Penyakit Mental (Gangguan Jiwa) – Daftar Penyakit Gangguan Psikologis – Macam-Macam Jenis Penyakit Mental dan Contohnya

Penyakit Mental – Daftar Penyakit dan Jenis Gangguan Psikologis atau Gangguan Jiwa

Istilah penyakit mental atau gangguan psikologis terkadang digunakan untuk merujuk pada apa yang lebih sering dikenal sebagai gangguan jiwa atau gangguan kejiwaan. Gangguan mental adalah pola gejala perilaku atau psikologis yang memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Gangguan ini menimbulkan tekanan bagi orang yang mengalami gejala ini.

Meskipun bukan daftar lengkap setiap gangguan mental, daftar berikut mencakup beberapa kategori utama gangguan yang dijelaskan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Edisi terbaru dari manual diagnostik adalah DSM-5 dan dirilis pada Mei 2013.1 DSM adalah salah satu sistem yang paling banyak digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental dan menyediakan kriteria diagnostik standar. DSM dijadikan paduan utama untuk diagnosis-diagnosis psikiatris. Rekomendasi pengobatan, serta pembayaran oleh penyedia layanan kesehatan, sering kali ditentukan oleh klasifikasi DSM, sehingga kemunculan vrsi baru memiliki pengaruh terapan yang signifikan.

Ada hampir 300 gangguan mental yang terdaftar di DSM-5 (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).

1. Gangguan Perkembangan Saraf (Neurodevelopmental Disorders)

Gangguan perkembangan saraf adalah gangguan yang biasanya didiagnosis selama masa bayi, masa kanak-kanak, atau remaja. Gangguan psikologis tersebut meliputi:

Cacat Intelektual (Intellectual Disability)

Kadang-kadang disebut Gangguan Perkembangan Intelektual, diagnosis ini sebelumnya disebut sebagai keterbelakangan mental.1 Jenis gangguan perkembangan ini berasal sebelum usia 18 tahun dan ditandai dengan keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif.

Keterbatasan fungsi intelektual sering kali diidentifikasi melalui penggunaan tes IQ, dengan skor IQ di bawah 70 sering menunjukkan adanya batasan. Perilaku adaptif adalah perilaku yang melibatkan keterampilan praktis sehari-hari seperti perawatan diri, interaksi sosial, dan keterampilan hidup.

Keterlambatan Perkembangan Global (Global Developmental Delay)

Diagnosis ini untuk gangguan perkembangan pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Penundaan tersebut berkaitan dengan kognisi, fungsi sosial, bicara, bahasa, dan keterampilan motorik.

Ini umumnya dilihat sebagai diagnosis sementara yang berlaku untuk anak-anak yang masih terlalu muda untuk mengikuti tes IQ standar. Begitu anak-anak mencapai usia di mana mereka dapat mengikuti tes kecerdasan standar, mereka mungkin didiagnosis dengan disabilitas intelektual.

Gangguan Komunikasi (Communication Disorders)

Gangguan ini adalah gangguan yang memengaruhi kemampuan untuk menggunakan, memahami, atau mendeteksi bahasa dan ucapan. DSM-5 mengidentifikasi empat subtipe gangguan komunikasi yang berbeda: gangguan bahasa, gangguan suara bicara, gangguan kefasihan onset masa kanak-kanak (gagap), dan gangguan komunikasi sosial (pragmatis).

Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder)

Gangguan ini ditandai dengan defisit yang terus-menerus dalam interaksi sosial dan komunikasi di berbagai bidang kehidupan serta pola perilaku yang terbatas dan berulang. DSM menetapkan bahwa gejala gangguan spektrum autisme harus ada selama periode perkembangan awal dan bahwa gejala ini harus menyebabkan kerusakan yang signifikan di bidang kehidupan penting termasuk fungsi sosial dan pekerjaan.

Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD ditandai dengan pola persisten hiperaktif-impulsif dan / atau kurangnya perhatian yang mengganggu fungsi dan muncul dalam dua atau lebih pengaturan seperti di rumah, tempat kerja, sekolah, dan situasi sosial.4 DSM-5 menetapkan bahwa beberapa dari gejala harus ada sebelum usia 12 tahun dan gejala ini harus berdampak negatif pada fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis.

2. Bipolar dan Gangguan Terkait Penyakit Mental (Bipolar and Related Disorders)

Gangguan bipolar merupakan kategori utama dari gangguan psikologis

Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati serta perubahan tingkat aktivitas dan energi. Gangguan ini sering kali melibatkan perubahan antara suasana hati yang meningkat dan periode depresi. Suasana hati yang meningkat seperti itu dapat diucapkan dan disebut sebagai mania atau hipomania.

Mania

Suasana hati ini ditandai dengan periode berbeda dari suasana hati yang meningkat, meluas, atau mudah tersinggung disertai dengan peningkatan aktivitas dan energi. Periode mania terkadang ditandai dengan perasaan terganggu, mudah tersinggung, dan percaya diri yang berlebihan. Orang yang mengalami mania juga lebih rentan untuk melakukan aktivitas yang mungkin memiliki konsekuensi negatif jangka panjang seperti berjudi dan berbelanja.

Episode Depresi (Depressive Episodes)

Episode ini ditandai dengan perasaan tertekan atau sedih bersama dengan kurangnya minat dalam aktivitas. Ini mungkin juga melibatkan perasaan bersalah, kelelahan, dan mudah tersinggung. Selama masa depresi, penderita bipolar mungkin kehilangan minat pada aktivitas yang mereka sukai sebelumnya, mengalami kesulitan tidur, dan bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Episode manik dan depresi dapat menakutkan bagi orang yang mengalami gejala-gejala ini serta keluarga, teman, dan orang yang dicintai yang mengamati perilaku dan perubahan suasana hati ini. Untungnya, perawatan yang tepat dan efektif, yang sering kali mencakup obat-obatan dan psikoterapi, dapat membantu orang dengan gangguan bipolar mengelola gejala mereka dengan sukses.

Dibandingkan dengan edisi DSM sebelumnya, dalam DSM-5 kriteria episode manik dan hipomanik mencakup peningkatan fokus pada perubahan tingkat energi dan aktivitas serta perubahan suasana hati.

3. Gangguan kecemasan (Anxiety Disorders)

Gangguan kecemasan adalah salah satu jenis gangguan psikologis dan penyakit mental.
Gangguan kecemasan adalah gangguan yang ditandai dengan rasa takut, khawatir, cemas, dan gangguan perilaku terkait yang berlebihan dan terus-menerus. Ketakutan melibatkan respons emosional terhadap suatu ancaman, baik ancaman itu nyata maupun yang dipersepsikan. Kecemasan melibatkan antisipasi bahwa ancaman di masa depan mungkin muncul. Jenis gangguan kecemasan meliputi:

Gangguan Kecemasan Umum (GAD: Generalized Anxiety Disorder)

Gangguan ini ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap kejadian sehari-hari. Meskipun stres dan kekhawatiran adalah hal yang normal dan bahkan umum dalam hidup, GAD melibatkan kekhawatiran yang terlalu berlebihan sehingga mengganggu kesejahteraan dan fungsi seseorang.

Agoraphobia

Kondisi ini ditandai dengan ketakutan yang diucapkan di berbagai tempat umum. Orang yang mengalami gangguan ini sering takut bahwa mereka akan mengalami serangan panik dalam suasana yang sulit untuk melarikan diri.

Karena ketakutan ini, penderita agorafobia sering menghindari situasi yang dapat memicu serangan kecemasan. Dalam beberapa kasus, perilaku penghindaran ini dapat mencapai titik di mana individu tersebut bahkan tidak dapat meninggalkan rumahnya sendiri.

Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)

Gangguan kecemasan sosial adalah gangguan psikologis yang cukup umum yang melibatkan ketakutan irasional diawasi atau dihakimi. Kecemasan yang disebabkan oleh gangguan ini dapat berdampak besar pada kehidupan individu dan membuatnya sulit berfungsi di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial lainnya.

Fobia spesifik

Fobia ini melibatkan ketakutan ekstrim terhadap objek atau situasi tertentu di lingkungan. Beberapa contoh fobia spesifik yang umum termasuk takut laba-laba, takut ketinggian, atau takut ular.

