Laba Ditahan (Retained Earnings) – Rumus, Contoh, Soal, Jawaban

Laba Ditahan (Retained Earnings)

Laba ditahan atau retained earnings adalah bagian dari laba bersih perusahaan yang dengan sengaja tidak dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen guna membiayai berbagai kepentingan perusahaan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.

Dengan demikian, laba ditahan merupakan sisa laba bersih perusahaan yang telah dikurangi dengan dividen.

Seperti melakukan investasi di berbagai sektor yang menguntungkan atau melakukan ekspansi daerah kerja dan pemasaran produk perusahaan.

Fungsi penggunaannya

  • Pengembangan usaha (ekspansi bisnis) perushaan.
  • Membiayai kegiatan operasional.
  • Pembayaran utang usaha.

Rumus laba ditahan

Laba ditahan = laba bersih – dividen yang telah dibayarkan

Laba ditahan kumulatif = laba ditahan periode lalu + laba ditahan periode berjalan


Cara Menghitung Laba Ditahan Perusahaan

1. Kumpulkan Data yang diperlukan dari Laporan Keuangan Perusahaan

Setiap perusahaan diharuskan untuk melakukan dokumentasi atas riwayat keuangan perusahaan secara resmi. Jika Anda bisa melakukannya, biasanya Anda akan lebih mudah menghitung laba ditahan atau retained earnings selama periode yang berjalan dengan menggunakan angka-angka dari laporan resmi untuk mengetahui jumlah retained earnings pada tanggal tertentu, laba bersih, dan dividen yang sudah dibayar, dibandingkan jika Anda harus menghitungnya secara manual.

Retained earnings perusahaan sampai dengan periode pencatatan yang terakhir akan ditampilkan dalam neraca, sementara laba bersih perusahaan akan ditampilkan dalam laporan laba rugi untuk periode yang berjalan.

Jika Anda bisa memperoleh semua informasi ini, Anda bisa menghitung laba ditahan dengan rumus sebagai berikut:

Laba bersih – dividen yang dibayarkan = laba ditahan

Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih kumulatif, tambahkan angka laba ditahan yang baru saja Anda hitung dengan saldo laba ditahan yang sudah ada pada saat ini.

Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2011 bisnis Anda mempunyai saldo retained earnings kumulatif sebesar Rp512 juta. Selama tahun 2012, bisnis Anda menghasilkan laba bersih sebesar Rp21,5 juta dan membayar dividen sebesar Rp5,5 juta. Saldo akhir retained earnings dari bisnis Anda adalah sebesar:

Rp21,5 juta – Rp5,5 juta = Rp16 juta
Rp512 juta + Rp16 juta = Rp528 juta
Jadi, bisnis Anda sudah mempunyai laba ditahan sebesar Rp528 juta.

2. Jika Tidak memiliki informasi Laba Bersih, Mulailah dengan Menghitung laba kotor

Jika Anda tidak bisa mengakses nilai laba bersih secara pasti, Anda bisa menghitung laba bersih dari sebuah bisnis dengan menghitung secara manual melalui sebuah proses yang sedikit lebih panjang. Mulailah dengan menghitung laba kotor perusahaan. Laba kotor adalah sebuah angka yang dihasilkan dari laporan laba rugi dan dihitung dengan cara mengurangi uang dari hasil penjualan dengan harga pokok penjualan.

Sebagai contoh, misalnya sebuah perusahaan berhasil mencapai angka penjualan sebesar Rp150.000 dalam satu kuartal, tetapi harus membayar Rp90.000 untuk barang-barang yang dibutuhkan dalam menghasilkan angka penjualan sebesar Rp150.000 tersebut. Laba kotor selama satu kuartal ini adalah,

Rp150.000 – Rp90.000 = Rp60.000

Baca juga 👉 Laba Bersih (Net Income) dan Kotor (Gross Profit) – Rumus, Soal dan Jawaban

3. Hitunglah laba operasi

Laba operasi mencerminkan laba perusahaan setelah membayar biaya-biaya penjualan dan biaya-biaya operasi, seperti upah yang sudah dibayar. Untuk menghitung laba operasi ini, kurangi laba kotor dengan biaya-biaya operasi perusahaan (tidak termasuk harga pokok penjualan).

