bagi selama 5 bulan dari 12 bulan yang ada

Penyusutan tahun 2014 = 4/10 x 5/12 x  120.000.000
= Rp 20.000.000
Penyusutan tahun 2014 : 4/10 x 7/12 x 120.000.000 = Rp 28.000.000
: 3/10 x 5/12 x 120.000.000 = Rp 15.000.000 (+)
= Rp 43.000.000

# Dari mana angka 7/12 ?

# Dan mengapa tarif tahun 2015 masih menggunakan tarif tahun pertama (4/10)?

Karena pada tahun pertama, tarif 4/10 hanya digunakan selama 5 bulan saja.

Maka sisanya 7 bulan digunakan pada penyusutan tahun ke dua, dan setelah tahun kedua dihitung dengan tarif tahun pertama selama 7 bulan, (7/12)
Maka sisa 5 bulan berikutnya menggunakan tarif tahun berikurnya (3/10)
Begitu juga dengan tahun tahun berikutnya, pengerjaannya sama saja.

Pencatatan jurnalnya pun juga sama saja, tapi hanya berbeda di angka penyusutannya yang dihasilkan.
Notes:
Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun ini jarang sekali digunakan, karena pertimbangan perpajakan, di sini, aturan perpajakan membatasi metode ini.

Laporan pajak tidak bisa menggunakan metode ini dalam pelaporannya!

 

6. Pada tanggal 1 desember 2012, PT Kusuma Bangsa membeli sebuah kendaraan beroda empat angkut bekas dengan harga perolehan Rp 85.000.000. Mobil tersebut diperkirakan memiliki umur hemat 5 tahun, dengan nilai residu Rp 10.000.000. Berdasarkan data dalam ilustrasi ini hitunglah besarnya penyusutan dengan metode garis lurus!

Jawaban:

Diketahui harga perolehan kendaraan beroda empat Rp 85.000.000, Umur hemat 5 tahun, dan nilai residu Rp 10.000.000.
Berdasarkan data tersebut sanggup dicari besarnya penyusutan dengan metode garis lurus tiap tahun dengan perhitungan sebagai berikut:
Penyusutan tiap tahun = (Harga perlehan-Nilai residu) : Umur ekonomis
                      = (85.000.000 – 10.000.000) : 5
                      = Rp 15.000.000

 

7. Sebuah kendaraan beroda empat mulai dioperasikan untuk perjuangan pada tanggal 1 Januari 2012. Mobil tersebut diperoleh dengan harga Rp 165.000.000 dan ditaksir sanggup dioperasikan untuk perjuangan selama 5 tahun. Hitunglah penyusutan tiap tahun dengan metode menurun berganda!

Jawaban:

diketahui bahwa Harga perolehan Rp 165.000.000, nilai hemat 5 tahun. Berdasarkan data tersebut sanggup dihitung besarnya penyusutan tiap tahun dengan metode menurun ganda dengan perhitungan sebagai berikut:
Langkah pertama mencari besarnya besarnya persentase penyusutan tiap tahun;
Jika dalam metode garis lurus persentase penyusutan tiap tahun adalah:
= 100% : umur ekonomis
= 100% : 5 = 20%
Karena dalam metode menurun berganda besarnya persentase penyusutan 2x dari persentase metode garis lurus maka besarnya persentase penyusutan metode menurun berganda ialah 40%.
Langkah berikutnya ialah memilih besarnya penyusutan tiap tahun dengan perhitungan sebagai berikut:
Penyusutan = persentase penyusutan x Harga buku aktiva tetap
Penyusutan tahun 1 => 40% x 165.000.000 = Rp 66.000.000
Penyusutan tahun 2 => 40% x 99.000.000 = Rp 39.600.000
Penyusutan tahun 3 => 40% x 59.400.000 = Rp 23.760.000
Penyusutan tahun 4 => 40% x 35.640.000 = Rp 14.256.000
Penyusutan tahun 5 => 40% x 21.384.000 = Rp 8.553.600
Note: Harga buku = Harga perolehan – Akumulasi penyusutan, Pada tahun 1 belum ada akumulasi penyusutan alasannya ialah kendaraan beroda empat masih gres sehingga Harga buku aktiva = Harga perolehan.

 

8. Sebuah mesin produksi dengan harga Rp 315.000.000 mulai dipakai untuk operasi perusahaan pada bulan Januari 2011. Umur penggunaan ditaksir selama 5 tahun dengan nilai residu Rp 15.000.000. Hitunglah penyusutan tiap tahun dari penggunaan mesin tersebut dengan metode jumlah angka tahun!