Empat jenis utama fobia spesifik melibatkan peristiwa alam (guntur, kilat, tornado), medis (prosedur medis, prosedur gigi, peralatan medis), hewan (anjing, ular, serangga), dan situasional (ruang kecil, meninggalkan rumah, mengemudi) . Saat dihadapkan pada objek atau situasi fobia, orang mungkin mengalami mual, gemetar, detak jantung cepat, dan bahkan ketakutan akan kematian.

Gangguan panik (Panic Disorder)

Gangguan kejiwaan ini ditandai dengan serangan panik yang sering muncul tiba-tiba dan tanpa alasan sama sekali. Karena itu, penderita gangguan panik sering mengalami kecemasan dan keasyikan akan kemungkinan mengalami serangan panik lagi.

Orang mungkin mulai menghindari situasi dan pengaturan di mana serangan telah terjadi di masa lalu atau di mana serangan itu mungkin terjadi di masa mendatang. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan di banyak bidang kehidupan sehari-hari dan menyulitkan untuk melakukan rutinitas normal.

Gangguan Kecemasan Pemisahan (Separation Anxiety Disorder)

Kondisi ini adalah jenis gangguan kecemasan yang melibatkan rasa takut atau kecemasan yang berlebihan terkait dengan keterpisahan dari figur lampiran. Orang-orang sering kali akrab dengan gagasan kecemasan akan perpisahan yang berkaitan dengan ketakutan anak-anak kecil untuk berpisah dari orang tua mereka, tetapi anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa dapat mengalaminya juga.

Ketika gejala menjadi sangat parah sehingga mengganggu fungsi normal, orang tersebut dapat didiagnosis dengan gangguan kecemasan perpisahan. Gejala melibatkan ketakutan ekstrim berada jauh dari pengasuh atau sosok lampiran. Orang yang menderita gejala ini mungkin menghindari pindah dari rumah, pergi ke sekolah, atau menikah agar tetap dekat dengan sosok lampiran

4. Gangguan Terkait Stres

Gangguan psikologis terkait Trauma dan Stres.
Trauma dan gangguan terkait stres melibatkan paparan peristiwa stres atau traumatis. Ini sebelumnya dikelompokkan dengan gangguan kecemasan tetapi sekarang dianggap sebagai kategori gangguan yang berbeda. Gangguan yang termasuk dalam kategori ini meliputi:

Gangguan Stres Akut

Gangguan stres akut ditandai dengan munculnya kecemasan yang parah hingga jangka waktu satu bulan setelah terpapar suatu peristiwa traumatis. Beberapa contoh peristiwa traumatis termasuk bencana alam, perang, kecelakaan, dan menyaksikan kematian. Ini termasuk salah satu penyakit mental yang membutuhkan bantuan secara klinis.

Akibatnya, individu mungkin mengalami gejala disosiatif seperti rasa realitas yang berubah, ketidakmampuan untuk mengingat aspek-aspek penting dari peristiwa tersebut, dan kilas balik yang jelas seolah-olah peristiwa itu terulang kembali. Gejala lain dapat mencakup berkurangnya respons emosional, ingatan trauma yang menyedihkan, dan kesulitan mengalami emosi positif.

Gangguan Penyesuaian (Adjustment Disorders)

Gangguan penyesuaian dapat terjadi sebagai respons terhadap perubahan mendadak seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, berakhirnya hubungan dekat, pindah, atau kehilangan atau kekecewaan lainnya. Jenis gangguan psikologis ini dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa dan ditandai dengan gejala seperti kecemasan, lekas marah, suasana hati tertekan, khawatir, marah, putus asa, dan perasaan terisolasi.

Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD: Post Traumatic Stress Disorder)

PTSD dapat berkembang setelah seseorang mengalami terpapar pada kematian aktual atau terancam, cedera serius, atau kekerasan seksual. Gejala PTSD termasuk episode menghidupkan kembali atau mengalami kembali peristiwa tersebut, menghindari hal-hal yang mengingatkan individu tentang peristiwa tersebut, merasa gelisah, dan memiliki pikiran negatif.

Mimpi buruk, kilas balik, ledakan amarah, kesulitan berkonsentrasi, respons terkejut yang berlebihan, dan kesulitan mengingat aspek peristiwa hanyalah beberapa kemungkinan gejala yang mungkin dialami oleh penderita PTSD.

Gangguan Interaksi Reaktif (Reactive Attachment Disorder)

Didefinisikan sebagai gangguan interaksi dan hubungan sosial yang didasarkan pada pengasuhan yang sangat tidak memadai, seperti menelantarkan kebutuhan fisik dan emosional dasar anak atau sering berganti pengasuh, sehingga menghalangi ikatan yang adekuat.

Gangguan keterikatan reaktif dapat terjadi ketika anak-anak tidak membentuk hubungan normal yang sehat dan keterikatan dengan pengasuh dewasa selama beberapa tahun pertama masa kanak-kanak. Gejala gangguan ini termasuk ditarik dari pengasuh orang dewasa dan gangguan sosial dan emosional yang diakibatkan oleh pola perawatan dan pengabaian yang tidak memadai.

Baca juga 👉 Fetish Seksual – Parafilia (Gangguan Seksual), Nama Klinis dan Contoh

5. Gangguan Kepribadian Ganda atau Gangguan Identitas Disosiatif (Multiple Personality Disorder or Dissociative Identity Disorder)

Gangguan psikologis disosiatif sebagai salah satu penyakit mental.
Gangguan disosiatif merupakan gangguan psikologis yang melibatkan disosiasi atau gangguan pada aspek kesadaran, termasuk identitas dan memori. Gangguan disosiatif meliputi:

Amnesia disosiatif (Dissociative Amnesia)

Gangguan ini melibatkan hilangnya memori sementara akibat disosiasi. Dalam banyak kasus, kehilangan ingatan ini, yang mungkin berlangsung hanya dalam waktu singkat atau selama bertahun-tahun, adalah akibat dari beberapa jenis trauma psikologis.

Amnesia disosiatif lebih dari sekadar kelupaan. Mereka yang mengalami gangguan ini mungkin mengingat beberapa detail tentang peristiwa tetapi mungkin tidak mengingat detail lain di sekitar periode waktu tertentu.

Gangguan Kepribadian Ganda atau Gangguan Identitas Disosiatif (Multiple Personality Disorder or Dissociative Identity Disorder)

Sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda, gangguan identitas disosiatif melibatkan keberadaan dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda. Masing-masing kepribadian ini memiliki caranya sendiri dalam memandang dan berinteraksi dengan lingkungan. Orang dengan gangguan ini mengalami perubahan perilaku, ingatan, persepsi, respons emosional, dan kesadaran.

Depersonalisasi / Gangguan Derealisasi (Depersonalization/Derealization Disorder)

Gangguan depersonalisasi / derealisasi ditandai dengan mengalami perasaan berada di luar tubuh sendiri (depersonalisasi) dan terputus dari kenyataan (derealisasi). Orang yang mengalami gangguan ini sering merasakan perasaan tidak nyata dan terputus secara tidak sengaja dari ingatan, perasaan, dan kesadaran mereka sendiri.

6. Gangguan Gejala Somatik

Gangguan psikologis somatik.
Sebelumnya disebut di bawah judul gangguan somatoform, kategori ini sekarang dikenal sebagai gejala somatik dan gangguan terkait.7 Gangguan gejala somatik adalah kelas gangguan psikologis yang melibatkan gejala fisik menonjol yang mungkin tidak memiliki penyebab fisik yang dapat didiagnosis.

Berbeda dengan cara sebelumnya untuk mengkonseptualisasikan gangguan ini berdasarkan tidak adanya penjelasan medis untuk gejala fisik, diagnosis saat ini menekankan pada pikiran, perasaan, dan perilaku abnormal yang terjadi sebagai respons terhadap gejala tersebut. Gangguan termasuk dalam kategori ini:

Gangguan Gejala Somatik (Somatic Symptom Disorder)

Gangguan gejala somatik melibatkan keasyikan dengan gejala fisik yang membuatnya sulit berfungsi secara normal. Keasyikan dengan gejala ini mengakibatkan tekanan emosional dan kesulitan menghadapi kehidupan sehari-hari.