Misalnya, dalam kuartal yang sama di mana bisnis kita menghasilkan laba kotor sebesar Rp60.000, ada pembayaran biaya-biaya administrasi dan upah sebesar Rp15.000. Dengan demikian laba operasi perusahaan akan menjadi,

Rp60.000 – Rp15.000 = Rp45.000.

4. Hitung laba bersih sebelum pajak

Untuk menghitung laba bersih sebelum pajak, kurangi laba operasi perusahaan dengan bunga, depresiasi, dan amortisasi. Depresiasi dan amortisasi yaitu penyusutan dari nilai aktiva (berwujud dan tidak berwujud) selama masa ekonomisnya. Hal ini dicatat sebagai biaya dalam laporan laba rugi. Jika sebuah perusahaan membeli peralatan dengan harga Rp10.000 dengan masa ekonomis 10 tahun, akan timbul biaya depresiasi sebesar Rp1.000 per tahun, dengan asumsi nilainya terdepresiasi secara merata.

Misalnya perusahaan kita membayar biaya bunga sebesar Rp1.200 dan biaya depresiasi sebesar Rp4.000. Laba bersih sebelum pajak dari perusahaan kita akan menjadi

Rp45.000 – Rp1.200 – Rp4.000 = Rp39.800.

Baca juga 👉 Laba Sebelum Pajak (Earning Before Tax) – Contoh Soal dan Jawaban

5. Hitunglah laba bersih setelah pajak

Biaya terakhir yang harus kita perhitungkan adalah pajak. Untuk menghitung laba bersih setelah pajak, pertama-tama kali-kan tarif pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum pajak. Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih setelah pajak, kurangi angka hasil perkalian ini dari angka laba bersih sebelum pajak.

Dalam contoh yang kita bahas, kita asumsikan bahwa tarif pajak adalah 34%. Biaya pajak yang harus kita bayar adalah sebesar,

34% (0,34) x Rp39.800 = Rp13.532.

Selanjutnya, kita kurangkan angka ini dari jumlah laba bersih sebelum pajak sebagai berikut.

Rp39.800 – Rp13.532 = Rp26.268.

Baca juga 👉

6. Kurangi dengan Jumlah Dividen yang Sudah Dibayarkan

Setelah kita menghitung besarnya laba bersih perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya-biaya yang menjadi kewajiban kita, kita mempunyai sebuah angka yang bisa kita gunakan untuk menghitung besarnya laba ditahan selama periode pembukuan yang berjalan. Untuk menghitungnya, kurangi laba bersih setelah pajak dengan dividen yang sudah dibayarkan.

Dalam contoh yang kita bahas, kita asumsikan bahwa kita membayar dividen kepada para investor sebesar Rp10.000 untuk kuartal ini. Laba ditahan untuk periode yang berjalan ini akan menjadi,

Rp26.268 – Rp10.000 = Rp16.268.

Baca juga 👉 Laporan Laba Ditahan atau Laporan Ekuitas (Statement of changes in equity) – Rumus, Contoh, Soal

7. Hitung saldo akhir dari Akun Laba Ditahan

Retained earnings adalah akun kumulatif yang menunjukkan perubahan bersih dari retained earnings sejak berdirinya perusahaan sampai saat ini. Untuk mengetahui besarnya retained earnings secara keseluruhan, tambahkan retained earnings dari periode yang sedang berjalan dengan saldo akhir retained earnings pada saat periode pembukuan yang lalu berakhir.

Kita asumsikan bahwa perusahaan kita sudah menahan laba sebesar 30.000 sampai saat ini. Sekarang saldo pada akun retained earnings kita akan menjadi,

Rp30.000 + Rp16.268 = Rp46.268

Perhitungan retained earnings ini tentu saja berbeda di tiap perusahaan. Hal ini dikarenakan perbedaan jumlah deviden yang telah disepakati komisaris atau perbedaan jenis perusahaan. Ketika semua perhitungan di atas sudah dipenuhi, makan jumlah retained earnings yang tersisa bisa kembali ke perusahaan sebagai investasi untuk quartal selanjutnya. Tetapi bisa juga retained earnings ini dapat dialokasikan untuk hal lain sesuai dengan kesepakatan komisaris perusahaan. Laba ditahan juga memungkinkan memiliki nilai minus karena perusahaan tersebut mengalami kerugian dibandingkan tahun sebelumnya. Karena kerugian lebih besar dari total seluruh retained earnings, hal ini yang memungkinkan total retained earnings menjadi minus.