Jawaban:

diketahui Harga perolehan mesin Rp 315.000.000, nilai residu Rp 15.000.000, dan umur hemat 5 tahun.
Berdasarkan data tersebut besarnya penyusutan tiap tahun dengan metode jumlah angka tahun sanggup dicari dengan perhitungan sebagai berikut:
Langkah pertama mencari jumlah angka tahun umur aktiva;
Jumlah angka tahun => 1+2+3+4+5 = 15
Setelah diketahui jumlah angka tahun selanjutnya sanggup dicari penyusutan tiap tahun dengan rumus berikut ini:
Penyusutan= Sisa umur penggunaan  x (harga perolehan-nilai residu)
                          Jumlah angka tahun
Penyusutan tahun 1 = (5/15) x (315.000.000-15.000.000) = Rp 100.000.000
Penyusutan tahun 2 = (4/15) x (315.000.000-15.000.000) = Rp 80.000.000
Penyusutan tahun 3 = (3/15) x (315.000.000-15.000.000) = Rp 60.000.000
Penyusutan tahun 4 = (2/15) x (315.000.000-15.000.000) = Rp 40.000.000
Penyusutan tahun 5 = (1/15) x (315.000.000-15.000.000) = Rp 20.000.000

9. Harga perolehan mesin produksi Rp 12.500.000 dengan Nilai Residu Rp 780.000,umur hemat empat tahun. selama 4 tahun mesin tersebut dipakai sebanyak 10.000 jam,sedangkan aktivitas untuk tahun pertama 3500 jam, tahun kedua 2800 jam, tahun ketiga 2000 jam, dan tahun keempat 1700 jam. Hitunglah penyusutan tiap tahun dari mesin tersebut dengan metode satuan jam kerja!

Jawaban:
Harga perolehan aktiva tetap dalam hal ini mesin sebesar Rp 12.500.000
Nilai Residu Rp 780.000
Umur hemat selama 4 tahun
Jumlah total jam penggunaan mesin dalam operasional perusahaan selama umur hemat sejumlah 10.000 jam, dengan perincian tahun pertama 3500 jam, tahun kedua 2800 jam, tahun ketiga 2000 jam, dan tahun keempat 1700 jam.
Berdasarkan data tersebut maka kita sanggup mencari penyusutan mesin dalam tiap jam penggunaan mesin tersebut maupun penyusutan mesin tiap tahun, adapun perhitungan penyusutan mesin dengan metode satuan jam kerja ialah sebagai berikut:
Penyusutan mesin perjam = (Harga perolehan-Nilai residu)/Total jam kerja
                                               = (12.500.000-780.000) : 10.000
                                               = Rp 1.172
Penyusutan mesin per tahun sanggup diketahui dengan perhitungan sebagai berikut:
Penyusutan pertahun = penyusutan per unit x jumlah jam kerja pertahun
Tahun 1 => 1.172 x 3500 = Rp 4.102.000
Tahun 2 => 1.172 x 2800 = Rp 3.281.000
Tahun 3 => 1.172 x 2000 = Rp 2.344.000
Tahun 4 => 1.172 x 1700 = Rp 1.992.000

10. Harga perolehan mesin produksi Rp 12.500.000 dengan Nilai Residu Rp 780.000, selama 4 tahun ditaksir akan menghasilkan 40.000 unit dengan perincian sebagai berikut:

tahun pertama 1500 unit, tahun kedua 10.000 unit, tahun ketiga 8000 unit, dan tahun keempat 7000 unit. Hitunglah penyusutan perunit dan penyusutan tiap tahun dari mesin tersebut dengan metode satuan unit produk!

Jawaban:
Harga perolehan aktiva tetap dalam hal ini mesin sebesar Rp 12.500.000
Nilai Residu Rp 780.000
Umur hemat selama 4 tahun
Jumlah total produk yang sanggup dihasilkan oleh mesin tersebut selama umur hemat sejumlah 40.000 unit, dengan perincian tahun pertama 1500 unit, tahun kedua 10.000 unit, tahun ketiga 8000 unit, dan tahun keempat 7000 unit.
Berdasarkan data tersebut maka kita sanggup mencari penyusutan mesin dari tiap unit produk yang dihasilkan maupun penyusutan mesin tiap tahun, adapun perhitungan yang diharapkan ialah sebagai berikut:
Penyusutan mesin perunit produk = (Harga perolehan-Nilai residu)
                                                                    Total unit produk
                                                                 = (12.500.000-780.000) : 40.000
                                                                 = Rp 293
Penyusutan mesin per tahun sanggup diketahui dengan perhitungan sebagai berikut:
Penyusutan pertahun = penyusutan per unit x jumlah produk pertahun
Tahun 1 => 293 x 15.000 = Rp 4.395.000
Tahun 2 => 293 x 10.000 = Rp 2.930.000
Tahun 3 => 293 x 8000 = Rp 2.344.000
Tahun 4 => 293 x 7000 = Rp 2.051.000

 

Bacaan Lainnya

 

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

 

Cara daftar pasang iklan gratis

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter

 

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Sumber bacaan: Investopedia

                             

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya


By | 2018-11-23T14:58:25+00:00 Oktober 22nd, 2018|Matematika|0 Comments

Leave A Comment