Penting untuk dicatat bahwa gejala somatik tidak menunjukkan bahwa individu memalsukan rasa sakit fisik, kelelahan, atau gejala lainnya. Dalam situasi ini, bukan gejala fisik aktual yang mengganggu kehidupan individu, melainkan reaksi ekstrem dan perilaku yang diakibatkannya.

Penyakit Anxiety Disorder (Illness Anxiety Disorder)

Gangguan kecemasan penyakit ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan tentang kondisi medis yang tidak terdiagnosis. Mereka yang mengalami gangguan psikologis ini mengkhawatirkan fungsi dan sensasi tubuh secara berlebihan yakin bahwa mereka telah atau akan terkena penyakit serius, dan tidak diyakinkan ketika hasil tes medis menunjukkan hasil negatif.

Keasyikan dengan penyakit ini menyebabkan kecemasan dan kesusahan yang signifikan. Ini juga mengarah pada perubahan perilaku seperti mencari tes / perawatan medis dan menghindari situasi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Gangguan Konversi (Conversion Disorder)

Gangguan konversi adalah kondisi kejiwaan di mana seseorang merasakan gejala fisik berupa kehilangan kendali terhadap fungsi sistem saraf dan gejala tersebut tidak terkait dengan penyakit lainnya.

Gangguan konversi melibatkan mengalami gejala motorik atau sensorik yang tidak memiliki penjelasan neurologis atau medis yang sesuai. Dalam banyak kasus, gangguan tersebut mengikuti cedera fisik yang nyata atau stres bahkan yang kemudian menghasilkan respons psikologis dan emosional.

Gangguan Buatan (Factitious Disorder)

Gangguan ini merujuk pada kondisi seseorang yang secara sadar memperlihatkan gejala bahwa ia menderita suatu penyakit fisik atau psikis, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar sakit.

Gangguan buatan yang dulu memiliki kategorinya sendiri, sekarang termasuk dalam kategori gejala somatik dan gangguan terkait dari DSM-5. Gangguan buatan adalah ketika seseorang dengan sengaja membuat, memalsukan, atau membesar-besarkan gejala penyakit.

Sindrom Munchausen, di mana orang-orang berpura-pura sakit untuk menarik perhatian, adalah salah satu bentuk gangguan buatan yang parah.

7. Gangguan Makan (Eating Disorders)

Gangguan psikologis yang berhubungan dengan makanan.
Gangguan makan ditandai dengan kekhawatiran obsesif terhadap berat badan dan pola makan yang mengganggu yang berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental. Gangguan makan dan makan yang dulu didiagnosis selama masa bayi dan masa kanak-kanak telah dipindahkan ke kategori ini dalam DSM-5.8. Jenis gangguan makan meliputi:

Anoreksia saraf (Anorexia Nervosa)

Anorexia nervosa ditandai dengan konsumsi makanan yang dibatasi yang menyebabkan penurunan berat badan dan berat badan yang sangat rendah. Mereka yang mengalami gangguan ini juga memiliki keasyikan dan ketakutan akan bertambahnya berat badan serta pandangan yang menyimpang tentang penampilan dan perilaku mereka sendiri.

Bulimia Nervosa (Bulimia Nervosa)

Bulimia nervosa melibatkan makan sebanyak-banyaknya dan kemudian mengambil langkah-langkah ekstrim untuk mengimbangi binging tersebut. Perilaku kompensasi ini mungkin termasuk muntah yang dilakukan sendiri, penyalahgunaan obat pencahar atau diuretik, dan olahraga berlebihan.

Gangguan Ruminasi (Rumination Disorder)

Gangguan perenungan ditandai dengan memuntahkan makanan yang sebelumnya dikunyah atau ditelan untuk dimuntahkan atau ditelan kembali. Kebanyakan dari mereka yang terkena gangguan ini adalah anak-anak atau orang dewasa yang juga mengalami keterlambatan perkembangan atau cacat intelektual.

Masalah tambahan yang dapat ditimbulkan dari perilaku ini termasuk kerusakan gigi, tukak esofagus, dan malnutrisi.

Pika Penyakit Gangguan Makanan Aneh (Pica)

Pica melibatkan keinginan dan konsumsi zat non-makanan seperti kotoran, cat, atau sabun. Gangguan ini paling sering menyerang anak-anak dan mereka yang mengalami gangguan perkembangan.

Pernahkah Anda melihat orang yang makan makanan aneh seperti tanah, pasir, kapur, puntung rokok, lampu, bulu bahkan kotoran binatang. Bisa jadi orang itu menderita Pica, penyakit pola makan yang aneh.

Pica biasa terjadi pada anak-anak, ibu hamil dan orang dewasa. Penderita Pica biasanya mengonsumsi makanan yang tidak masuk akal. Pica sering terjadi pada anak-anak dan juga orang dewasa.

Sebanyak 10 hingga 32 persen anak-anak usia 1-6 tahun punya kebiasaan makan yang aneh ini. Tak hanya anak-anak, Pica juga bisa terjadi pada ibu hamil, terutama yang mengalami gangguan psikologis. Pica juga terjadi pada orang dewasa yang sedang diet, ketagihan tekstur tertentu pada mulutnya atau yang punya masalah sosial atau ekonomi.

Gangguan Makan Berlebihan (Binge Eating Disorder)

Binge eating disorder merupakan kondisi gangguan perilaku makan, di mana seseorang sering kali mengonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebih dan merasa tidak dapat berhenti mengonsumsi makanan.

Gangguan makan pesta pertama kali diperkenalkan di DSM-5 dan melibatkan episode pesta makan di mana individu mengkonsumsi jumlah yang sangat besar selama beberapa jam. Orang tidak hanya makan berlebihan, namun mereka juga merasa seolah-olah tidak memiliki kendali atas makan mereka. Episode pesta makan berlebihan terkadang dipicu oleh emosi tertentu seperti perasaan senang atau cemas, kebosanan, atau mengikuti peristiwa yang membuat stres.

8. Gangguan Kontrol Impuls (Disruptive Behaviour Disorders)

Gangguan kontrol impuls adalah gangguan yang melibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol emosi dan perilaku, yang mengakibatkan kerugian pada diri sendiri atau orang lain.1 Masalah dengan regulasi emosional dan perilaku ini ditandai dengan tindakan yang melanggar hak orang lain seperti menghancurkan properti atau agresi fisik dan / atau yang bertentangan dengan norma masyarakat, figur otoritas, dan hukum. Jenis gangguan kontrol impuls meliputi:

Kleptomania

Kleptomania melibatkan ketidakmampuan untuk mengontrol dorongan untuk mencuri. Orang yang mengidap kleptomania akan sering mencuri barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau yang tidak memiliki nilai uang yang sebenarnya. Mereka yang mengalami kondisi ini mengalami ketegangan yang meningkat sebelum melakukan pencurian dan merasakan kelegaan dan kepuasan setelahnya.

Pyromania

Pyromania melibatkan ketertarikan pada api yang mengakibatkan timbulnya api yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Orang yang berjuang dengan pyromania dengan sengaja dan sengaja telah menyalakan api lebih dari satu kali. Mereka juga mengalami ketegangan dan gairah emosional sebelum menyalakan api.

Gangguan Intermiten (Intermittent Explosive Disorder)

Gangguan ledakan terputus-putus ditandai dengan ledakan amarah dan kekerasan singkat yang tidak sesuai dengan situasi. Orang dengan gangguan ini dapat meledak menjadi ledakan kemarahan atau tindakan kekerasan sebagai tanggapan atas gangguan atau kekecewaan sehari-hari.

Gangguan perilaku (Conduct Disorder)

Gangguan perilaku adalah suatu kondisi yang didiagnosis pada anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun yang secara teratur melanggar norma sosial dan hak orang lain. Anak-anak dengan gangguan ini menunjukkan agresi terhadap orang dan hewan, merusak properti, mencuri dan menipu, serta melanggar aturan dan hukum lainnya. Perilaku ini menghasilkan masalah signifikan dalam fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial anak.

Gangguan Pembangkang Oposisi (Oppositional Defiant Disorder)

Gangguan pemberontak oposisi dimulai sebelum usia 18 tahun dan ditandai dengan pembangkangan, lekas marah, amarah, agresi, dan dendam. Sementara semua anak kadang-kadang berperilaku menantang, anak-anak dengan gangguan oposisi menolak untuk memenuhi permintaan orang dewasa hampir sepanjang waktu dan terlibat dalam perilaku yang dengan sengaja mengganggu orang lain.