Itulah penjelasan mengenai  cara menghitung laba ditahan. Perhitungan laba ditahan (retained earnings) dapat dilakukan dengan akuntan yang ahli atau untuk menghitung laba ditahan lebih mudah, Anda bisa mulai membuat laporan retained earnings dengan menggunakan software akuntansi.


Tujuan Melakukan Penahanan Laba

Laba ditahan bukan tanpa sebab dan tujuan. Tetapi, ada kedaruratan tertentu yang membuat semua pemilik saham sepakat, laba yang menjadi hak mereka tidak dulu diberikan. Berikut tujuan-tujuan yang dimaksud:

1. Untuk membayar utang perusahaan

Sistem laporan laba ini dilakukan untuk tujuan membayar utang yang dilakukan perusahaan. Terutama untuk hutang yang telah jatuh tempo. Karena jika tidak dibayarkan, tentu perusahaan akan bermasalah.

Jika hutangnya cukup besar, biasanya pemilik saham sepakat pembayarannya melalui sistem laba di tahan. Karena bagi mereka, nama baik perusahaan lebih utama dibandingkan penghasilan mereka. Toh, profit yang didapatkan nantinya bisa berlipat ganda.

2. Sebagai modal usaha lanjutan

Tujuan yang pertama adalah sebagai modal usaha lanjutan. Maksudnya laba tersebut diputar kembali menjadi modal untuk usaha. Tentu harapannya adalah supaya produksi lebih meningkat.

Ini dilakukan apabila, keuntungan yang didapatkan perusahaan tidak terlalu besar. Padahal, di saat itu, kebutuhan akan modal jauh lebih banyak. Maka dari itu, solusi yang diambil ialah, menerapkan sistem laba ditahan yang disepakati bersama.

Baca juga 👉 Modal Kerja (working capital) – Rumus Akuntansi, Penjelasan, Contoh Soal dan Jawaban

3. Sebagai modal cadangan

Laba ditahan diberlakukan dengan tujuan untuk menambah modal cadangan. Ini terjadi, apabila stok finansial perusahaan sangat tipis, yang apabila laba masih harus dibagi-bagi, produksi selanjutnya bakal terganggu.

Maka dari itu, opsinya adalah menahan laba untuk periode tertentu. Agar bisa dimasukkan ke dalam modal cadangan. Tentunya, ini membutuhkan kesepakatan dengan pemilik saham. Karena mereka juga berhak atas laba tersebut. Maka dari itu, diperlukan namanya rapat dengan pemilik modal.

4. Untuk modal pengembangan bisnis

Jika menemukan strategi yang bagus untuk mengembangkan usaha, tetapi terkendala dengan modal, maka sistem laba ditahan kadang diperlukan. Ini berlaku, apabila strategi ini muncul ketika pembagian laba perusahaan sudah dekat.

Maka dari itu, dilakukan perjanjian lanjutan yang mengharuskan pembagian laba ditunda untuk periode tertentu, demi kelancaran strategi tersebut. Biasanya pihak pemodal menyetujuinya dengan catatan, keuntungan yang diperoleh harus lebih besar dibandingkan sebelumnya.

5. Sebagai investasi lanjutan

Terkadang, laba ditahan tidak atas keinginan pemilik perusahaan maupun pemilik saham tertinggi. Tetapi memang keinginan sebagian besar pemodal di perusahaan tersebut.

Tujuannya adalah untuk diinvestasikan kembali ke dalam bentuk saham lanjutan. Sehingga jumlah saham yang dimiliki bertambah. Yang artinya keuntungan dari laba perusahaan juga semakin besar.


Perpajakan

Laba Ditahan sampai saat ini bukan merupakan objek pajak di Indonesia. Pajak baru dikenakan saat dibagikan kepemegang saham dalam bentuk dividen.

Pendapatan dividen masuk dalam objek pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan (PPh). Besaran PPh yang dikenakan 10% bersifat final. Investor saham juga dikenakan pajak penjualan saham. Tarif pemungutan PPh yang bersifat final adalah 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham.

Baca juga 👉 Pajak Penghasilan: Pph 21, 22, 23, 25, 26, 29, Pasal 4 ayat (2), Pasal 15, PPN – Cara Menghitung Pajak Penghasilan Badan Usaha


Contoh Soal Laba Ditahan

Jika perusahaan A memiliki saldo laba ditahan kumulatif sebesar Rp 200 juta pada akhir periode 2016. Selama periode 2017, kegiatan usaha perusahaan A menghasilkan laba bersih sebesar Rp 77 juta dan sebesar Rp 37 juta dibayarkan kepada investor sebagai dividen. Hitung saldo laba ditanhannya perusahaan A tersebut!