9. Gangguan tidur (Sleep Disorders)

Gangguan psikologis yang berhubungan dengan tidur.
Gangguan tidur melibatkan gangguan pola tidur yang menyebabkan stres dan memengaruhi fungsi siang hari. Contoh gangguan tidur meliputi:

Hipersomnolensi

Gangguan hipersomnolensi ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan meski periode tidur utama cukup. Orang dengan kondisi ini mungkin tertidur di siang hari pada waktu yang tidak tepat seperti di tempat kerja dan sekolah.

Gangguan Tidur Terkait Pernapasan (Breathing Related Sleep Disorders)

Gangguan tidur terkait pernapasan adalah gangguan yang melibatkan kelainan pernapasan seperti sleep apnea yang dapat terjadi selama tidur. Masalah pernapasan ini dapat menyebabkan gangguan singkat dalam tidur yang dapat menyebabkan masalah lain termasuk insomnia dan kantuk di siang hari.

Parasomnias

Parasomi melibatkan gangguan yang menampilkan perilaku abnormal yang terjadi selama tidur. Gangguan tersebut termasuk berjalan dalam tidur, teror tidur, berbicara saat tidur, dan makan saat tidur.

Sindrom Kaki Gelisah (Restless Legs Syndrome)

Sindrom kaki gelisah adalah kondisi neurologis yang melibatkan sensasi tidak nyaman di kaki dan dorongan yang tak tertahankan untuk menggerakkan kaki untuk meredakan sensasi. Orang dengan kondisi ini mungkin merasakan sensasi menarik, merayap, terbakar, dan merangkak di kaki mereka yang mengakibatkan gerakan berlebihan yang kemudian mengganggu tidur.

Gangguan tidur yang terkait dengan gangguan mental lainnya serta gangguan tidur yang terkait dengan kondisi medis umum telah dihapus dari DSM-5. Edisi terbaru DSM juga lebih menekankan pada kondisi yang hidup berdampingan untuk setiap gangguan tidur-bangun.

Di samping gangguan medis dan dengan adanya penyakit mental, seseorang dapat mengalami juga gangguan tidur yang memerlukan perhatian klinis atau bidang kefokteran.

Hipersomnia

Merupakan salah satu kelainan tidur atau masalah tidur yang ditandai rasa kantuk yang berlebihan. Sehingga pasien sering kali membutuhkan waktu tidur yang jauh lebih lama dari orang normal.

Klasifikasi

Hipersomnia idiopatik primer adalah gangguan neurologis di mana pasien tidur malam hari daam jangka waktu lama tetapi tidak menyegarkan. Sehingga sering kali pasien melakukan tidur siang yang juga lama dan tidak memuaskan

Pasien hipersomnia mungkin tidur selama jangka waktu kurang lebih 20 jam sehari. Hasil pemeriksaan biasanya menunjukkan arsitektur tidur relatif normal dibandingkan dengan arsitektur tidur yang terganggu pada narkolepsi. Hipersomnia mungkin juga sekunder yang diakibatkan oleh kondisi medis seperti infeksi virus, terutama mononukleosis dan ensefalitis, atau hidrosefalus. Baca selanjutnya: Hipersomnia – Penjelasan, Penyebab, Gejala, Perawatan dan Pengobatan

Insomnia

Gangguan insomnia melibatkan ketidakmampuan untuk mendapatkan cukup tidur untuk merasa istirahat. Sementara semua orang mengalami kesulitan tidur dan gangguan pada titik tertentu, insomnia dianggap sebagai gangguan jika disertai dengan gangguan atau gangguan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Insomnia merupakan masalah tidur di mana orang mengalami kesulitan tidur atau tertidur. Orang dengan insomnia memiliki satu atau lebih dari gejala berikut:

  • Kesulitan tidur
  • Sering terbangun di malam hari dan kesulitan tidur kembali
  • Bangun terlalu pagi
  • Memiliki setidaknya satu masalah di siang hari seperti kelelahan; kantuk; masalah dengan suasana hati, konsentrasi; kecelakaan di tempat kerja atau saat mengemudi, dll, karena kurang tidur.

Insomnia bervariasi dalam berapa lama berlangsung dan seberapa sering itu terjadi. Sekitar 50% orang dewasa kadang-kadang menderita insomnia dan 1 dari 10 menderita insomnia kronis. Insomnia dapat terjadi dengan sendirinya atau dapat dikaitkan dengan kondisi medis atau kejiwaan.

Insomnia dapat bersifat jangka pendek (insomnia akut atau penyesuaian) atau dapat bertahan lama (insomnia kronis). Itu juga bisa datang dan pergi, dengan periode waktu ketika seseorang tidak memiliki masalah tidur.

Insomnia akut atau penyesuaian dapat berlangsung dari satu malam hingga beberapa minggu. Insomnia disebut kronis ketika seseorang menderita insomnia setidaknya tiga malam seminggu selama sebulan atau lebih. Baca selanjutnya: Insomnia (susah tidur) – Penjelasan, Penyebab, Gejala, Perawatan dan Pengobatan

Parasomnia

Parasomnia adalah gangguan atau masalah tidur yang melibatkan kegiatan fisik yang tidak diinginkan atau pengalaman yang terjadi selama tidur, masuk ke tidur, atau gairah dari tidur.

Gangguan tidur jenis ini lebih umum ditemukan pada anak-anak (5% -15%) dibandingkan orang dewasa (1%). Biasanya bersifat jinak, akan tetapi tidak menutup kemungkinan hubungan dengan adanya luka trauma. Baca selanjutnya: Parasomnia – Gangguan Tidur – Penjelasan, Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Insomnia Familial Fatal – masalah tidur

Insomnia familial fatal (sering disebut sebagai insomnia fatal), penyakit keturunan. Mempengaruhi sekitar 100 orang di dunia. Orang tersebut tidak bisa tidur siang & malam. Pasien meninggal 7-36 bulan setelah terdeteksi.
Diagnosis insomnia familial fata dapat dikonfirmasi dengan tes genetik. Baca selanjutnya: Insomnia Familial Fatal, Pasien Meninggal Dalam 7 – 36 Bulan

Masalah tidur gangguan tidur

Masalah Tidur – Hipersomnia, Insomnia, Parasomnia, Narkolepsi, Mendengkur, Apnea tidur, dll (Gangguan Tidur). Sumber foto: Pixabay dan Ilustrasi: PinterPandai

Narkolepsi

Narkolepsi adalah suatu kondisi di mana orang mengalami kebutuhan yang tidak tertahankan untuk tidur.

Merupakan gangguan atau masalah tidur yang menyebabkan seseorang merasa mengantuk pada siang hari yang tidak dapat diatasi dan berlebihan. Hal ini biasanya disebabkan kesalahan dalam mekanisme otak yang mengatur tidur dan bangun seseorang.

Seseorang yang mengalami narcolepsy dapat tiba-tiba tertidur pada saat sedang beraktivitas. Meskipun masih belum ada obatnya, penanganan khusus dari ahli dapat mengendalikan gejala sehingga seseorang dapat hidup normal.

Mendengkur (ngorok) – masalah tidur

Mendengkur adalah suara yang ditimbulkan saat tidur karena adanya getaran jaringan pada saluran udara bagian atas.

Mendengkur biasa terjadi pada > 3% anak-anak dan 32% dewasa. Seiring bertambahnya usia, timbulnya dengkuran saat tidur akan makin meningkat hingga hampir 50% manusia di atas 60 tahun mengalami hal tersebut. Umumnya, dengkuran lebih banyak terjadi pada saat menghirup napas (inspirasi). Baca juga: Ngorok atau Mendengkur – Penjelasan, Penyebab, Pengobatan

Apnea tidur (sleep apnea)

Sleep apnea adalah gangguan tidur dengan kesulitan bernapas dan ketika napas mendadak berhenti saat tidur.

Mengapa sleep apnea berbahaya?

Gangguan tidur yang serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang terganggu bahkan terhenti saat tidur. Seseorang dengan sleap apnea yang tidak diobati, akan berhenti bernapas secara berulang selama tidurnya, kadang hingga ratusan kali. Hal ini menyebabkan otak dan juga tubuh yang sedang istirahat tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup. Baca selanjutnya: Sleep Apnea – Gangguan Tidur Ketika Napas Mendadak Berhenti – Penjelasan, Penyebab dan Pengobatan

Tidur berjalan – masalah tidur

Tidur sambil berjalan atau somnambulisme merupakan kelainan perilaku motorik kompleks yang mengganggu tidur malam. Prosesnya diawali dengan stimulasi tiba-tiba saat seseorang sedang tidur gelombang lambat dan puncaknya ditandai dengan aktivitas berpindah tempat dalam kondisi kesadaran yang berubah.

Sleep walking alias tidur berjalan ini membuat pasien bangun dan berjalan sambil tidur. Beberapa pasien cenderung melakukan aktivitas lain juga saat tidur.

Bagian yang menakutkan tentang tidur berjalan adalah, pasien mungkin bisa melukai atau mati saat berjalan tanpa rasa dunia luar. Tidur berjalan terjadi saat tidur seseorang bergeser dari tidur nyenyak ke tidur lebih nyenyak atau keadaan terjaga.

Contoh yang sering terjadi, penderita Sleep Walking ini biasanya akan berjalan sambil tidur lalu berbicara sendiri seperti orang sadar. Padahal setelah dia terbangun dia sama sekali tak ingat apa yang sudah terjadi padanya. Baca selanjutnya: Tidur Berjalan – Gangguan Tidur – Penjelasan, Penyebab dan Pengobatan

Mengompol

Mengompol atau Ngompol adalah kencing secara tidak sengaja sambil tidur, berdiri, duduk atau tidak bisa menahan air urin lalu keluar membasahi celana dan sekitarnya. Biasanya anak perempuan berhenti ngompol pada usia 6 tahun dan anak laki-laki pada usia 7 tahun.

Selain bayi, balita dan anak-anak. Mengompol juga terjadi pada remaja, dewasa dan lansia. Secara tidak sengaja atau memang memiliki masalah kesehatan.

Ada beberapa cara untuk mengatasi ngompol, misalnya alarm ngompol yang akan mengeluarkan suara keras bila sensornya mendeteksi cairan, atau dengan hormon vasopresin untuk mengurangi produksi urin pada malam hari. Baca juga: Ngompol atau Mengompol – Gejala dan Penyebabnya

Gangguan Tidur Saat Hamil

Kejadian insomnia, pencerahan malam hari dan parasomnia (terutama sindrom kaki gelisah) hingga mendengkur dan mengantuk berlebihan. Terdapat beberapa gangguan tidur pada ibu hamil yang harus Anda ketahui.

Gangguan ini terjadi sebagai akibat dari perubahan fisiologis, hormonal, dan fisik yang terkait dengan kehamilan. Meskipun mereka adalah yang paling umum selama trimester ketiga. Namun, sifat pasti dan kejadian gangguan tidur dalam kehamilan tidak diketahui. Mengingat keterbatasan itu, kami menyajikan ulasan terkini tentang hubungan saat ini antara tidur dan kehamilan. Baca juga: Gangguan Tidur Pada Ibu Hamil – Contoh, Penjelasan, Penyebab dan Pengobatan

Sexsomnia

Ini gangguan yang lebih parah dari pada Sleep Walking atau Nocturnal Eating Disorder. Sexsomnia adalah gangguan saat di mana seseorang melakukan aktivitas seks, padahal masih tidur. Dalam studi kasus 1996 dari tujuh orang yang mengidap sexsomnia, gangguan berkisar dari rintihan, masturbasi bahkan kekerasan seksual atau pemerkosaan.

Setidaknya lima kasus, lima orang telah dibebaskan dari dakwaan kekerasan seksual dengan menyatakan bahwa mereka tertidur selama serangan itu.

Penelitian terbesar, sebuah survei internet dari 219 orang yang mengatakan bahwa mereka mengalami Sexsomnia. Penelitiyn ang diterbitkan tahun 2007 dalam jurnal Psychiatry Sosial dan Psikiatri Epidemiologi, menyarankan bahwa kurang tidur, stres, alkohol, obat-obatan dan kontak fisik dengan pasangan tempat tidur memainkan peran. Baca selanjutnya: Sexsomnia – Gangguan Tidur – Penjelasan, Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Kelumpuhan tidur (ketindihan) – masalah tidur

Kelumpuhan tidur merujuk pada keadaan ketidakmampuan bergerak ketika sedang tidur ataupun ketika bangun tidur. Seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur biasanya akan mengalami masalah untuk menggerakkan anggota badan, tidak bisa mengeluarkan suara dan sebagainya. Kelumpuhan tidur biasanya juga disertai dengan halusinasi seram atau mimpi buruk.

Kelumpuhan tidur terjadi dalam keadaan si penderita sedang setengah tidur, sedang tertidur lelap, ataupun dalam keadaan terjaga sewaktu mengalami kelumpuhan tidur. Kondisi ini umumnya terjadi bila si penderita tidur menelentang atau menghadap ke atas, yang ditandai dengan merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan tidak bisa bergerak dan sulit bersuara. Selanjutnya baca: Arti Mimpi Ketindihan Saat Tidur – Kelumpuhan Tidur / Sleep Paralysis – Penyebab, Gejala, Perawatan dan Pencegahan

Jet lag (mabuk pasca terbang)

Penat terbang atau Mabuk pascaterbang (bahasa Inggris: Jet lag), secara medis disebut desinkronosis, adalah sebuah kondisi fisiologis yang terjadi akibat gangguan terhadap ritme sirkadian tubuh; hal ini dikelompokkan sebagai salah satu gangguan tidur ritme sirkadian. Mabuk pascaterbang muncul akibat perjalanan cepat lintas meridian (timur-barat atau barat-timur) jarak jauh, sebagaimana yang dilakukan menggunakan pesawat jet.

Kondisi mabuk pascaterbang mungkin berlangsung selama beberapa hari, dan tingkat kesembuhan satu hari per zona waktu yang dilintasi adalah pedoman yang diketahui umum. Baca juga: Cara Mengatasi Jet Lag

Kaki bergerak tak terkontrol atau Sindroma kaki gelisah (Restless Legs Syndrome)

Restless Legs Syndrome (RLS), adalah gangguan tidur yang menyebabkan keinginan untuk menggerakkan tangan pada malam hari. Keinginan tersebut terjadi pada saat tidur atau berbaring dan biasanya terjadi karena merasa tidak nyaman, kebas, nyeri, atau sensasi merinding.

Restless legs syndrome (RLS), atau sering disebut sebagai Penyakit Willis-Ekbom (Willis-Ekbom disease), adalah kondisi neurologis yang menyebabkan orang memiliki keinginan tidak terkontrol untuk menggerakkan kaki mereka, biasanya karena rasa tidak nyaman pada kaki. Menggerak-gerakkan kaki akan mengurangi perasaan tidak nyaman untuk sementara. Perasaan tidak nyaman ini juga dapat terjadi pada lengan.

RLS umumnya terjadi di malam hari pada waktu tidur atau saat seseorang mencoba untuk berelaksasi. Ini dapat mengganggu tidur —yang menyebabkan kantuk di siang hari— dan menyulitkan saat traveling. Baca selanjutnya: Kaki Bergerak Tak Terkontrol atau Sindroma Kaki Gelisah (Restless Legs Syndrome) – Penjelasan, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Gesekan Gigi (Bruxism) – masalah tidur

Kebanyakan orang mungkin melakukan gesekan gigi, menggiling dan menggertakkan giginya saat tidur dari waktu ke waktu dengan secara tidak sadar. Terdengar sangat menyebalkan bagi seseorang yang tidur disebelahnya!

Terdengar seperti penggerindaan atau pengesekan gigi, hal tersebut secara medis disebut bruxism, biasanya tidak menyebabkan kerusakan, tetapi ketika pengesekan gigi terjadi setiap saat, gigi dapat rusak dan komplikasi lain dapat timbul, seperti ketidaknyamanan otot rahang atau nyeri. baca lebih lanjut: Gesekan Gigi Saat Tidur – Seperti digerinda atau menggerinda gigi

Tidur berlebihan – Sleeping beauty syndrome atau Sindrom Kleine Levin (SKL)

Sindrom Kleine-Levin (SKL) atau yang dalam medis disebut KLS adalah kelainan tidur yang berlebihan, namun sebenarnya sangat sedikit mempengaruhi orang di dunia.