Jeawaban:

Jadi, saldo labaditahan perusahaan A dapat dihitung:

Laba ditahan = Rp 77 juta – Rp 37 juta = Rp 40 juta

Contoh soal pembuatan laporan laba ditahan. PT Manajemen ABC melaporkan hasil-hasil berikut ini untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020. Sebagai berikut:

  • Laba ditahan, 1 April 2017 = Rp 3.000.000.000

  • Laba bersih = Rp 250.000.000

  • Dividen tunai yang diumumkan = Rp 50.000.000

  • Dividen saham yang diumumkan = Rp 100.000.000

Jawaban:

Dari data-data tersebut maka dapat dibuat Laporan Laba Ditahan sebagai berikut:

PT Manajemen ABC
Laporan Laba Ditahan
Periode berakhir 31 Maret 2020

Laba ditahan 1 April 2019 3 000 000 000
Laba Bersih 250 000 000
Dikurangi dividen yang diumumkan 150 000 000
Kenaikan laba ditahan 100 000 000
Laba ditahan 31 Maret 2020 3 100 000 000

Perusahaan PT ABC Grup pada neraca keuangannya memiliki retained earning di tahun 2017 sebesar Rp11,246 Miliar. Pada tahun 2018 perusahaan PT ABC Grup mendapatkan laba bersih sebesar Rp13, 127 Miliar dan harus membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya sebesar Rp9,314 Miliar. Berapakah retained earnings (laba ditahan) dari perusahaan PT ABC Grup di tahun 2018?

Jawaban:

Untuk menjawabnya cukup sederhana kamu hanya perlu menggunakan rumus di atas

Nilai Awal laba ditahan + Laba (rugi) bersih – dividen

RE = (11,246 Miliar + 13, 127 Miliar) – 9,314 Miliar

RE = 15,059 Miliar untuk tahun 2018.

Lalu pertanyaannya apakah jika pada tahun 2018 PT ABC Grup, dengan kebijakannya yang dimiliki tidak membayar dividen kepada para pemegang sahamnya berapakah retained earning dari PT ABC Grup di tahun 2018?

Jawabanya adalah 24,373 Miliar retained earning yang diimiliki perusahaan PT ABC Grup. Secara sederhana retained earning adalah uang (atau sisa uang) yang dihasilkan  perusahaan  dan tetap berada dalam perusahaan, tidak diambil atau dibagikan ke pemilik perusahaan, investor, ataupu para pemegang sahamnya.

Baca juga 👉 Laporan Laba Rugi – Pengertian dan Contoh (Income Statement atau Profit and Loss Statement)

Contoh jurnal laba ditahan. Semisal di awal tahun 2020, saldo laba ditahan dari PT Mekar Abadi adalah IDR 4700. Laba bersih yang berhasil dibukukan selama tahun 2020 adalah IDR 5.800.
Di akhir periode, perusahaan ini akan membagikan dividen tunai yakni IDR 5.300 pada pemegang saham dengan pembagian IDR 2.000 bagi pemegang saham preferen dan IDR 3.000 bagi pemegang saham biasa. Buatlah laporan laba ditahan Per 31 Desember 2020!

Jawaban:

Laporan Laba Ditahan Per 31 Desember 2020

Saldo Laba Ditahan (1 Januari 2020) 4.700
Laba Bersih Setelah Pajak (selama 2020) 5.800
Pembayaran Dividen TunaiSaham Preferen

Saham Biasa

Total Pembayaran Dividen

2000

3.300

5.300
Laba Ditahan (31 Des 2020) 5.200

Itulah pembahasan mengenai jurnal laba ditahan beserta contohnya. Semoga mudah dipahami.


Bacaan Lainnya

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

Pasang iklan gratis di toko pinter

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan?
Pasang iklan & promosikan jualan Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

Cara daftar pasang iklan gratis

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Sumber bacaan: Accounting Tools,

Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya | Business & Marketing

By | 2020-10-12T20:41:48+07:00 Oktober 12th, 2020|Akuntansi|0 Comments

Leave A Comment