KLS adalah kelainan yang sangat langka dan kompleks yang berkaitan dengan sistem saraf yang terjadi terus menerus. Kelainan ini dikenal sebagai ‘Sleeping Beauty Syndrome’ karena pasien tidur lebih dari 15 sampai 20 jam.

Gangguan tidur ini serius dan menyeramkan. Kelainan itu terkait dengan garis genetik tertentu yang biasanya terjadi pada laki-laki remaja. Sindrom Kleine-Levin ini termasuk jenis gangguan tidur yang paling mengerikan karena sampai kini belum ditemukan obat pastinya. Baca selanjutnya: Penyakit Tidur Berlebihan – Sindrom Kleine Levin (SKL) – Gangguan Tidur

Gerakan Mata Cepat (REM) – masalah tidur

Salah satu fase tidur adalah REM (Rapid Eye Movement). Gangguan perilaku REM adalah kondisi otak tidak bisa mengirim sinyal tubuh untuk tetap diam selama tidur. Pengidap gangguan ini mimpi dalam tidurnya. Namun mereka tak hanya mimpi tapi juga bisa bertindak keluar dari mimpianya. Berteriak, memukul, menendang dan bahkan berlari-lari. Ketika terbangun, mereka biasanya akan ingat mimpinya, tapi tidak ingat aksi brutalnya.

Jarang yang mengalami kondisi ini. Umumnya menyerang orang tua. Gangguan ini diduga merupakan gejala dari penyakit Parkinson, gangguan saraf degeneratif.

Teror malam

Teror malam atau teror tidur adalah gangguan tidur yang bisa membuatmu takut saat tidur atau tiba-tiba terbangun dari tidur karena mimpi buruk yang mengerikan. Umumnya, Night Terrors ini terjadi pada anak-anak tapi juga bisa menyerang orang dewasa. Gangguan ini biasanya mulai terjadi pada tahap pra-tidur REM, yang dikenal dengan gerakan tidur non-rapid eye movement (NREM).

Penderita Night Terrors biasanya sering terbangun sambil berteriak dan bisa langsung menangis. Sejauh ini ilmu kedokteran pun belum bisa menemukan misteri ada apa di gangguan Night Terrors ini. Namun medis mempercayai bahwa jenis gangguan ini terkait langsung dengan sistem saraf pusat dan otak manusia. Baca juga: Teror Malam Saat Tidur – Penjelasan, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Gangguan Jadwal tidur / Gangguan tidur irama sirkadian

Sleep wake schedule disorders (gangguan jadwal tidur) yaitu
gangguan dimana penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang
dikehendaki,walaupun jumlah tidurnya tatap. Gangguan ini sangat
berhubungan dengan irama tidur sirkadian normal.

Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian antara lain
temperatur badan,plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi. Dalam
keadan normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi irama tidurbangun, dimana sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga untuk
bangun/aktivitas. Selanjutnya baca: Gangguan Tidur Irama Sirkadian – Gangguan Jadwal Tidur – Penjelasan, Penyebab, Pengobatan

Gangguan gerakan Tubuh

Periodic Limb Movement Disorder (PLMD)

Gangguan tidur yang melibatkan gerakan berulang anggota badan selama tidur dan dapat dikaitkan dengan aktivitas gairah di otak selama tidur. Beberapa pasien yang didiagnosis dengan gerakan tungkai periodik selama tidur mungkin juga mengalami Sindrom Kaki yang Restless (RLS) yang terjadi pada siang hari. Baca selanjutnya: Gangguan Gerakan Tubuh Saat Tidur – Periodic Limb Movement Disorder (PLMD)

Penyakit Tidur (African trypanosomiasis)

African trypanosomiasis atau penyakit tidur adalah penyakit parasit manusia dan hewan lain. Hal ini disebabkan oleh parasit disebabkan oleh gigitan lalat Tsetse dengan parasit dari spesies Trypanosoma brucei yang menyerang sistem saraf pusat dan bisa berujung pada kematian.

Apa yang dirasakan seseorang yang terkena penyakit tidur?

Penderita yang terserang lalat ini akan merasakan ngantuk yang amat sangat di siang hari, tapi mengalami insomnia di malam hari. Tidur menjadi tak terkendali jika penyakitnya semakin memburuk yang akhirnya menyebabkan koma.

Penderita juga sering cedera akibat jatuh karena tertidur tiba-tiba saat mengemudi atau melakukan kegiatan lain dan kerusakan progresif terhadap sistem saraf pun mulai terjadi.

10. Gangguan Depresi (Depressive Disorders)

Gangguan depresi adalah jenis gangguan mood yang mencakup sejumlah kondisi. Semuanya ditandai dengan adanya suasana hati yang sedih, hampa, atau mudah tersinggung disertai dengan gejala fisik dan kognitif. Mereka berbeda dalam hal durasi, waktu, atau dugaan etiologi.

Melankolia (Melancholia)

Melankolia (dari istilah bahasa Yunani μελαγχολία – “kesedihan”, secara harfiah empedu hitam), dalam penggunaan kontemporer merupakan gangguan mood depresi non-spesifik, yang ditandai dengan rendahnya tingkat antusiasme dan keinginan untuk berkegiatan. Dalam konteks modern, “melankoli” hanya berlaku untuk gejala-gejala mental atau emosional depresi atau putus asa.

Secara historis, “melankolia” bisa fisik maupun mental, dan kondisi melankolis diklasifikasikan seperti itu dalam hal penyebab umum daripada sifat. Baca juga 👉 Perbedaan Karakter Dan Kepribadian – 4 Jenis Temperamen Manusia

Gangguan disregulasi suasana hati yang mengganggu (Disruptive mood dysregulation disorder)

Kondisi masa kanak-kanak yang ditandai dengan kemarahan dan lekas marah yang ekstrem. Anak-anak menunjukkan ledakan amarah yang sering dan intens.

Gangguan depresi berat (Major depressive disorder)

Suatu kondisi yang ditandai dengan hilangnya minat dalam aktivitas dan suasana hati tertekan yang menyebabkan gangguan signifikan pada kemampuan seseorang untuk berfungsi.

Gangguan depresi persisten (dysthymia) / Persistent depressive disorder (dysthymia)

Ini adalah jenis depresi kronis yang berkelanjutan yang ditandai dengan gejala depresi lain yang, meski seringkali tidak terlalu parah, bertahan lebih lama. Diagnosis membutuhkan suasana hati yang tertekan hampir setiap hari selama jangka waktu setidaknya dua tahun.

Gangguan depresi lain atau tidak spesifik (Other or unspecified depressive disorder)

Diagnosis ini untuk kasus-kasus ketika gejala tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis gangguan depresi lain, tetapi masih menimbulkan masalah dengan kehidupan dan fungsi individu.

Gangguan dysphoric pramenstruasi (Premenstrual dysphoric disorder)

Kondisi ini merupakan bentuk sindrom pramenstruasi (PMS: premenstrual syndrome) yang ditandai dengan depresi, lekas marah, dan kecemasan yang signifikan yang dimulai satu atau dua minggu sebelum menstruasi dimulai. Gejala biasanya hilang dalam beberapa hari setelah menstruasi wanita.

Gangguan depresi yang diinduksi zat / obat (Substance/medication-induced depressive disorder)

Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami gejala gangguan depresi baik saat menggunakan alkohol atau zat lain atau saat sedang dalam proses penarikan dari suatu zat.

Gangguan depresi akibat kondisi medis lain (Depressive disorder due to another medical condition)

Kondisi ini didiagnosis ketika riwayat kesehatan seseorang menunjukkan bahwa gejala depresi mereka mungkin disebabkan oleh suatu kondisi medis. Kondisi medis yang dapat menyebabkan atau menyebabkan depresi termasuk diabetes, stroke, penyakit Parkinson, kondisi autoimun, kondisi nyeri kronis, kanker, infeksi, dan HIV / AIDS.
Gangguan depresi semuanya ditandai dengan perasaan sedih dan suasana hati yang rendah yang terus-menerus dan cukup parah untuk memengaruhi fungsi seseorang. Gejala umum yang dialami oleh gangguan ini meliputi kesulitan merasa tertarik dan termotivasi, kurang tertarik pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati, gangguan tidur, dan konsentrasi yang buruk.

Kriteria diagnostik bervariasi untuk setiap kondisi tertentu. Untuk gangguan depresi berat, diagnosis mengharuskan seseorang mengalami lima atau lebih gejala berikut selama periode 2 minggu yang sama.

Salah satu gejala ini harus mencakup suasana hati yang tertekan atau kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang dinikmati sebelumnya.

Gejalanya bisa meliputi:
  • Suasana hati tertekan untuk sebagian besar atau sepanjang hari.
  • Penurunan atau kurangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati individu.
  • Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan, atau penurunan atau peningkatan nafsu makan.
  • Gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia).
  • Perasaan aktivitas fisik melambat atau gelisah.
  • Kurang energi atau kelelahan yang berlangsung hampir sepanjang hari.
  • Perasaan bersalah atau tidak berharga.
  • Kesulitan berpikir atau berkonsentrasi.
  • Keasyikan dengan kematian atau pikiran untuk bunuh diri.

Jika Anda memiliki pikiran untuk bunuh diri dan hubungi Jika seseorang berada dalam kondisi berbahaya yang mengancam keselamatan nyawa, segera telepon nomor layanan darurat 119 atau menuju ke IGD di RS terdekat. Jangan menunggu.

Untuk lebih banyak sumber daya kesehatan mental, lihat Database Saluran Bantuan Nasional kami.

Perawatan untuk gangguan depresi sering kali melibatkan kombinasi psikoterapi dan pengobatan.

11. Gangguan Terkait Zat Bahaya (Substance-related psychological disorders)

Gangguan terkait zat adalah gangguan yang melibatkan penggunaan dan penyalahgunaan zat berbeda seperti kokain, metamfetamin, opiat, dan alkohol. Gangguan ini dapat mencakup kondisi yang diinduksi zat yang dapat mengakibatkan banyak diagnosis terkait termasuk keracunan, penarikan, kemunculan psikosis, kecemasan, dan delirium. Contoh gangguan terkait zat:

Gangguan terkait alkohol (Alcohol-related disorders)

Melibatkan konsumsi alkohol, obat yang paling banyak digunakan (dan sering digunakan secara berlebihan).

Gangguan terkait ganja (Cannabis-related disorders)

Termasuk gejala seperti penggunaan lebih dari yang dimaksudkan, perasaan tidak dapat berhenti menggunakan obat, dan terus menggunakan meskipun efek samping dalam hidup seseorang.

Gangguan penggunaan inhalan (Inhalant-use disorders)

Melibatkan menghirup asap dari benda-benda seperti cat atau pelarut. Seperti gangguan terkait zat lainnya, orang dengan kondisi ini mengalami keinginan akan zat tersebut dan merasa sulit untuk mengontrol atau berhenti melakukan perilakunya.

Gangguan penggunaan stimulan (Stimulant use disorder)

Melibatkan penggunaan stimulan seperti sabu, amfetamin, dan kokain.
Gangguan penggunaan tembakau ditandai dengan gejala seperti mengonsumsi lebih banyak tembakau daripada yang dimaksudkan, kesulitan mengurangi atau berhenti, mengidam, dan menderita konsekuensi sosial yang merugikan akibat penggunaan tembakau.

Baca juga 👉 Narkoba – Contoh, Jenis, Pengertian, Efek jangka pendek dan panjang

Gangguan Perjudian (Gambling Disorder)

DSM-5 juga memasukkan gangguan perjudian di bawah klasifikasi ini. American Psychiatric Association menjelaskan bahwa perubahan ini “mencerminkan peningkatan dan bukti yang konsisten bahwa beberapa perilaku, seperti perjudian, mengaktifkan sistem penghargaan otak dengan efek yang serupa dengan penyalahgunaan obat-obatan dan gejala gangguan perjudian menyerupai gangguan penggunaan narkoba sampai batas tertentu”.

Kecanduan Permainan Video (Video Game Addiction)

Kecanduan permainan video juga dikenal sebagai penyakit permainan atau penyakit permainan internet umumnya diartikan sebagai pemakaian berlebihan dan bermasalah dari permainan video dan/atau internet, yang mengakibatkan dampak signifikan terhadap kegiatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Konsep tersebut dan hal terkait menjadi bahan riset, debat dan diskusi di kalangan pakar dalam beberapa disiplin, dan menimbulkan kontroversi dari komunitas medis, saintifik dan permainan.

12. Gangguan Neurokognitif

Gangguan psikologis neurokognitif.
Gangguan neurokognitif ditandai dengan defisit yang didapat dalam fungsi kognitif. Gangguan ini tidak termasuk gangguan kognisi saat lahir atau di awal kehidupan. Jenis gangguan kognitif meliputi:

Igauan (Delirium)

Delirium juga dikenal sebagai keadaan bingung akut. Gangguan ini berkembang dalam waktu singkat — biasanya beberapa jam atau beberapa hari — dan ditandai dengan gangguan dalam perhatian dan kesadaran.

Gangguan Neurokognitif (Neurocognitive Disorders)

Gangguan neurokognitif mayor dan ringan memiliki ciri utama penurunan kognitif yang didapat di satu atau lebih area termasuk memori, perhatian, bahasa, pembelajaran, dan persepsi. Gangguan kognitif tersebut dapat disebabkan oleh kondisi medis antara lain penyakit Alzheimer, infeksi HIV, penyakit Parkinson, penggunaan zat / obat, penyakit pembuluh darah, dan lain-lain.

13. Skizofrenia

Skizofrenia adalah kondisi kejiwaan kronis yang memengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Ini adalah kondisi jangka panjang yang kompleks yang memengaruhi sekitar satu persen orang di Amerika Serikat.

Kriteria diagnostik DSM-5 menetapkan bahwa dua atau lebih gejala skizofrenia harus ada selama setidaknya satu bulan.

Satu gejala harus berupa salah satu dari berikut ini:

  • Delusi (Delusions): keyakinan yang bertentangan dengan kenyataan.
  • Halusinasi (Hallucinations): melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Ucapan tidak teratur (Disorganized speech): kata-kata tidak mengikuti aturan bahasa dan mungkin mustahil untuk dipahami.

Gejala kedua mungkin salah satu dari yang berikut:

  • Perilaku yang sangat tidak teratur atau katatonik: pemikiran yang membingungkan, perilaku atau gerakan yang aneh.
  • Gejala negatif: ketidakmampuan untuk memulai rencana, berbicara, mengekspresikan emosi, atau merasakan kesenangan.
  • Diagnosis juga membutuhkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial atau pekerjaan selama setidaknya enam bulan. Timbulnya skizofrenia biasanya pada akhir masa remaja atau awal 20-an, dengan pria biasanya menunjukkan gejala lebih awal daripada wanita. Tanda-tanda awal dari kondisi yang mungkin terjadi sebelum diagnosis termasuk motivasi yang buruk, hubungan yang sulit, dan kinerja sekolah yang buruk.

Institut Kesehatan Mental Nasional menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat berperan dalam menyebabkan skizofrenia termasuk genetika, kimia otak, faktor lingkungan, dan penggunaan zat.

Meskipun tidak ada obat untuk skizofrenia, ada perawatan yang tersedia yang memungkinkan untuk mengelola gejala kondisi tersebut. Perawatan biasanya mencakup obat antipsikotik, psikoterapi, manajemen diri, pendidikan, dan dukungan sosial.

14. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorders)

Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait adalah kategori kondisi kejiwaan yang meliputi:

  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD: Obsessive-compulsive disorder).
  • Gangguan tubuh-dysmorphic (Body-dysmorphic disorder).
  • Gangguan penimbunan (Hoarding disorder).
  • Trikotilomania (gangguan mencabut rambut) / (Trichotillomania (hair-pulling disorder).
  • Gangguan eksoriasi (pengelupasan kulit) / Excoriation disorder (skin picking).
  • Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait yang diinduksi zat / obat (Substance/medication-induced obsessive-compulsive and related disorder).
  • Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait karena kondisi medis lain / Obsessive-compulsive and related disorder due to another medical condition.

Setiap kondisi dalam klasifikasi ini memiliki seperangkat kriteria diagnostiknya sendiri.

Gangguan obsesif kompulsif

Kriteria diagnostik dalam DSM-5 menetapkan bahwa untuk dapat didiagnosis dengan gangguan obsesif-kompulsif, seseorang harus mengalami obsesi, kompulsi, atau keduanya.

Obsesi (Obsessions)

didefinisikan sebagai pikiran yang berulang, terus-menerus, impuls, dan dorongan yang mengarah pada kesusahan atau kecemasan.

Kompulsi (Compulsions)

Perilaku berulang dan berlebihan yang menurut individu harus mereka lakukan. Tindakan ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan atau untuk mencegah beberapa hasil yang ditakuti terjadi.

Obsesi dan kompulsi juga harus memakan waktu, memakan waktu satu jam atau lebih per hari, atau menyebabkan gangguan yang signifikan atau gangguan fungsional, tidak boleh disebabkan oleh kondisi medis lain atau penggunaan zat, dan tidak boleh dijelaskan dengan lebih baik oleh kondisi kejiwaan lain. seperti gangguan kecemasan umum.

Perawatan untuk OCD: Obsessive-compulsive disorder biasanya berfokus pada kombinasi terapi dan pengobatan. Terapi perilaku kognitif (CBT: Cognitive-behavioral therapy) atau bentuk CBT yang dikenal sebagai eksposur dan pencegahan respons (ERP: Exposure and Response Prevention) jika umum digunakan. Antidepresan seperti clomipramine atau fluoxetine juga dapat diresepkan untuk mengatasi gejala.

15. Gangguan Kepribadian (Personality Disorders)

Gangguan kepribadian ditandai dengan pola pikiran, perasaan, dan perilaku maladaptif yang bertahan lama yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada hubungan dan bidang kehidupan lainnya.10 Jenis gangguan kepribadian meliputi:

Gangguan Kepribadian Antisosial (Antisocial Personality Disorder)

Gangguan kepribadian antisosial ditandai dengan pengabaian terhadap aturan, norma sosial, dan hak orang lain. Orang dengan gangguan ini biasanya mulai menunjukkan gejala selama masa kanak-kanak, mengalami kesulitan merasakan empati terhadap orang lain, dan kurang menyesal atas perilaku destruktif mereka.

Gangguan Kepribadian Penghindar (Avoidant Personality Disorder)

Gangguan kepribadian penghindar melibatkan hambatan sosial yang parah dan kepekaan terhadap penolakan. Perasaan tidak aman seperti itu menyebabkan masalah signifikan dengan kehidupan dan fungsi individu sehari-hari.

Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder)

Gangguan kepribadian borderline dikaitkan dengan gejala termasuk ketidakstabilan emosional, hubungan interpersonal yang tidak stabil dan intens, citra diri yang tidak stabil, dan perilaku impulsif.

Gangguan Kepribadian Ambang Garis Batas (BPD: Borderline personality disorder) ditandai dengan pola hubungan tidak stabil yang berulang dan berlangsung lama dengan orang lain – baik itu hubungan romantis, persahabatan, anak-anak, atau hubungan dengan anggota keluarga. Kondisi tersebut ditandai dengan upaya menghindari pengabaian (terlepas dari apakah itu nyata atau hanya khayalan), dan impulsif dalam pengambilan keputusan.

Orang dengan gangguan kepribadian ambang sering berpindah dari satu emosi ke emosi lainnya dengan mudah dan cepat, dan citra diri mereka juga sering berubah.

Istilah ambang “garis batas” berarti di antara satu hal dan lainnya. Awalnya, istilah ini digunakan ketika dokter tidak yakin dengan diagnosis yang benar karena klien memanifestasikan campuran gejala neurotik dan psikotik. Banyak dokter menganggap pasien berada di perbatasan antara neurotik dan psikotik, dan dengan demikian istilah “batas” mulai digunakan.

Gangguan Kepribadian Dependen (Dependent Personality Disorder)

Gangguan kepribadian dependen melibatkan pola kronis ketakutan akan perpisahan dan kebutuhan yang berlebihan untuk dirawat. Orang dengan gangguan ini akan sering terlibat dalam perilaku yang dirancang untuk menghasilkan tindakan perawatan pada orang lain.

Gangguan Kepribadian Histrionik (Histrionic Personality Disorder)

Gangguan kepribadian histrionik dikaitkan dengan pola emosi ekstrim dan perilaku pencarian perhatian. Orang dengan kondisi ini merasa tidak nyaman dalam pengaturan di mana mereka bukan pusat perhatian, memiliki emosi yang berubah dengan cepat, dan mungkin terlibat dalam perilaku yang tidak pantas secara sosial yang dirancang untuk menarik perhatian orang lain.

Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder)

Gangguan kepribadian narsistik dikaitkan dengan pola citra diri yang berlebihan, egois, dan empati yang rendah. Orang dengan kondisi ini cenderung lebih tertarik pada diri sendiri dibandingkan dengan orang lain.

Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder)

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah pola keasyikan yang meluas dengan keteraturan, perfeksionisme, ketidakfleksibelan, dan kontrol mental dan interpersonal. Ini adalah kondisi yang berbeda dari gangguan obsesif kompulsif (OCD: obsessive compulsive disorder).

Gangguan Kepribadian Paranoid (Paranoid Personality Disorder)

Gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan ketidakpercayaan pada orang lain, bahkan keluarga, teman, dan pasangan romantis. Orang dengan gangguan ini menganggap niat orang lain sebagai kejahatan, bahkan tanpa bukti atau pembenaran apa pun.

Gangguan Kepribadian Skizoid (Schizoid Personality Disorder)

Gangguan kepribadian skizoid melibatkan gejala yang termasuk terlepas dari hubungan sosial. Orang dengan gangguan ini diarahkan ke kehidupan batin mereka dan seringkali tidak peduli dengan hubungan. Mereka umumnya menunjukkan kurangnya ekspresi emosional dan dapat terlihat dingin dan menyendiri.

Seseorang dengan gangguan ini mungkin tampak kurang memiliki keinginan untuk keakraban, dan akan menghindari hubungan dekat dengan orang lain. Mereka mungkin sering lebih suka menghabiskan waktu dengan diri mereka sendiri daripada bersosialisasi atau berada dalam sekelompok orang. Dalam istilah orang awam, orang dengan gangguan kepribadian skizoid mungkin dianggap sebagai “penyendiri”.

Gangguan Kepribadian Schizotypal (Schizotypal Personality Disorder)

Gangguan kepribadian schizotypal menampilkan keeksentrikan dalam ucapan, perilaku, penampilan, dan pemikiran. Orang dengan kondisi ini mungkin mengalami kepercayaan aneh atau “pemikiran magis” dan kesulitan membentuk hubungan.


Penyakit dari A-Z & Daftar Lengkap, Nama, Jenis, Contoh

Suatu penyakit adalah suatu kondisi abnormal tertentu yang secara negatif mempengaruhi struktur atau fungsi sebagian atau seluruh organisme, dan itu bukan karena cedera eksternal langsung apa pun. Klik disini 👉 untuk mengetahui nama-nama penyakit dan penjelasannya.

Nama Obat dan Untuk Penyakit Apa ? – Daftar Nama Obat Esensial diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Daftar Nama Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Daftar ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1977. Klik disini 👉 untuk mengetahui “Daftar Nama Obat Esensial dari World Health Organization”.


Bacaan Lainnya

Pasang iklan gratis di toko pinter

Apakah Anda memiliki sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan?
Pasang iklan & promosikan jualan Anda sekarang juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

Cara daftar pasang iklan gratis

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter

Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai

Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jika Anda mengunduh aplikasi kita!

Siapa bilang mau pintar harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat Anda menjadi lebih smart!

Informasi: Pinter Pandai bukan sebagai pengganti Dokter. Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang / individu berbeda. Selalu konsultasikan ke Dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Sumber bacaan: Health Direct, Very Well Mind, Centers for Disease control and Prevention (CDC), Medline Plus,  Psych Central,

By | 2020-10-18T06:00:03+07:00 Oktober 18th, 2020|Sehat & Cantik|0 Comments

Leave A Comment